Senin, 17 November 2025

Persetujuan dengan Bung Karno: Puisi dan Politik yang Saling Menyapa

 

Chairil Anwar: Persetujuan dengan Bung Karno

Persetujuan dengan Bung Karno: Puisi dan Politik yang Saling Menyapa

Oleh: Toto Endargo

1. Dua Api dari Satu Zaman

Ayo! Bung Karno kasi tangan mari kita bikin janji...

Bait pembuka itu bukan sekadar panggilan dari seorang penyair kepada presiden. Ia adalah sapaan sejarah, perjumpaan dua nyala yang berasal dari bara yang sama: kata dan perbuatan, bisikan dan teriakan, puisi dan politik.

Chairil Anwar dan Soekarno adalah dua sosok yang dilahirkan oleh zaman yang membara.
Bung Karno memekikkan kemerdekaan di podium,
Chairil membisikkan keberanian di lembaran kertas.
Yang satu menggetarkan alun-alun,
yang satu mengguncangkan batin bangsa.
Namun keduanya menyalakan nyala yang sama — api kemerdekaan jiwa manusia Indonesia.

Komando Kesatuan Gerilya di Purwokerto

 

Pembakaran Gudang di Kembaran - ChatGPT

Komando Kesatuan Gerilya di Purwokerto

Bagaimanapun juga Belanda berusaha untuk mendirikan Pemerintahan Sipil di tempat yang mereka duduki, namun hal ini selalu mengalami kegagalan karena rakyat Indonesih pada umumnya sudah benar bertekat bulat untuk merdeka dan tidak mau dijajah lagi.

Kadatangan Belanda tidak mendapat sambutan yang baik dan bahkan hampir semua penjabat pemerintah sipil RI, meninggalkan tempat dan jabatan mereka, untuk selanjutnya masuk dalam daerah kekuasaan RI.

Perlawanan kita, TNI dan rakyat, terhadap Belanda dilakukan dengan gigih dan yang sangat menguntungkan kita ialah serangan gerilya dan pencegatan konvoi. Dalam menghadapi perlawanan kita itu Belanda merasa kewalahan, karena serangan itu dilakukan oleh gerilyawan kita yang terdiri dari para pemuda, dengan sponsor TNI kita, yang berasal dan bertempat tinggal di daerah yang diduduki Belanda.

Mereka ini merupakan musuh dalam selimut Belanda, dan mereka inipun adalah informan-informan TNI untuk sewaktu араbila ada hal yang perlu, segera menyampaikan kepada, pos-pos TNI yang terdekat. Dengan demikian gerak-gerik Belanda, selalu diketahui oleh TNI, bahkan serangan Belanda, selalu dapat digagalkan, karena mereka sudah terlebih dahulu diketahui oleh TNI.

Gerilyawan kita adalah gerilyawan-gerilyawan yang diatur dengan baik, mereka ini tidak merupakan perilyawan liar yang tanpa Komando dari pimpinan TNI. Begitulah, gerilyawan kita menjadi satuan gerilya yang makin lama makin menjadi kuat dan besar dengan persenjataan yang dapat mereka rebut dari Belanda musuhnya.

Pasukan gerilya yang beroperasi di daerah Divisi Sunan Gunungjati, khususnya yang beroperasi di daerah Banyumas adalah pasukan gerilya yang dipimpin oleh Letda PTR Soepeno, sebagai hasil keputusan sidang yang diadakan oleh tokoh pimpinan di daerah Purwokerto, pada saat Purwokerto sedang dalam serangan Belanda.

Sidarng tersebut diadakan di desa Ketenger sebelah utara Purwokerto pada tanggal 1 Agus-tus 1947, 3 hari sebelum anjuran Dewan Keamanan PBB untuk menghentikan tembak menembak antara Belanda dan Indonesia dikeluarkan. Dan selanjutnya pertikaian diselesaikan dengan jalan damai.

Susunan lengkap komando kesatuan gerilya di Purwokerto adalah sebagi berikut:

1.      Pucuk Pimpinan                  :  Letda P.T.R. Soepeno

2.      Wakil I Pucuk Pimpinan     : Kapten P.T.R. Soewagijo

3.      Wakil II Pucuk Pimpinan    : Budihardjo.

4.      Staf terdiri dari:

a.      Let Kol. TNI Masjarakat Sutedjo.

b.      Let Kol. TNI Masjarakat Agus

c.       Suwarto SH – Wakil Residen

d.      Gatot SH – Kepala Pangadilan Negeri.

e.      Kapten Wirjosendjojo.

f.        Herman SH – Kementerian Dalam Negeri,

g.      Ir Utji – D.Κ.Α.  

h.      Roni Sulaiman

i.        Sukosampurno.

Kesatuan Pasukan Gerilya Pancakoa

Dengan masuknya tentara Belanda ke Purwokerto, maka Batalyon yang dipimpin Mayor Brotosiswoyo diperintahkan untuk kembali ke Kutaliman, sebuah desa yang terletak di sebelah utara Purwokerto termasuk kompleks Gunung Slamet untuk bergerak, beroperasi di daerah sekitar Purwokerto.

Dengan kedatangan Batalyon Brotosiswojo itu, maka diadakanlah perundingan antara Mayor Sujoto untuk dapatnya dibentuk satu kesatuan Komando. Setelah selesai pertemuan itu, kesatuan barisan gerilya diserahkan kepada Mayor Brotosiswojo. Letda P.T.R. Soepeno kemudian berhasil membentuk pertahanan rakyat dengan nama Kesatuan Pasukan Gerilya "PANCAKOA".

Ini terjadi pada tanggal 17 Agustus 1947 dengan pucuk pimpinan Letda P.T.R. Soepeno sendiri sedangkan sebagai wakilnya adalah H. Mashuri alias Matkartam. Sebagai markasnya dipilih desa Jipang. Setiap malam "Pancakoa" mengadakan serangan terus-menerus, bahkan sekali waktu sampai masuk ke tengah kota Purwokerto. Pada tgl. 30 Agustus 1947, gudang peluru milik Belanda yang disimpan didesa Kembaran, Purwokerto dapat dibakar, sehingga menggemparkan seluruh penduduk Purwokerto dan sekitarnya, yang mau tidak mau membesarkan hati, jiwa dan semangat juang rakyat.

Pada bulan September 1947 Belanda menempatkan pos di Patikraja, Rawalo, Jatilawang dan Wangon. Untuk menghadapi pos Belanda inı pasukan pasukan gerilya Pancakoa menyusup ke daerah itu dan membentuk Posko di desa Kaliputih yang terletak di sebelah utara Djatilawang. Dari Kaliputih inilah dilantjarkan serangan terhadap pos-pos Belanda dengan hasil baik.

Beberapa pucuk senjata dapat dirampas a. l.:

·         Dari pos Karangluwas 3 pucuk L. F.,

·         Pos Patikraja 3 pucuk Brengun,

·         dari pos Rawalo 95 pucuk senapan dan

·         dari Pos Jatilawang 1 pucuk pistol.

Keadaan yang demikian bukan hanya sekedar menguntungkan secara materieel saja, melainkan membawa pengaruh moril yang besar terhadap rakyat setempat.

Selain serangan secara fisik yang dilakukan oleh pasukan gerilya Pancakoa ini, mereka juga membentuk pemerintahan sipil (pamong praja) guna melantjarkan jalannya pemerintahan Republik Indonesia serta mengadakan kampanye anti Belanda yang terang-terang ingin menjajah kembali dan merobek-robek kemerdekaan Indonesia. Aktifitas pasukan gerilya Pancakoa berjalan terus, sehingga kesempatan istirahat bagi fihak lawan tidak ada.

Demikianlah pada tanggal 10 Oktober 1947 pasukan gerilya mengadakan serangan atas Jatilawang dan Wangon sehingga rakyat Jatilawang, Wangon dan sekitarnya benar-benar menaruh kepercayaan terhadap Republik Indonesia, dan rasa benci mereka kepada Belanda benar-benar tertanam dalam kalbunya.

Dari keadaan ini rakyat sudah dapat dipercaja untuk mengusir penjajah Belanda dari daerahnya. Selanjutnja pasukan gerilya Pancakoa bergerak terus menuju ke tempat lain yaitu ke Paningkaban, sebuah desa yang terletak di sebelah utara Lumbir. Setelah seminggu berada disitu pasukan gerilya Pancakoa meneruskan gerakannya ke Kawunganten, dan memilih desa Jurangmangu sebagai Poskonya. Dari sini dilancar-kan serangan ke Kawunganten, Kubangkangkung, Gandrungmangu dan Sidaredja dengan tujuan a.l:

·         Menghadang pasukan Belanda yang sedang mengadakan penangkapan terhadap rakyat di desa Sarwadadi, dan dalam pertempuran ini pasukan gerilya Pancakoa berhasil melepaskan tawanan-tawanan tersebut.

·         Menyerang pos Belanda di Kubangkangkung dan membakar perumahan milik perkebunan karet.

·         Menyerang Gandrungmangu dan membakar padi yang berdekatan dengan pasar.

Demikianlah kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh pasukan gerilya Pancakoa dalam slagorde Divisi Gunungjati.

Pasukan gerilya yang ada dalam slagorde Divisi III Pangeran Diponegoro, maupun Divisi IV Panembahan Senapati juga tidak tercela dan selalu mengadakan serangan-serangan yang terus-menerus terhadap Belanda.

Pasukan-pasukan gerilya yang terkenal dalam daerah di luar DivISI ii Gunungjati adalah antara lain:

1.      Pasukan Kyai Biru dengan daerah operasinya Sektor utara Div. III yang dipimpin oleh Letkol Sarbini.

2.      Pimpinan Gerilya Rakyat (P. G. R.).

3.      Markas Pertahanan Rakyat (M. P. R.).

4.      Pasukan B. A. T. U. (Barisan Tahan Uji ) - Pasukan Merbabu.

5.      Pasukan Markas Kuda Besi / Sabotase Service (M.B.K / S.S.).

===

Epos Gerilya Purwokerto: Komando Kesatuan yang Menjaga Nyala Kemerdekaan

Epos Gerilya di Purwokerto - ChatGPT

Epos Gerilya Purwokerto: Komando Kesatuan yang Menjaga Nyala Kemerdekaan

Oleh: Toto Endargo

Purwokerto, di kaki Gunung Slamet, pernah menjadi salah satu jantung perlawanan yang berdetak keras dalam tubuh republik muda. Tahun 1947, ketika pasukan Belanda kembali menapakkan kaki di tanah Banyumas, rakyat dan Tentara Nasional Indonesia (TNI) sudah mengerti benar: kemerdekaan bukan sekadar kata dalam teks proklamasi, melainkan sesuatu yang harus dijaga dengan darah, siasat, dan keyakinan.

Belanda datang dengan tekad membangun kembali pemerintahan sipil di daerah-daerah yang mereka duduki. Namun, niat itu tak pernah menemukan tanah yang subur. Rakyat menolak, pegawai sipil Republik meninggalkan kantor-kantor mereka dan menyingkir ke wilayah kekuasaan RI. Mereka tidak sudi menjadi alat penjajah baru. Dari desa-desa di lereng utara hingga kampung di tepian Sungai Serayu, rakyat menutup pintu bagi setiap upaya pendirian pemerintahan kolonial.

Gerilya: Siasat Rakyat yang Menjadi Senjata Negara

Ketika senjata artileri dan tank Belanda menggelegar di kota-kota, rakyat dan TNI memilih cara lain: bergerilya. Serangan mendadak, pencegatan konvoi, penghadangan logistik, serta sabotase komunikasi musuh menjadi denyut kehidupan baru di Banyumas.
Gerilyawan bukan tentara liar, bukan pula massa yang bergerak tanpa arah. Mereka adalah warga biasa yang tinggal di tengah daerah pendudukan, tapi menjadi mata dan telinga Republik. Mereka melapor diam-diam ke pos TNI terdekat, mengabarkan gerak pasukan Belanda, waktu patroli, dan arah konvoi.

“Musuh dalam selimut” — begitu Belanda menyebut para pemuda Banyumas yang tampak tenang di siang hari, namun di malam hari bergabung dengan pasukan rakyat. Mereka adalah penunjuk jalan bagi pasukan TNI yang hendak menyusup, penyelundup informasi, sekaligus penggempur saat fajar.

Keunggulan terbesar TNI bukanlah jumlah senjata, melainkan dukungan rakyat. Tiap rumah menjadi dapur umum, tiap ladang menjadi jalur logistik, dan tiap lumbung menjadi gudang amunisi.

Sidang di Ketenger: Lahirnya Komando Gerilya Purwokerto

Pada tanggal 1 Agustus 1947, ketika Purwokerto tengah digempur Belanda, sekelompok tokoh pimpinan TNI dan sipil berkumpul di Desa Ketenger, di utara kota. Di tempat yang dingin dan berkabut itu, mereka merancang struktur perlawanan baru: Komando Kesatuan Gerilya di Purwokerto.

Pertemuan itu bukan sekadar rapat perang. Ia adalah simbol keteguhan hati: bahwa Banyumas tidak akan menyerah, apa pun yang terjadi. Tiga hari setelah pertemuan itu, Dewan Keamanan PBB memang mengeluarkan anjuran gencatan senjata antara Belanda dan Indonesia. Namun di tanah Purwokerto, api perjuangan belum padam — karena mereka tahu, diplomasi belum tentu berarti kebebasan.

Susunan Komando Kesatuan Gerilya itu disahkan dengan pimpinan utama Letda PTR Soepeno, sosok muda yang dikenal berani dan strategis. Ia dibantu oleh Kapten PTR Soewagijo sebagai Wakil I dan Budihardjo sebagai Wakil II.
Di bawah mereka berdiri staf yang terdiri dari perpaduan kekuatan militer dan sipil:

  • Letkol TNI Masjarakat Sutedjo
  • Letkol TNI Masjarakat Agus
  • Suwarto, SH – Wakil Residen
  • Gatot, SH – Kepala Pengadilan Negeri
  • Kapten Wirjosendjojo
  • Herman, SH – dari Kementerian Dalam Negeri
  • Ir. Utji – D.K.A.
  • Roni Sulaiman
  • Sukosampurno

Mereka bukan sekadar komandan di medan tempur, melainkan pemangku harapan rakyat. Di antara mereka ada ahli hukum, pejabat, dan insinyur — bukti bahwa perjuangan mempertahankan kemerdekaan bukan hanya urusan senjata, tapi juga ilmu, pikiran, dan tata kelola negara.

Banyumas: Dari Desa ke Pusat Komando

Gerilyawan Banyumas tidak sekadar bertahan, mereka berkembang. Senjata mereka bukan hanya hasil rampasan dari musuh, tapi juga hasil kerja sama antarwilayah. Laporan intelijen disalurkan secara cepat dan rahasia, lewat kurir yang hafal jalur hutan dan sungai. Dari sisi barat Gunung Slamet sampai ke selatan menuju Sokaraja, jalur komunikasi gerilya berjalan dengan sangat efektif.

Purwokerto, yang saat itu menjadi salah satu pusat Belanda, justru dikepung secara diam-diam oleh pasukan rakyat. Serangan kecil tapi terus-menerus melemahkan moral tentara kolonial. Mereka kehilangan kendali atas wilayah yang di atas peta seolah sudah dikuasai, tetapi di lapangan justru menjadi kuburan bagi konvoi mereka sendiri.

Setiap kemenangan kecil menumbuhkan keyakinan baru: bahwa kekuatan sejati Republik ada di tangan rakyat yang berani.

Semangat yang Tak Pernah Padam

Kini, lebih dari tujuh dasawarsa setelah peristiwa itu, nama-nama seperti Soepeno, Soewagijo, dan Sutedjo mungkin tak banyak dikenal oleh generasi muda. Namun tanpa komando mereka, Banyumas mungkin tak akan menjadi wilayah yang mampu bertahan dalam gelombang agresi militer Belanda.

Epos gerilya Purwokerto bukan hanya catatan perang, tetapi cermin persatuan: antara rakyat, TNI, dan pejabat sipil. Di masa itu, mereka tidak menunggu perintah pusat untuk bertindak. Mereka berinisiatif, berpikir, dan bertempur dengan segala keterbatasan.

Hari ini, ketika kita melintasi Jalan Yosodarmo di Purwokerto — jalan yang dahulu menjadi saksi pergerakan tentara dan rakyat — kita seperti menapak di atas sejarah yang masih berdarah. Ironisnya, Gedung Yosodarmo, salah satu peninggalan bersejarah di kawasan itu, kini tampak kurang terawat. Dindingnya kusam, halaman sepi, dan atapnya mulai lapuk. Padahal, dari tempat-tempat semacam inilah semangat kebangsaan pernah dikobarkan.

Sejarah tidak selalu hidup di museum; ia hidup di ruang-ruang yang kita rawat, di ingatan yang kita teruskan. Bila gedung-gedung perjuangan dibiarkan runtuh, maka pelan-pelan yang ikut runtuh adalah makna kemerdekaan itu sendiri.

Penutup: Warisan Keteguhan

Komando Kesatuan Gerilya di Purwokerto adalah contoh bagaimana perjuangan mempertahankan kemerdekaan bukan hanya soal kemenangan militer, tapi juga tentang keteguhan moral dan kesadaran kolektif.

Dari Ketenger yang berkabut, lahirlah keputusan penting yang menjaga marwah Republik. Dari desa-desa kecil di Banyumas, muncul pasukan rakyat yang menyadarkan dunia: Indonesia tidak akan kembali dijajah.
Dan dari sisa-sisa bangunan tua seperti Gedung Yosodarmo, sejarah berbisik lirih — bahwa kemerdekaan ini bukan hadiah, tetapi hasil dari kesetiaan tanpa syarat terhadap tanah air. ===

 

 

 

Sabtu, 01 November 2025

Harmoni (2025): Surat Terbuka untuk Sang Penjaga Keseimbangan

 

Poster Film "Harmoni" - Rekam Film

Harmoni (2025): Surat Terbuka untuk Sang Penjaga Keseimbangan

Oleh: Toto Endargo

Kepada Yuda Kurniawan,
sang perekam kesunyian yang berbicara lewat gambar,

Terima kasih sudah menghadirkan Harmoni (2025), sebuah film yang bukan sekadar kisah dua petani, tetapi dua cermin kehidupan yang memantulkan wajah kita sendiri — manusia yang sering lupa caranya hidup berdampingan dengan alam.

Di Pulau Nusa Lembongan, Bali, ada Made, petani rumput laut yang masih bertahan di tengah gelombang pariwisata.
Di Desa Saritani, Gorontalo, ada Tuwarno, petani jagung yang menatap langit kering dan membaca bintang dengan tradisi Panggoba.
Dua manusia dari dua tanah berbeda, namun mereka memanggul beban yang sama: perubahan zaman yang mengguncang keseimbangan alam.

Selasa, 28 Oktober 2025

“Satu Nusa Satu Bangsa”: Puisi Persatuan untuk Menyambut Hari Sumpah Pemuda

 

Satu Nusa Satu Bangsa

“Satu Nusa Satu Bangsa”: Puisi Persatuan untuk Menyambut Hari Sumpah Pemuda

Setiap tanggal 28 Oktober, bangsa Indonesia memperingati Hari Sumpah Pemuda — momen bersejarah ketika para pemuda dari berbagai penjuru nusantara menyatakan diri sebagai satu bangsa, satu tanah air, dan satu bahasa.

Dalam gema semangat itu, lagu “Satu Nusa Satu Bangsa” ciptaan Liberty Manik menjadi salah satu karya yang paling mampu menangkap ruh Sumpah Pemuda dalam bentuk musikal dan puitis.

Lagu ini sering terdengar dalam upacara, sekolah, dan perayaan kenegaraan. Namun, di balik kesederhanaan nadanya, tersimpan bahasa yang dalam, nyaris mistis, yang menyatukan cinta, harapan, dan janji kebangsaan.

Rabu, 06 Agustus 2025

Membaca Serat Sejarah Babad Onje

 

Membaca Serat Sejarah Babad Onje - ChatGPT

Membaca Serat Sejarah Babad Onje

Oleh: Toto Endargo, Peminat Budaya

Babad Onje: Onje Lahir dari Laku - Kiyai Tepus Rumput dan Titah Sultan Pajang

Oleh: Toto Endargo - Membaca Serat Sejarah Babad Onje (1)

Di lereng timur Gunung Slamet, ada satu nama yang tak pernah hilang dari ingatan sejarah Purbalingga - Banyumas: Onje. Banyak orang mengenalnya sebagai desa tua dengan jejak kadipaten, tetapi Punika Serat Sejarah Babad Onje menyimpan lapisan yang lebih dalam. Di halaman awal naskah itu, kita bertemu seorang pertapa, sebuah titah raja, dan wejangan yang menyatukan tanah, tahta, dan sukma.

Sabtu, 02 Agustus 2025

Membaca Jejak Kadipaten Onje dari Kyai Tepus Rumput sampai Kyai Yudantaka

  

Makam Raden Adipati Anyakrapati di Onje - Toto Endargo

Membaca Jejak Kadipaten Onje dari Kyai Tepus Rumput sampai Kyai Yudantaka

1.     Babad Onje: Membaca Jejak Legitimasi Pajang di Tanah Onje

Teks Babad Onje yang beredar di kalangan masyarakat Onje dan sekitarnya sering disebut sebagai “Punika Serat Sejarah Babad Onje” Baris pembukanya berbunyi jelas:

Rabu, 16 Juli 2025

Mengenal Tugu Juang di Desa Blater – Catatan Bapak Soeparno

 

 MENGENAL TUGU JUANG DI DESA BLATER – CATATAN BAPAK SOEPARNO

Catatan sejarah ini ditulis oleh Bapak Soeparno Penilik Kebudayaan Kantor Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Kecamatan Kalimanah, Tahun 1988, dan diberi judul “MENGENAL TUGU JUANG DI DESA BLATER”

Selasa, 15 Juli 2025

Benteng Missier dan Pager Banawaty: Dua Lapisan Pertahanan di Onje (1681)

 


Benteng Missier dan Pager Banawaty: Dua Lapisan Pertahanan di Onje (1681)

Pada akhir abad ke‑17, wilayah barat daya Banyumas menjadi salah satu titik strategis dalam perebutan pengaruh antara VOC dan kekuatan‑kekuatan lokal Jawa. Kawasan Onje, yang terletak di tepi Sungai Klawing, dikenal masyarakat setempat sebagai pusat Kadipaten dengan sistem pertahanan tradisional yang disebut Pager Banawaty. Struktur ini berupa benteng bumi dengan parit melingkar dan dinding tanah yang mengelilingi permukiman inti kadipaten, khas pertahanan lokal Jawa pada masa itu.

Jumat, 04 Juli 2025

Stop Bullying Sekolah: Saatnya Kita Bela Institusi Pendidikan

 Stop Bullying Sekolah: Saatnya Kita Bela Institusi Pendidikan

Oleh: Toto Endargo

Kita semua sepakat: bullying itu berbahaya. Itulah mengapa kampanye Stop Bullying digalakkan di sekolah-sekolah — demi melindungi siswa dari kekerasan psikologis dan sosial.

Tapi, ada satu bentuk bullying yang kerap diabaikan: bullying terhadap sekolah itu sendiri.

Di era digital, sebuah unggahan sepihak bisa meluluhlantakkan nama baik sebuah sekolah. Tanpa klarifikasi, tanpa data, hanya berdasarkan narasi personal yang kemudian diviralkan. Komentar netizen pun datang berbondong-bondong, menekan, menghujat, bahkan menuntut sanksi — tanpa proses, tanpa tabayyun.