![]() |
| Pertempuran di Kucel, Mangunegara - Toto Endargo - Foto AI |
Oleh: Toto Endargo
Ada sebuah tempat yang barangkali nyaris tidak dikenal dalam peta sejarah perjuangan mempertahankan kemerdekaan di Purbalingga. Namanya Kucel, sebuah bukit kecil di wilayah Mangunegara, di sebelah selatan Jembatan Sungai Pingen, yang mengapit jalan raya Bobotsari–Purbalingga.
Kini tempat itu mungkin hanya dipandang sebagai bagian dari bentang jalan biasa. Namun dahulu Kucel merupakan kawasan yang sangat berbeda. Di kanan dan kiri jalan terdapat tebing dengan ketinggian sekitar sepuluh meter. Pepohonan tumbuh sangat rimbun, menyerupai hutan kecil. Jalan yang melintas di antara dua tebing itu menciptakan sebuah celah strategis—tempat yang sangat memungkinkan digunakan untuk menghadang pergerakan pasukan yang melintas.
Dari penuturan sejumlah pelaku dan tokoh masyarakat, Kucel bahkan beberapa kali menjadi tempat penghadangan terhadap pasukan Belanda.
Jejak Brigade 8 di Kertanegara
Salah satu petunjuk penting mengenai keberadaan pasukan TNI di kawasan sekitar Purbalingga bagian utara berasal dari buku Sejarah Militer Korem 071 Wijayakusuma - 1970
Dalam buku tersebut disebutkan bahwa karena pasukan Belanda sedemikian terkurung di kota-kota, Pos Komando Brigade 8 kemudian dapat leluasa bermarkas di Kertanegara, sekitar enam kilometer di sebelah timur laut Kota Purbalingga.
Keterangan ini menarik karena menjadi salah satu informasi tertulis mengenai keberadaan markas TNI di Kertanegara pada masa perjuangan mempertahankan kemerdekaan.
Pada saat itu Kertanegara diperkirakan masih memiliki kedudukan sebagai kota kawedanan. Mengenai status Kertanegara sebagai kota kawedanan, bukti tertulis yang ada pada saat ini antara lain berupa surat yang ditandatangani oleh seorang Wedana Kertanegara. Namun, penelitian lebih lanjut masih diperlukan untuk memastikan secara kronologis kedudukan administratif Kertanegara pada masa tersebut.
Keberadaan markas Brigade 8 di Kertanegara menjadi penting ketika dibandingkan dengan rangkaian pertempuran yang terjadi di wilayah Purbalingga pada awal 1949.
Menurut data yang disampaikan Bapak Pudjadi Djaring Bandajuda dari Dinas Arsip dan Perpustakaan Daerah Kabupaten Banyumas, terdapat beberapa kegiatan pasukan TNI di kawasan Purbalingga, antara lain:
· Markas Brigade pimpinan Letkol Bahrun berada di Desa Makam, Kecamatan Rembang, Purbalingga.
· 25 Desember 1948, pasukan menghadapi Belanda di Kertanegara, Bobotsari.
· 1 Maret 1949, terjadi pertempuran di Kalongan, Bumisari. Dua anggota pasukan TNI, Duryat dan Wajiman, mengalami luka berat.
· 2 Maret 1949, pasukan TNI menyerang Bobotsari pada sore hari.
· 5 Maret 1949, Seksi II mencegat patroli Belanda di Desa Serayu, Mrebet.
· 7 Maret 1949, pada Senen Wage sore hari, pasukan kembali menyerang Bobotsari.
· 9 Mei 1949, dilakukan pencegatan di sepanjang jalan Bobotsari–Purbalingga di Pagutan. Rencana tersebut diketahui mata-mata sehingga pasukan TNI kemudian dihujani tembakan mortir.
Rangkaian peristiwa tersebut menunjukkan bahwa kawasan Bobotsari dan jalur Bobotsari–Purbalingga bukanlah wilayah yang tenang pada masa itu. Jalan raya menjadi salah satu jalur penting pergerakan pasukan Belanda, sekaligus menjadi ruang bagi pasukan TNI untuk melakukan penghadangan dan serangan secara tiba-tiba.
Di sinilah posisi Kucel menjadi menarik.
![]() |
| Kang Tirtamedja 2016 - Foto Toto Endargo |
Kesaksian Kang Tirtameja
Ada sebuah kesaksian lisan yang memberikan gambaran mengenai bagaimana sebuah operasi pasukan TNI berlangsung di kawasan tersebut.
Kesaksian itu berasal dari Kang Tirtameja, yang ketika peristiwa berlangsung masih berusia sekitar 16 tahun.
Pada suatu hari, ketika sedang berada di Desa Pesawahan, Kang Tirtameja tiba-tiba melihat sejumlah prajurit TNI berjalan berbondong-bondong menuju arah barat.
Salah seorang prajurit kemudian memintanya membantu membawa dua buah senjata.
Sebagai seorang pemuda berusia sekitar 16 tahun, permintaan tersebut tentu merupakan pengalaman yang tidak biasa. Kang Tirtameja bersedia. Ia kemudian berjalan bersama barisan prajurit TNI tersebut. Dari Pesawahan, perjalanan pasukan itu menuju arah barat.
Jika direkonstruksi berdasarkan kondisi geografis wilayah tersebut, ada kemungkinan pasukan itu datang dari kawasan Kertanegara dan bergerak melalui jalur pegunungan Bukit Segarawurung, kemudian melewati persawahan dan tepian Sungai Klawing. Diperkirakan telah melalui Margasana, Kaliori, Tangkisan, Onje, hingga tiba di dusun Pesawahan. Dari Pesawahan, rombongan kemudian bergerak menuju wilayah Citrakusuma dan Mangunegara.
Di sinilah kesaksian Kang Tirtameja menjadi semakin menarik.
Menunggu di Balik Tebing Kucel
Sesampainya di kawasan Kucel, pasukan TNI tidak langsung meneruskan perjalanan.
Mereka justru menyeberang menuju sisi barat jalan raya.
Pasukan kemudian menempatkan diri di balik tebing dan menunggu.
Situasi tersebut memberi gambaran bahwa mereka memang sedang mempersiapkan sebuah penyergapan.
Tidak lama kemudian terdengar dan terlihat kendaraan yang bergerak dari arah utara. Beberapa truk pasukan Belanda melintas di jalan raya.
Pasukan TNI kemudian melakukan serangan dari atas tebing sebelah barat jalan.
Posisi Kucel memang sangat memungkinkan untuk melakukan taktik semacam itu. Jalan raya berada di antara tebing yang cukup tinggi, sementara pepohonan yang dahulu sangat rimbun memberikan perlindungan bagi pasukan yang berada di atasnya.
Serangan mendadak dari tempat yang tersembunyi merupakan salah satu cara yang masuk akal dilakukan pasukan yang tidak memiliki kekuatan terbuka sebesar pasukan lawan.
Namun, jumlah pasukan Belanda ternyata cukup banyak.
Setelah melakukan serangan, pasukan TNI kemudian menghindar dan mundur menuju wilayah Dukuh Karanggude.
Kang Tirtameja masih bersama mereka.
Setelah malam tiba, ia kemudian diperbolehkan kembali ke rumahnya di Pesawahan.
Puluhan tahun kemudian, sekitar tahun 1968, Kang Tirtameja masih menceritakan kembali pengalaman tersebut. Diulang lagi cerita itu di tahun 2016. Kesaksian semacam ini penting karena memberikan gambaran manusiawi mengenai bagaimana masyarakat sipil—terutama pemuda—secara langsung bersentuhan dengan perjuangan bersenjata pada masa itu.
Ia bukan seorang tentara. Ia hanya seorang pemuda berusia sekitar 16 tahun yang kebetulan berada di sebuah desa ketika pasukan TNI datang.
Namun pada hari itu ia membawa dua senjata dan berjalan bersama mereka menuju sebuah tempat yang kemudian dikenalnya sebagai kawasan pertempuran.
Apakah Pertempuran Kucel Terjadi pada 1948 atau 1949?
Pertanyaan ini belum dapat dijawab secara pasti.
Justru di sinilah penelitian sejarah lokal harus berhati-hati.
Data tertulis yang ada memberikan beberapa titik waktu yang dapat digunakan sebagai pembanding. Pertempuran Kertanegara tercatat pada 25 Desember 1948, sementara aktivitas pasukan TNI di Bobotsari dan jalur sekitarnya kembali tercatat pada Maret hingga Mei 1949.
Sementara itu, kesaksian Kang Tirtameja memberikan gambaran mengenai sebuah penyergapan terhadap truk pasukan Belanda di Kucel.
Belum ditemukan dokumen tertulis yang secara eksplisit menyebut:
“Pertempuran terjadi di Kucel, Mangunegara, di sebelah selatan Jembatan Sungai Pingen.”
Karena itu, belum tepat apabila peristiwa tersebut langsung diberi tanggal tertentu sebagai sebuah fakta sejarah.
Namun, secara geografis dan berdasarkan rangkaian operasi TNI di kawasan Bobotsari–Purbalingga, dugaan tersebut memiliki dasar yang cukup kuat untuk diteliti lebih lanjut.
Kucel berada pada jalur yang sangat strategis. Kawasan Kertanegara, Bobotsari, Mrebet, Purbalingga dan jalur menuju wilayah selatan saling terhubung. Apabila Brigade 8 memang bermarkas di Kertanegara, pergerakan pasukan menuju kawasan selatan melalui jalur-jalur pedesaan dan tepian Sungai Klawing sangat mungkin terjadi.
Dengan demikian, Kucel dapat dipandang sebagai salah satu titik yang secara taktis masuk akal untuk digunakan sebagai tempat penghadangan.
Bukan Sekadar Satu Pertempuran
Keterangan lain semakin menarik perhatian terhadap Kucel.
Tokoh Purbalingga, Bapak Tri Daya Kartika (Alm), pernah menyampaikan bahwa Kucel merupakan kawasan yang sering menjadi daerah pertempuran karena posisi geografisnya yang strategis.
Bahkan pernah muncul gagasan agar di tempat tersebut didirikan Monumen Perjuangan.
Gagasan itu sesungguhnya memiliki makna lebih besar daripada sekadar mendirikan sebuah bangunan peringatan.
Monumen diperlukan ketika sebuah tempat memiliki cerita yang layak diwariskan.
Kucel mungkin bukan medan pertempuran besar seperti yang sering ditulis dalam sejarah nasional. Tidak ada peristiwa besar yang kemudian tercatat dalam buku-buku sejarah Indonesia.
Tetapi perjuangan mempertahankan kemerdekaan memang tidak hanya berlangsung dalam pertempuran besar.
Ia juga berlangsung di jalan-jalan desa.
Di persawahan.
Di pinggir sungai.
Di balik tebing.
Dan di tempat-tempat kecil seperti Kucel.
Pasukan TNI bergerak dari satu tempat ke tempat lain. Mereka bersembunyi, menunggu patroli lawan, melakukan penghadangan, menyerang, kemudian mundur ketika kekuatan musuh terlalu besar.
Masyarakat setempat ikut menyaksikan, membantu, bahkan kadang-kadang terseret langsung ke dalam peristiwa tersebut.
Kang Tirtameja adalah salah satu contoh kecil dari pengalaman itu.
Kucel dan Ingatan Sejarah Lokal
Hari ini mungkin sulit membayangkan keadaan Kucel pada masa itu.
Jalan raya telah berubah. Pepohonan yang dahulu rimbun telah sangat berkurang. Tebing yang dahulu menjadi perlindungan pasukan tidak lagi tampak seperti dahulu, bahkan sebelah timur jalan sudah banyak dikepras, diratakan.
Tetapi lanskap sebenarnya masih menyimpan petunjuk.
Sebuah bukit kecil.
Dua tebing.
Sebuah jalan raya.
Jembatan Sungai Pingen.
Dan cerita orang-orang yang pernah melihat pasukan TNI bergerak menuju tempat tersebut.
Sejarah tidak selalu hadir dalam bentuk dokumen resmi.
Kadang-kadang ia tersimpan dalam ingatan seseorang yang ketika itu masih berusia 16 tahun.
Karena itu, kesaksian Kang Tirtameja patut ditempatkan sebagai bagian dari sejarah lisan perjuangan mempertahankan kemerdekaan di Purbalingga.
===
Kesaksian tersebut memang belum cukup untuk menetapkan secara definitif tanggal dan satuan pasukan yang terlibat dalam pertempuran Kucel.
Namun ia memberikan sebuah petunjuk penting: bahwa kawasan Kucel bukan sekadar nama tempat di jalan Bobotsari–Purbalingga.
Tempat itu pernah menjadi bagian dari ruang perjuangan.
Dan bahwa Kucel berkali-kali digunakan sebagai tempat penghadangan pasukan Belanda, maka bukit kecil tersebut sesungguhnya menyimpan sejarah yang jauh lebih besar daripada ukuran fisiknya.
Kucel mungkin kecil di peta, tetapi besar dalam ingatan perjuangan masyarakat Purbalingga.
Karena itu, sebelum ingatan tersebut hilang bersama generasi yang mengalaminya, kesaksian-kesaksian mengenai Kucel perlu dikumpulkan, perlu dibandingkan dengan arsip TNI, laporan Belanda, peta lama, serta kesaksian masyarakat di Mangunegara, Pesawahan, Karanggude, Kertanegara, Bobotsari dan desa-desa di sepanjang jalur tersebut.
Barangkali dari potongan-potongan kecil itulah kelak kita dapat menemukan gambaran yang lebih utuh mengenai Pertempuran Kucel.
Tulisan ini menjadi cukup menarik, karena tidak memaksakan sesuatu sebagai fakta ketika buktinya belum lengkap. Sengaja memakai istilah “rekonstruksi”, “diperkirakan”, dan “kemungkinan” pada bagian yang belum ada dokumen tertulisnya.
Ada satu hal yang sangat penting untuk penelitian berikutnya: kita bisa mencoba mencocokkan tanggal-tanggal operasi TNI 31 Juli 1947, 25 Desember 1948, 1–9 Maret 1949, dan 9 Mei 1949 dengan posisi Kucel. Kalau ada laporan operasi Belanda/TNI yang menyebut jalan Bobotsari–Purbalingga, Pingen, Mangunegara, Kucel, atau Karanggude, mungkin bisa mempersempit kapan pertempuran yang diceritakan Kang Tirtameja terjadi.
Rasanya nama Tirtameja jangan sampai dilupakan. Justru kesaksian seorang pemuda 16 tahun yang membawa dua senjata bersama pasukan TNI itu merupakan bagian paling hidup dari cerita yang kini tersaji.
Purbalingga, 1 Agustus 2026


Tidak ada komentar:
Posting Komentar