KENDHIL WESI DESA BLATER
Toto Endargo
![]() |
Kendhil Wesi dijadikan nama jalan di sebelah lapangan Desa Blater, Kecamatan Kalimanah, Purbalingga |
Layaknya sebuah tempat atau
desa, umumnya mempunyai cerita kuno yang kadang dihubungkan dengan awal mula
berdirinya sebuah desa. Blater juga punya cerita yang dipercaya oleh sebagian
besar warga Desa Blater sebagai cikal bakal berdirinya desa Blater.
Dalam cerita ini akan
disebut berkali-kali nama Kyai Kendhil Wesi. Kyai Kendhil Wesi atau Mbah
Kendhil Wesi adalah nama tokoh yang dikaitkan dengan riwayat Desa Blater. Harap
dimaklumi bahwa sebenarnya nama Kyai Kendhil Wesi telah menjadi legenda di
beberapa wilayah Jawa Tengah. Dan yang terceritakan disini adalah Kyai Kendhil
Wesi legenda Desa Blater, Kecamatan Kalimanah, Kabupaten Purbalingga, Jawa
Tengah.
Konon dahulu ada seorang
sakti bernama Kyai Kendhil Wesi. Sebutan kyai cenderung merujuk kepada seorang
tokoh agama yang disegani, sakti, dan bijaksana. Laki-laki yang suka bertapa
dan berpuasa ini pada akhirnya memiliki kemampuan jauh di atas orang pada
umumnya. Kyai Kendhil Wesi mampu berkomunikasi dengan mahluk di alam gaib dan
dapat pula berkomunikasi dengan hewan peliharaannya.
Perjalanan Kyai Kendhil Wesi
dari tempat asalnya ternyata terpikat dengan alam di lembah Sungai Ponggawa
yang memiliki kontur tanah yang sangat luas dan datar. Ada banyak sungai dengan
air yang jernih. Kyai Kendhil Wesi pun berkenan mukim, membuka perkampungan dan
lahan persawahan. Kyai Kendhil Wesi menjadi cikal bakal Desa Blater.
![]() |
Manuk Puyuh - Bence |
![]() |
Burung Hantu Kecil - Manuk Buek |
Dua burung ini begitu menyatu
dengan Kyai Kendhil Wesi sehingga kemanapun Kyai Kendhil Wesi pergi maka dua
burung ini mengikutinya. Dan tentu saja kombinasi keistimewaan perilaku kedua
burung ini melengkapi kemampuan Kyai Kendhil Wesi dalam kehidupannya
sehari-hari sebagai orang yang sakti.
Kyai Kendhil Wesi secara
penglihatan orang sepertinya hidup sendiri tanpa istri. Namun sesungguhnya Kyai
Kendhil Wesi mempunyai istri dari alam ghaib yaitu Nyai Roro Kidul, dari pantai
selatan. Bukan hal yang mustahil Kyai Kendhil Wesi memiliki istri dari alam
ghaib karena Kyai Kendhil Wesi memang mampu berkomunikasi dengan makhluk alam
ghaib.
Dalam cerita tutur ini
dikisahkan bahwa pada jaman Kyai Kendhil Wesi keadaan wilayah Blater belum
sepenuhnya aman. Masih ada perang antar kadipaten yang satu dengan kadipaten
yang lain. Adalah Kadipaten Alang-alang, adipatinya berperilaku sebagai penjajah,
ingin melebarkan wilayah kekuasaannya, oleh karena itu Kyai Kendhil Wesi harus ikut
menjaga ketentraman wilayah Blater dan sekitarnya.
Hingga pada suatu hari
ketika Kyai Kendhil Wesi berkunjung ke istrinya, Nyai Roro Kidul di Pantai
Selatan ternyata Adipati Alang-alang tahu, dan menjadikannya sebagai saat yang
tepat untuk menyerang Desa Blater, dengan senjatanya yang lengkap ingin
membumihanguskan Desa Blater.
Namun dengan kepekaan dan
kesaktian Kyai Kendhil Wesi sinyal akan rusaknya Desa Blater karena niat jahat Adipati
Alang-alang ini sampai juga kepada Kyai Kendhil Wesi. Segera saja Kyai Kendhil
Wesi memerintahkan kepada kedua hewan kesayangannya yang setia ikut dengan
beliau untuk secepatnya kembali ke Blater. Kedua burung ini harus segera memberitahu
para penduduk desa untuk siaga menghadapi serangan Adipati Alang-alang.
Kedua burung ini sampai di
Blater ketika hari sudah senja. Bagaimana cara memberitahu keadaan bahaya ini
kepada pemuda Blater? Penduduk Blater hanya tahu bahwa Kyai Kendhil Wesi
memiliki dua burung kesayangan, burung hantu dan burung puyuh, tapi mereka
tidak bisa berkomunikasi dengan keduanya. Yang bisa berkomunikasi dengan
burung-burung ini juga hanya Kyai Kendhil Wesi.
Demikianlah kemudian diceritakan selepas senja
berlalu seiring hilangnya warna lembayung di ufuk barat dengan perintah batin
Kyai Kendhil Wesi maka sang burung puek berbunyi berulang-ulang sambil
mengelilingi desa Blater.
“Buek! Buek!” bunyi burung
hantu di pohon rambutan timur desa. Kemudian berbunyi lagi saat hinggap di
pohon albasika di selatan desa. Pindah lagi ke pohon Sengon di utara desa. Dan
hinggap di pohon randu di barat desa. Bahkan hinggap juga di atap rumah Kyai
Kendhil Wesi dan berbunyi berulang-ulang. Penduduk desa mulai bertanya-tanya,
“Kenapa burung buek milik Kyai Kendhil Wesi berbunyi berulang-ulang. Isyarat
apakah ini?”
Bunyi burung buek memang
menyadarkan kaum pria untuk waspada tapi bunyi burung buek bagi anak-anak
sangat menakutkan, dianggap sebagai isyarat bahwa akan ada orang sakit dan tak
terobati. Maka para ibu sibuk menemani anak-anaknya untuk tidur.
Ketika larut malam mulai
hadir di bumi Blater kini giliran burung puyuh yang bertugas menyadarkan para
pemuda. Maka burung puyuh pun masuk ke setiap pekarangan atau halaman rumah
penduduk dan mengeluarkan bunyinya yang khas.
“Chiet!” begitu bunyi burung
puyuh di setiap halaman rumah sampai tengah malam berlalu.
Penduduk desa mulai sadar
bahwa bunyi bence, puyuh jantan, adalah isyarat akan adanya kejahatan di desa
Blater. Maka satu demi satu para pemuda keluar rumah membawa senjata yang
dipunyainya semacam penthung, linggis, benthong, atau sekedar alat pemukul
biasa dan mereka berkumpul di halaman rumah Kyai Kendhil Wesi.
Ketika burung bence tak
berhenti juga berbunyi di pekarangan rumah Kyai Kendhil Wesi penduduk pun
mengambil kesimpulan lagi.
“Mendengar bunyi bence yang
tiada henti ini, pasti yang datang ke desa ini bukan penjahat biasa” kata
seseorang yang dituakan.
“Iya sepertinya bukan
sekedar pencuri!” pendapat orang di sebelahnya.
“Kalau begitu mungkin rampok
dalam jumlah banyak!” kata yang lain.
Setelah berdiskusi sejenak
di tengah udara dingin dini hari seluruh pemuda yang hadir sepakat untuk menyiapkan
segala persenjataan yang ada untuk menghadapi musuh dalam jumlah banyak.
Pertemuan dibubarkan untuk
kembali ke rumah masing-masing mengambil segala senjata untuk perang besar.
Walau belum tahu siapa musuhnya namun semua siap menjaga keamanan dan
kenyamanan desa. Maka ketika berkumpul kembali semua sudah memegang senjata
lengkap. Ada yang memegang gobed, kudhi, keris, pedhang, bandring, panah,
parang sampai pun ada yang membawa bambu runcing. Mereka yang membawa senjata parang
dan pedang adalah mereka yang pernah dilatih olah keprajuritan oleh bebahu
desa.
Saat matahari hampir muncul
di ufuk timur datanglah telik sandi atau
mata-mata yang telah disebar ke seluruh penjuru desa datang dan mengabarkan
bahwa ada sepasukan besar semacam prajurit datang dari arah tenggara menuju
Desa Blater. Kemungkinannya dari Kadipaten Alang-alang.
“Terimakasih Kyai Kendhil
Wesi, kita diberi tahu akan datangnya bahaya besar yang mengintai Desa Blater”
ucap syukur dari bebahu desa.
“Terimakasih pula untuk kedua
burung kesayangan Kyai Kendhil Wesi” kata orang yang sudah cukup tua.
“Kyai Kendhil Wesi saat ini
memang tak bersama kita tapi beliau adalah orang yang akan selalu bersama-sama
kami menjaga Desa Blater dan negara ini agar tetap aman sentausa!” kata seseorang
yang pernah menjadi prajurit di Mataram.
“Adipati Alang-alang
ternyata pengecut, berani menyerang Blater hanya di saat Kyai Kendhil Wesi
sedang bepergian” kata bebahu desa, “Mari kita pertahankan desa kita! Pasang
gelar garuda nglayang!” perintahnya kemudian.
Pasukan Blater menyambut
kedatangan Pasukan Alang-alang dengan gelar Garuda Nglayang. Di bagian tengah
sebagai paruh garuda adalah bebahu desa, sayap kanan dipimpin oleh Karmin yang
pernah menjadi prajurit Mataram, sayap kiri dipimpin oleh Sardu tetua pemuda
desa.
Demikianlah perang besar
antara rakyat Blater dengan Kadipaten Alang-alang akan berlangsung agak jauh di luar desa. Taktik serang di luar desa, menjadikan pasukan
alang alang tidak menyangka bahwa mereka justru terkejut karena sebelum
pasukannya siap menyerang telah keduluan disergap dan dihujani tombak dan
panah. Pasukan Blater tiba-tiba seperti muncul dari balik rumpun tanaman perdu.
Banyak prajurit Alang-alang terluka dan tak mampu berperang lagi.
Dan sebelum matahari setinggi galah Adipati
Alang-alang berteriak lantang memerintahkan pasukannya untuk mundur dan kembali
ke Kadipaten Alang-alang. Mundurlah pasukan Alang-alang dengan membawa seluruh
prajurit yang luka dan gugur. Sementara pasukan Blater dengan bijaksana
membiarkan mereka merawat dan membawa korban perang mereka. Korban perang di
pihak Blater segera dibawa ke halaman rumah Kyai Kendhil Wesi.
Dan betapa kagetnya mereka
ketika sampai di halaman rumah Kyai Kendhil Wesi, ternyata Kyai Kendhil Wesi
sudah berdiri di pendapa dan mempersilahkan semua prajurit untuk istirahat dan
merawat yang sakit. Dari peperangan tadi setelah diperiksa tidak ada satupun
pasukan Blater yang meninggal dunia, mereka hanya sakit karena luka-luka.
Dari peristiwa ini sampai
kini dipercaya bahwa bunyi burung hantu kecil (buek) di awal malam menjadi pertanda
akan datangnya musibah, dan bunyi bence (puyuh jantan) di malam hari menjadi
pertanda datangnya kejahatan.
Kyai Kendhil Wesi pun
seperti hidup sendirian sampai tua di Desa Blater. Istrinya dari Pantai Selatan
Nyai Roro Kidul selalu mendampinginya secara ghaib. Pada akhirnya Kyai Kendhil
Wesi pun meninggal dunia dengan segala ilmu kesaktiannya. Makamnya konon ada di
Dusun Blater Karangmalang, Jika kita mendengar ada orang mau berziarah ke Desa Blater
kemungkinan akan mengunjungi petilasan Kyai Kendhil Wesi. Banyak peziarah yang
konon ingin ngalap berkahnya Kyai Kendhil Wesi dan istrinya Nyai Roro Kidul,
mereka datang dari berbagai penjuru kota.
Untuk mengingat dan menghormati cikal-bakal keberadaan Desa Blater maka jalan melingkar di sebelah Lapangan Desa Blater, dekat Makam Kendhil Wesi diberi nama "Jalan Kendhil Wesi".
Ada cerita yang beredar bahwa "danyang", atau "penghuni" yang ada di makam Kendhil Wesi setiap kali meminjam kendhil (belanga dari tanah liat ada juga yang dari tembaga), ke rumah penduduk di dekat makam. Tengah malam ada suara gemlothak di pedangan (dapur) lalu terdengar suara orang dengan suara lembut, "Nyilih kendhile" yang artinya minta ijin meminjam kendhil. Lalu dijawab pula dengan sopan, "Mangga, mbah!". Dan benar ketika di lihat di dapur kendhilnya tak ada di tempatnya namun di pagi hari kendhilnya sudah ada lagi di tempatnya dengan keadaan kendhil lebih bersih dari awalnya. Rupanya setelah kendhilnya dipakai untuk masak oleh si peminjam kendhil dicuci kembali dengan lebih bersih.
Untuk mengingat dan menghormati cikal-bakal keberadaan Desa Blater maka jalan melingkar di sebelah Lapangan Desa Blater, dekat Makam Kendhil Wesi diberi nama "Jalan Kendhil Wesi".
![]() |
Kendhil Tembaga |
Demikianlah yang dapat saya
sari ceritakan dari budaya tutur yang ada di Desa Blater, Kecamatan Kalimanah,
Kabupaten Purbalingga. Jika cerita ini tak seperti yang pernah Anda dengar, penulis mohon maaf sebesar-besarnya.
Semoga bermanfaat.
Semoga bermanfaat.
Itu komplek mana makamnya
BalasHapus