Selasa, 15 April 2014

CATATAN DARI CIREBON – SEGI 8


CATATAN DARI CIREBON – SEGI 8
Toto Endargo

Hal yang mengasyikan!
Tertarik pada sebuah sudut bangunan kuno adalah salah satu langkah untuk menikmati karya seni budaya nenek moyang. Dengan fasilitas teknologi, bahan, dan alat yang pasti masih sangat terbatas ternyata dapat menghasilkan karya seni yang mengagumkan.
Karena ke keraton maka yang dilihat adalah bangunan istana, rumah kediaman raja. Bangunan megah di Jawa cenderung disebut sebagai “rumah tikelan” artinya pada bangunan tersebut terdapat pemasangan balok kayu yang bertingkat (tikel = tingkat). Umumnya rumah tikelan adalah bentuk joglo.
Ada empat bangunan yang sempat teramati dan dapat digunakan untuk mengambil kesimpulan bahwa ciri khas puncak tiang pada bangunan di Cirebon adalah Bintang Segi Delapan.

Minggu, 13 April 2014

CATATAN DARI CIREBON - MEGA

CATATAN DARI CIREBON - MEGA
toto endargo

Alam memberi inspirasi kepada manusia untuk membuat karya seni rupa dengan motif-motif yang khas. Awan di langit biru dituangkan dalam lukisan bahkan ukiran dan relief. Motif awan atau mega sangat populer di Cirebon. Dapat dikatakan motif mega sejak dahulu menjadi ciri khas, identitas Cirebon. Motif awan Cirebon berbeda dengan motif awan dari China. Motif awan dari China tekukan garisnya membentuk sudut 90 derajat. Perhatikan keberadaan motif mega yang ada di beberapa tempat berikut ini;

Di Keraton Kasepuhan
Keraton Kasepuhan Cirebon atau Keraton Pakungwati, dari sinilah mungkin cikal bakal motif awan menjadi identitas Kota Cirebon. 
Keraton sebagai pusat pemerintahan, pusat budaya, pusat adat istiadat, maka wajar menjadi sumber inspirasi bagi rakyatnya para seniman. Perhatikan puncak gapura di depan pendapa, relief hiasan di atap Keraton, nyata dihias dengan motif awan khas Cirebon. Bahkan di pangkal pilar gapura dihias motif awan pula. Jika keraton ini dibangun pada sekitar tahun 1452 M maka sudah sekitar enam abad keberadaan motif awan di Keraton Kasepuhan Cirebon ini.

Senin, 10 Maret 2014

WANGSALAN BANYUMASAN



WANGSALAN LOKAL
toto endargo

Masyarakat Jawa memiliki kekayaan budaya, bahasa dan sastra yang cukup luas jangkauan pengaruhnya. Banyak yang memperhatikannya, baik secara ilmiah maupun non ilmiah. Mereka menikmati, bahkan kadang ingin memilikinya. Seharusnya setiap warga Jawa punya kehendak untuk melestarikan secara positif budaya sastra warisan para leluhurnya.
Para pecinta Bahasa Jawa, terutama Guru Bahasa Jawa, tentu sudah sangat paham dengan kata pertama dari judul tulisan ini; “Wangsalan!”
Wangsalan adalah bentuk sastra tutur, semacam pantun yang menggunakan kata-kata sebagai teka-teki pada sampiran, dan pada akhirnya akan dijawab sendiri untuk membentuk isi. Kata-kata yang digunakan tidak sama persis namun sangat mirip.

Selasa, 04 Maret 2014

SWASANA SALIN SWARA



SWASANA SALIN SWARA
Toto Endargo, S.IP

"Hemat penulis Swasana Salin Swara ini belum dibahas secara mendalam apalagi diajarkan dalam pengajaran bahasa. Semoga tulisan ini dapat menjadi tambahan pengetahuan bagi praktisi dan penikmat bahasa, khususnya Bahasa Banyumasan"

 Bahasa Banyumas itu ternyata unik. Walau terasa terlalu gegabah mengatakan sebuah kata sebagai kata asli dari Banyumas, tak apalah setidaknya kata-kata yang akan penulis bicarakan telah dipakai sejak lama di wilayah Banyumas.
Dalam Bahasa Inggris ada istilah “irregular verb” yang umumnya dikatakan sebagai kata kerja tak beraturan. Perubahan kata kerja dalam suatu kalimat tergantung dari tenses (bentuk kalimat berdasarkan waktu yang digunakan). Waktu akan menentukan apakah yang dipakai adakah kata kerja bentuk pertama atau dasar (base verb), bentuk kedua (past), atau bentuk ketiga (past participle). Kata kerja bentuk pertama, bentuk kedua, dan bentuk ketiga tidak sama. Sekedar contoh “take” bentuk keduanya menjadi “took” dan bentuk ketiganya menjadi “taken”. Ketiga-tiganya mempunyai arti yang sama yaitu: mengambil. Kata arise (infinitife), arose (preterite) dan arisen (past participle), artinya sama yaitu: terbit

Sabtu, 01 Maret 2014

BIMBANG KADO



BIMBANG KADO
Pagu Rutoto

Percaya tidak?
Aku sedang memikirkan tentang kado. Kado untuk teman istimewaku. Aku menyebutnya teman istimewa. Soalnya hari-hariku kini terisi oleh bayang-bayangnya. Ya! Ia akan ulang tahun. Aku bingung, kado apa yang akan kuberikan padanya. Kenapa harus bingung?
Mungkinkah aku sedang jatuh cinta?

Jumat, 28 Februari 2014

ELING-ELING – BANYUMASAN



Eling-eling – Banyumasan
Nyi Sugino Siswocarito



Sapa ngira, nduwur embok kelingan
E-manungsa urip neng alam dunya
Enggane sing penting, sing sabar narima
Sregep, sing eling, lan waspadha

Padha ngetan, grumbul endhas seumah
E-manungsa urip neng alam dunya
Enggane, begjane sing sabar narima
Rika kudu eling, lan waspadha

Selasa, 31 Desember 2013

MARS SMP DUA PURBALINGGA

MARS SMP DUA PURBALINGGA
Karya: Wahjo Soesapto, Bc. Hk.

C                                                     G
Kami pelajar SMP Dua Purbalingga

Berjuang sekuat tenaga
                                                  C
Berjuang ‘tuk mencapai cita-cita

C                                     C7              F
Majulah pelajar putera-puteri SMP Dua
                                    C
Belajar belajarlah tuntut ilmu
                       G          C                        
Berlandaskan Pancasila

            F
Amalkanlah baktimu
                   C
Membangun negara kita
               G                   C
Mencapai Indonesia Jaya





Ke: Mars SMP 2 Purbalingga

Jumat, 29 November 2013

DHANDHANGGULA – DHEDHEP TIDHEM


Dhandhanggula – Dhedhep Tidhem
Saking Ki Sugino Siswocarito

Dhedhep tidhem prabawaning ratri
Sasadara wus manjer kawuryan
Tan kuciwa memanise
Menggep srinateng ndalu
Siniwaka sanggya pra dhasih
Angglar neng cakrawala
Winulat ngelangut
Prandene paksa kebegan
Saking kehing taranggana kang sumiwi
Warata tanpa sela


Klik dumugi: Dhandhanggula – Dhedhep Tidhem


Terjemahan bebas:
Sunyi senyap karena pengaruh malam
Rembulan sudah tampak berpendar
Tidak mengecewakan keelokannya
Bagaikan sang raja malam
Hadir di hadapannya seluruh para kawula
Tergelar di cakrawala
Terlihat menerawang jauh
Namun demikian masih terasa sesak
Sebab banyaknya bintang yang menghadap
Merata rapat tiada berjarak

Rabu, 27 November 2013

GENDHING WITING KLAPA

Gendhing Witing Klapa
Saking Ringgit: Ki Sugino Siswocarito


Witing klapa jawata ing ngarcapadha
Salugune wong wanita
Dasar nyata kula sampun njajah praja
Ing Ngayogya - Surakarta

Sekar kawis, cinawis sekar melati
Dasar manis merak ati
Aduh Gusti sun rewangi pati geni
Pitung dina, pitung bengi




Klik dhateng: Gendhing Witing Klapa


Wangsalan:
Kalimat yang mengandung tebakan, jawaban tebakan akan menjadi akar kata dari kata yang sesungguhnya diinginkan.
Witing klapa = Batang kelapa, namanya “glugu” kata ini untuk membentuk kata “salugune”
Jawata ing ngarcapadha = Dewa di bumi, namanya orang atau “wong” untuk kata "wong"
Salugune wong wanita

Parikan
Sekar kawis = Bunga pohon Kawis -- bersajak dengan kata “dasar manis”
Cinawis sekar melati = disajikan bunga Melati --- bersajak dengan kata “merak ati”

Catatan:
Sebuah lirik yang menceriterakan tentang kekaguman seorang lelaki terhadap seorang perempuan
Ia sudah pergi menjelajahi dua negeri namun hanya satu wanita yang paling menawan
Ia rela berprihatin selama tujuh hari tujuh malam agar tercapai hasrat hatinya.

Terjemahan bebas:

Witing klapa, jawata ing ngarcapadha
Sesunguhnyalah seorang perempuan
(yang sangat menawan)
Memang benar saya sudah menjelajahi negara
Negeri Yogyakarta  dan Surakarta
(namun tidak juga bertemu dengan wanita semenawan dia)

Sekar kawis, cinawis sekar melati
Dasar manis, menarik hati
Aduh Gusti, saya rela tidak makan tidak minum
Selama tujuh hari, tujuh malam




Jumat, 18 Oktober 2013

ILOGONDHANG BANYUMASAN

Gendhing Ki Nartosabdo
Sindhen: Nyi Suryati - Blater


ILOGONDHANG BANYUMASAN
toto endargo



Kadhar pira wong lanang sing rosa nggender
Esuk nggender, sore nggender
Bubar nggender kethewer-thewer

Kadhar pira wong lanang sing rosa, rosa ngendhang
Esuk ngendang, sore ngendhang
Bubar ngendhang kecemplung blumbang