Minggu, 04 Desember 2016

JALAN DAN MONUMEN A.W. SOEMARMO

JALAN DAN MONUMEN A.W. SOEMARMO
Toto Endargo

Jalan dan Monumen A.W. Soemarmo sebagai judul tulisan. Disini akan dibicarakan serba sedikit tentang jalan dan monumen yang mengambil nama A.W. Soemarmo. Semoga tulisan ini dapat menambah pengetahuan tentang salah satu tokoh Purbalingga yang bernama Soemarmo.
Di wilayah Dukuh Sayangan, atau wilayah Dukuh Serang, Kelurahan Purbalingga Lor ada patung knalpot, berdiri di tengah pertigaan. Jalan di depan patung knalpot itu, yang menjulur ke utara, yang menuju ke arah Bobotsari itulah Jalan A.W. Sumarmo. Panjangnya cukup jauh, yaitu dari Patung Knalpot, wilayah Serang sampai ke batas kota, sekitar Sungai Kajar, menjelang  masuk Desa Brobot. Knalpot adalah salah satu komoditas atau produk potensial sub sektor perindustrian di Purbalingga. Jalan A,W, Soemarmo berada disekitar Kembaran Kulon, Sirongge, dan menjelang Desa Brobot. Siapakah A.W. Soemarmo? Kenapa diberi kehormatan menjadi nama jalan?

Kamis, 24 November 2016

BUKU ONCEN-ONCEN ANYAR

BUKU ONCEN-ONCEN ANYAR
Toto Endargo

Sekitar tahun 1962-1968 saya duduk di bangku kelas I SR sampai kelas VI SD. Kelas I, sekolahan saya di Dusun Tjitrakusuma, atau disebut sebagai Traksuma. Namanya masih Sekolah Rakyat. Diajar masih menggunakan sabak dan grip. Sabak dan grip berwarna hitam, konon dibuat dari serpihan batu yang dipadatkan. Sabak berbingkai kayu. grip adalah alat tulis semacam pensil.
Kelas II.
Di kelas II ini sekolahan yang di Citrakusuma ditinggalkan. Pindah ke sekolah baru yang ada di tepi lapangan, di dekat Dusun Jambangan dan di tepi jalan yang menuju dusun Serang. Sebelah utara sekolahan adalah gudang mbako, milik PT GMIT (Gading Mas Indonesian Tobacco). Setiap hari sebagai bahasa pengantarnya adalah bahasa Jawa, ngoko diselingi krama. Meja di kelas baru sudah menggunakan meja dan kursi yang terpisah. Di Citrakusuma bangkunya pakai meja gandheng.

Selasa, 22 November 2016

STAMBUL DANGDUT

STAMBUL DANGDUT
Toto Endargo

He, he, ini jelas judul dan istilah “ngawur” dari seorang Toto Endargo. Hanya sekedar nulis dan semoga bermanfaat. Tulisan ini berawal dari ketika saya menyimak lagu Kembang Kacang dari penyanyi Waljinah. Ternyata ketika Waljinah menyanyi, sebelum sampai kepada pokok lagu Kembang Kacang ia mengawali dengan nyanyian yang disebut bawa, liriknya “Aja Turu Sore, Kaki!”
“Aja Turu Sore, Kaki!” lagunya mendayu-dayu, enak dinikmati. Dan liriknya juga luar biasa, mengandung falsafah supaya kita selalu waspada, prihatin, dan bersyukur dalam segala suasana. Dengan sikap tersebut insya Allah kita mendapatkan berkah karunia kebahagiaan, dihindarkan dari mara bahaya dan mendapat kecukupan sandang dan pangan.
Lengkapnya demikian:
Aja turu sore, Kaki!
Ana dewa langlang jagad;
nyangking bokor kencanane;
isine donga tetulak,
sandhang lawan pangan;
yaiku bagianipun,
wong melek, sabar, narima.

Sabtu, 19 November 2016

JATISABA NAN KLASIK

JATISABA NAN KLASIK
Toto Endargo

Naskah awal dari Mas Anifuddin Azis
Kisah Klasik untuk Masa Depan (1)
   Copas: 26 April 2010 Jam 19:13

    SMP Negeri 2 Purbalingga, Jatisaba, akhir tahun 1990.
Jatisaba! Nama sebuah desa yang terasa asing dan mungkin karena letaknya yang terasa jauh sekali. Iya, Jatisaba! Kata “jati” saja sudah merujuk pada kata yang umum dihubungkan dengan hutan jati. Mungkinkah Desa Jatisaba banyak pohon jatinya? Sebuah angan-angan di benakku. Lalu ada kata “saba”, saba dalam bahasa Banyumas berarti; “pergi ke segala arah yang tak jelas untuk mencari sesuatu”. Jadi ketika menyebut nama Desa Jatisaba maka bayangan saya adalah sebuah desa yang sangat jauh dan masih banyak pohonnya seperti hutan jati.
Jatisaba, adalah nama desa dimana saya harus sekolah saat di kelas dua. Untuk diketahui bahwa SMP Negeri 2 Purbalingga punya kelas jauh, artinya kelas yang tidak menyatu dengan kelas induknya, tidak di Jalan Letkol Isdiman 194 Purbalingga, tapi letak kelasnya di Desa Jatisaba. Tradisinya yang diatur untuk diajar di kelas jauh adalah mereka yang duduk di kelas dua. Kelas satu dan kelas tiga tetap di sekolah induk.

Kamis, 17 November 2016

MEMILIH LAGU “SEMPURNA”

Cerita Remaja
MEMILIH LAGU “SEMPURNA”
Toto Endargo

Orang kalau suka, yang biasapun manjadi luar biasa, yang tak sempurna harus pula kukatakan sempurna. Gadis kuning langsat berambut sepinggang ini sungguh mengagumkan. Ubo rampe atau hal-hal yang ada di wajahnya semua serba sederhana. Hidung tak mancung, bibir juga wajar. Dan aku sungguh mengagumi pipinya yang tampak halus, dan pipinya sebagian dihiasi oleh rambut lembut di sekitar depan telinganya. Ada gerai rambut yang sedikit berombak dan menjambul di atas dahinya. Rasanya semua serba serasi. Sempurna!
Kinanti kaulah gadis paling kukagumi di sekolah kita yang tercinta ini. Gadis yang tidak banyak tingkah tapi prestasi akademisnya mampu mengalahkan aku. Tidak suka olah raga namun semua jenis olahraga yang diajarkan di sekolah ia mampu menghayatinya dengan baik.

Senin, 07 November 2016

SURYATI SINDEN BLATER

SURYATI SINDEN BLATER
Toto Endargo

Suryati Sinden Blater
Inilah salah satu ikon desa yang pernah mengharumkan nama daerah dengan sesuatu yang khas. Suryati Sinden Blater tiga kata yang menjadi judul tulisan ini. Tiga kata yang tiap kata memiliki makna berbeda namun ketika digabungkan memiliki suratan dan siratan sebagai Legenda Desa Blater.
Kata pertama: Suryati.
Suryati, kata yang diambil dari bahasa Jawa dan umum dijadikan sebagai nama orang. Surya artinya “matahari”, sedang akhiran “ti” adalah kata penyebut yang merujuk pada kaum wanita. Jadi ada wanita yang bernama Suryati dan diharapkan pada saatnya dapat bersinar bagai matahari.
Ada kebiasaan di Banyumas untuk memanggil nama seorang anak. Umumnya panggilan diambil dari suku awal atau suku terakhir dari nama yang bersangkutan. Misal Suryati, dapat dipanggil “Sur” atau dipanggil “Ti”. Untuk panggilan dengan suku kata awal kadang diberi kata sandang “Si” sehingga Suryati dapat pula dipanggil dengan nama “Si Sur”. Dan memang pada kenyataannya Suryati ini sering dipanggil dengan nama Si Sur.
Nama Suryati, jika diambil suku kata pertama akan didapat kata “sur”, dalam bahasa Banyumas “sur” memiliki makna khusus yaitu “diperbesar”, misal; “Tulung, genine desur!” artinya, “Tolong, apinya diperbesar!” Jadi Si Sur ini pada saatnya seperti ditakdirkan untuk didorong oleh keadaan agar bakat dan kemampuannya menjadi besar, menjadi lebih mengangkasa dan terkenal.

Senin, 24 Oktober 2016

KETIKA KAU TERLUKA

Cerita Remaja
KETIKA KAU TERLUKA
Toto Endargo

“Aku tidak suka!” gerutu Brama dengan geram. Perasaannya tersinggung. Cinta membuatnya cemburu. Dadanya bergolak dan membuat ia seakan sulit bernafas. “Tidak boleh kubiarkan! Harus kuurus sebelum berlanjut”.

SMP Negeri 2 Purbalingga, Maret 2003.
Sore itu langit begitu cerah.
Musim hujan sudah mulai reda. Mungkin kemarau segera akan datang kembali. Bulan Maret, bulan dimana hujan mulai seret. Di jalan Letkol Isdiman berjalan dua remaja putri, Wilis dan Wangi. Keduanya cantik.
Cantik menurut ukuran Brama. Bukankah cantik itu relatif? Tiap orang punya pandangan sendiri-sendiri. Yang cantik buat Brama belum tentu cantik buat orang lain, begitupun sebaliknya. Tapi rasanya bukan hanya Brama saja yang mengakui kecantikan Wilis.  Semua akan setuju bahwa Wilis cantik. Pak Toto juga pernah berkata bahwa Wilis cantik, padahal Pak Toto jarang sekali mengatakan seseorang itu cantik. Jadi pendapat Pak Toto dapat dijadikan pedoman bahwa kecantikan Wilis bersifat obyektif. He, he!

Sabtu, 22 Oktober 2016

KENDHIL WESI DESA BLATER

KENDHIL WESI DESA BLATER
Toto Endargo

Kendhil Wesi dijadikan nama jalan di sebelah lapangan Desa Blater,
Kecamatan Kalimanah, Purbalingga
Blater adalah nama sebuah desa di Kecamatan Kalimanah, Kabupaten Purbalingga, Jawa Tengah. Kata “blater” menurut bahasa Banyumasan memiliki makna: ramai, ceriwis atau banyak omong. Perilaku banyak omong bisa bermakna grapyak–semanak, ramah, suka menyapa dan suka bersaudara. Jadi blater adalah kata untuk mengungkapan perilaku positif dalam pergaulan. Di daerah lain kata blater bisa mempunyai makna yang lain.
Layaknya sebuah tempat atau desa, umumnya mempunyai cerita kuno yang kadang dihubungkan dengan awal mula berdirinya sebuah desa. Blater juga punya cerita yang dipercaya oleh sebagian besar warga Desa Blater sebagai cikal bakal berdirinya desa Blater.

Selasa, 09 Agustus 2016

HARUS AKU

Cerita Remaja
HARUS AKU
Oleh: Toto Endargo
Serambi kelas menjadi meriah saat kelompok Indra memenuhi bagian sekolah yang sempit itu. Serambi kelas adalah emperan panjang di depan kelas. Jika lengang di serampi kelas ini akan terlihat jajaran tiang besi bulat penyangga emperan rapi bagaikan garis-garis matematika di saat membicarakan garis sejajar.
Sementara ada bangku kayu panjang tempat enam atau tujuh anak duduk bercengkerama, duduk berjajar, ada di depan setiap kelas. Pemandangan yang mengesankan!
“Tolak dia!“ kata Siska Saridevi kepada Indra Jatmiko. Indra  menggelengkan kepala, tidak menyangka bahwa Siska tergolong wanita yang cukup keras dalam bersikap.
“Kenapa harus ditolak?” tanya Indra  pelahan, “Bukankah kita, semuanya punya hak yang sama untuk berkreasi!” kata Indra selanjutnya.
“Iya! Tapi kau sebagai ketua kelas, juga punya hak untuk menolak dan menerima naskah yang pantas!“ sergah Siska sewot.

Rabu, 03 Agustus 2016

Curug dan Situs di Cipaku

Potensi Tempat Wisata

Wisata Air Terjun dan Situs Sejarah di Desa Cipaku
Toto Endargo

Pada masa liburan kita cenderung ingin berwisata. Ada tempat yang cukup mengesankan untuk mengisi hari libur, khususnya bagi remaja Purbalingga, tempat yang sejuk, teduh, dan berlatar belakang air. Ada beberapa tempat yang memiliki keunikan masing-masing dan berada pada satu jalur. Semua masih berada di wilayah Desa Cipaku, Kecamatan Mrebet, Purbalingga. Berminat?

Pertama.
Curug Nini. Kini air terjun nan sejuk ini disebut dengan sebutan yang keliru Curug Mini, menurut penduduk Cipaku, yang benar adalah “Curug Nini”. Air terjun pada sebuah kolam yang cukup luas, ada mata air besar di dasar tebing, sehingga kolam ini belum pernah kering. Tinggi air terjun hanya sekitar 10 meter, bagian dari hulu sungai Pingen. Air dibendung untuk irigasi. Berada di perbatasan Desa Pagerandong dan Desa Cipaku. Dapat ditempuh dari dua arah. Namun untuk kelancaran wisata selanjutnya sebaiknya ke Curug Nini lewat Pasar Karangnangka ke arah barat, sekitar tiga kilometer. Jika telah sampai di Balai Desa Cipaku, ada dua obyek yang cukup berdekatan. Lewat jalan tanah, kalau ke kanan, berarti ke Curug Nini, hanya sekitar 200 meter. Kolam Curug Nini dikelilingi banyak pohon pandan, dan di apit oleh bukit-bukit yang berpohon rindang. Tiap bukit terdapat jalan setapak yang berliku-liku. Pengunjung dapat bercengkerama di tengah dan di tepian sungai yang permukaannya kering. Bagi anak-anak bisa bermain air yang sejuk dan bening. Anak desa biasa terjun dari tebing curug ke kolam utama.