Tampilkan postingan dengan label Budayaku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Budayaku. Tampilkan semua postingan

Selasa, 30 Juni 2026

Syeh Jambukarang, Surawana dan Desa Temon dalam Serat Centhini

 Syeh Jambukarang, Surawana dan Desa Temon dalam Serat Centhini 

 Oleh Toto Endargo 

Serat Centhini - Tambangraras-Amongraga (1846 M) telah menceriterakan tentang Syeh Jambukarang, Surawana dan Desa Temon. Berikut kutipan langsung dari Serat Centhini - Tambangraras-Amongraga - Jilid II, halaman 1 sampai dengan halaman 7, kisah sepintas saat Mas Cebolang berada di wilayah Purbalingga.

Rabu, 24 Juni 2026

Bendung yang Mengubah Wajah Klawing

 


Bendung yang Mengubah Wajah Klawing

Seratus Tahun Perubahan Teknologi Irigasi di Sungai Klawing

Oleh: Toto Endargo

Apabila kita berdiri di atas Bendung Slinga hari ini, sulit membayangkan bahwa tidak jauh dari lokasi yang sama pernah berdiri sebuah bangunan irigasi yang jauh lebih sederhana. Padahal, sejarah pengairan di tempat tersebut telah berlangsung lebih dari satu abad.

Bangunan lama itu dikenal masyarakat sebagai SLIS, sebutan lokal untuk sistem irigasi yang dibangun pemerintah kolonial Belanda pada tahun 1916. Sementara itu, Bendung Slinga yang sekarang mulai dibangun pada tahun 2010 sebagai pengganti sistem lama yang telah berhenti berfungsi sejak 1992.

Selasa, 05 Juli 2022

Pasar Tugu Taman Badhog Purbalingga (2)

 Pasar Tugu Taman Badhog Purbalingga (2)

.

Cerita tentang Pasar Mandiri, sudah, sekarang cerita tentang Tugu Bancar.

.

Tugu Bancar

Dulu tahun 1964 - 1975, STM Purbalingga "Bersubsidi" Purbalingga, atau dikenal dengan nama STM YPT Purbalingga, gedung sekolahnya ada di Bancar, dekat Kodim 0702, Purbalingga. 

Gedungnya, pagi untuk STN 1 Purbalingga, dan sore untuk STM YPT. Gedung sekolah berbentuk gudang besar, masih menghadap ke utara, menghadap ke pertigaan, dan di pertigaan itu berdiri tegak menjulang tinggi Tugu Bancar, dikelilingi melingkar rantai pembatas. Kalau jam istirahat, ada saja siswa STM yang duduk-duduk di ambal-ambalan kaki tugu. Jika dibandingkan dengan tugu Bancar yang sekarang, yang dulu jelas lebih keren, tinggi, dan gagah. Ada plakat penanda bangunan di sisi barat, bunyinya: Tugu Peringatan Hari Kebangunan Nasional Setengah Abad, 20-5-1908 --- 20-5-1958. Tugu tersebut berada di tengah pertigaan, kalau ke barat arah alun-alun, ke selatan arah ke Bojong, ke utara sedikit lalu ke timur, itu, arah menuju Penaruban dan Jatisaba. Jadi kalau mau ke Penaruban, Rumah Sakit Trenggiling, Kaligondang, harus lewat depan gedung pengadilan, Pasar Bancar, belok kiri.

Oleh sebab letak dan nilai sejarahnya itulah, maka Tugu PHKN (Peringatan Hari Kebangunan Nasional) ke 50, terabadikan dalam logo STM YPT Purbalingga, sekarang SMK YPT 1 Purbalingga. Hari Kebangunan Nasional, sekarang diubah menjadi Hari Kebangkitan Nasional. 

Beda pimpinan, beda selera. Ternyata tugu bersejarah yang peresmiannya tahun 1958 itu, dengan sengaja dibongkar, praktis hanya plakat dan bentuknya saja yang sepertinya terselamatkan. Dan ketika mencoba membangun kembali Tugu PHKN, hasilnya kurang sreg, baik tempat maupun ukurannya. Akhirnya tugu yang sekarang itu, di samping sudah kehilangan ukuran aslinya, juga kehilangan roh sejarahnya. Jadi tugu PHKN yang sekarang, yang ada di taman Maerakaca itu, adalah tugu duplikat yang ternyata tidak sesuai  dengan ukuran aslinya. 

Nasib.

.

"Dulu, pernah duduk-duduk di bawah tugu, Pak?"

"Ya, sering banget!"

"Kok, sering banget, kenapa?"

"Lho, saya tahun 1972 - 1974 sekolah di STM YPT Purbalingga, itu!"

"Oh, jadi pernah bersahabat dengan almarhum Tugu PHKN yang asli ya?"

"Ya, begitulah! Kalau jam istirahat, keluar kelas, boleh nongkrong di tugu!"

"Nostalgia, ya Pak?"

"Iya!"

.

Nuwun

====

.

Pasar Tugu Taman Badhog Purbalingga (1)

 Pasar Tugu Taman Badhog Purbalingga (1)

Cerita singkat tentang Pasar Mandiri, Tugu Bancar, Taman Maerakaca dan Pasar Badhog, Purbalingga


Pasar Mandiri

Dahulu di jalan Pujowiyoto, dekat perempatan SD Purbalingga Wetan ada pasar. Pasar krempyeng, pasar yang ramainya hanya waktu pagi, sampai sekitar jam sembilan, sudah sepi kembali. Di pasar ini, walau ada juga penjual ayam, namun mayoritas para pedagang jualannya jajan pasar dan sayuran. Pasar krempyeng di pinggir jalan Pujowiyoto ini dikenal dengan nama Pasar Badhog. Kata mbadhog, yang berarti makan, dan badhogan artinya makanan, maka kata "badhog" rupanya sengaja disematkan untuk nama pasar ini, karena di pasar banyak penjual makanan, atau badhogan itu. 

Sebenarnya kata badhog, badhogan, mbadhog, adalah bahasa ngoko kasar, kurang sopan, tapi apa boleh buat, begitulah yang tersaji dan terjadi. Dalam hal ini, ternyata kata badhogan menjadi lebih populer dibandingkan dengan kata jajanan atau panganan. 

Jadi dahulu sudah ada pasar badhog, pasar yang mayoritas menyajikan makanan, atau badhogan, jajan pasar, dan itu berada di Jalan Pujowiyoto.

Seiring dengan waktu, keramaian pasar ini akhirnya mengganggu lalu lintas, maka sekitar tahun 1990-an, pasar ini lokasinya digeser, ke lahan tanah Makam Narasoma yang berada di barat jalan. 

Para pedagang pun, suka tidak suka pindah ke lokasi baru tersebut. Dan walaupun pedagang dan jualannya sama, ternyata nama pasarnya diubah, dengan nama: Pasar Mandiri. Maka berakhirlah riwayat pasar badhog yang berada di perempatan dekat Bu Timah, pedagang sayuran yang dulu legendaris.

Begitulah sedikit cerita tentang awal-mula Pasar Mandiri, Purbalingga, yang sesungguhnya berawal dari pasar badhog versi lama. 

Semoga berkenan.

.

"Dulu, pernah beli apa di Pasar Badhog, Pak?"

"Jiwel"

"Kok, jiwel?"

"Iya, jiwel, yang kalau makan dijiweli, terus dimasukkan ke mulut!"

"Oh! Kalau jongkong, bagaimana?'

"Jongkong, kalau makan langsung di jongkongkan ke mulut!"

"Lah kalau pipis?"

"Pipis, ya pipis dulu lah, baru boleh makan!"

"Bukan, dipipisi dahulu, baru dimakan?"

"Nggaklah! Jorok itu!"

.

Nuwun

=======

.

Senin, 29 November 2021

PUNDHEN BRAMBANG JAHE

Pundhen Brambang Jahe
 Toto Endargo
.
Seperti tulisan di Pundhen (1) bahwa ada kalanya sebuah tempat menjadi pundhen hanya karena tempat tersebut pernah disinggahi oleh seseorang yang ditokohkan. Contohnya adalah pundhen Petilasan Brambang Jahe dan Petilasan Udan Angin. 
Setiap yang pernah "ngubengi" GOR Goentoer Darjono, mungkin tahu, atau pernah lihat, minimal, mlirik, bahwa di utara GOR, di sekitar mural orang tinju, ada sebuah petilasan, bekas tempat yang memiliki kesan berlebih dari seorang yang dianggap tokoh. Papan namanya bertuliskan: Petilasan Brambang Jahe, Kelurahan Purbalingga Kidul, Kecamatan Purbalingga, Kabupaten Purbalingga. 
Inilah sedikit cerita singkatnya yang pernah saya dengar. 

PUNDHEN

PUNDHEN 
Toto Endargo 
 
Pundhen (1)  
"Pak, tidak crita Muskhil?" 
"Belum, crita pundhen, dulu lah!" 
"Apa, ada yang minta crita ini?" 
"Iya! Ada yang pesan. Ikut nyimak ya!" 
"Nggih!" 
Pundhen  
Pundhen dari kata pundhi, bukan pundi. Pundhi adalah istilah Jawa, memiliki arti; dimuliakan atau dihormati. Dari kata pundhi terbentuk kata; dipundhi-pundhi, artinya sangat dihormati. Pundhi + an, menjadi pundhen, pepundhen, artinya; sesuatu, atau seseorang atau juga suatu tempat yang dihormati dan diakui keberadaannya. 
Banyak orang yang mengatakan bahwa pundhen adalah tempat untuk ngalap berkah. Tempat untuk memohon dan mendapatkan sesuatu, bisa rejeki, pangkat, jabatan, jodhoh, kesehatan, anak dan permohonan lain, sesuai yang diinginkan dan diyakini untuk dikabulkan. 
Itulah makna pundhen. 
Begitu! 
.

Senin, 21 Desember 2020

WANGSULANING WANGSALAN

WANGSULANING WANGSALAN 
toto endargo 

Wangsalan punika salah satunggaling werni budhaya sastra Jawi. Sastra Jawi sampun katelah adi luhungipun. Wangsalan karipta mawi paugeran ingkang mirunggan. Pangripta wangsalan kedah priksa thek-kliwering tembung kanti pana. Kejawi satiti ing kawruh basa ugi kedah priksa ing kawruh sabarang. 

Wangsalan kaanggit arupi ukara-ukara cangkriman ingkang kedah pikantuk wangsulan. Mila ukara ngajeng mawi pocapan ingkang ngandut ukara siningit. Pocapan siningit punika lajeng kawedar lan kangge lajering tembung wangsulan. Wigatining isi wangsalan arupi jarwan, utawi wangsulan, ingkang wonten ing ukara candhakipun. 
Wangsalan umumipun ngandhut pitutur lan panjurung utamaning ngagesang ing bebrayan. 

Mangga! 

Ing ngandhap punika kula aturaken rupi wangsalan ingkang kula pendhet saking buku Tuntunan Sindhenan Ladrang, dening Nyi Supadmi, Penerbit dan Percetakan Cendrawasih, Surakarta, Tahun 1992, regi buku kala semanten namung Rp. 3.500,-

Amargi Nyi Supadmi punika jejeripun sindhen, mila wangsalan punika mesthi sampun sumambrah kapiyarsa dening bebrayan agung, mliginipun ing gendhing Jawi saha para pandhemen budhaya Jawi. 

Jumat, 03 April 2020

DUSUN MANGUNREJA

DUSUN MANGUNREJA
Toto Endargo

Harapannya Dusun Mangunreja dapat menjadi ujung tombak, pemicu kemajuan Desa Mangunegara sebagai ibukota Kecamatan Mrebet
---

Mangunreja adalah nama sebuah dusun di Desa Mangunegara, Kecamatan Mrebet, Purbalingga. Mangunreja berada di pojok barat-selatan peta desa Mangunegara. Kini dalam penamaan perdusunan masuk sebagai Dusun III. Nama Mangunreja sendiri baru diresmikan sekitar tahun 1970-an. Menjadi wilayah yang cukup unik dan krusial dalam hal nama tempat. Dulu orang menyebut wilayah Mangunreja ini dengan beberapa nama.

Prapatan
Disebut Prapatan, karena wilayah ini berada di sebuah perempatan yang cukup ramai, dilintasi jalan provinsi yang beraspal jurusan Purbalingga – Bobotsari, jalan desa yang ke barat menuju Desa Karangnangka, Cipaku, Binangun, ke arah timur ke wilayah Desa Karangturi dan Desa Onje. Itulah sebabnya disebut Prapatan.

Rabu, 19 Februari 2020

DHANDHANGGULA – SEMUT IRENG

DHANDHANGGULA – SEMUT IRENG
Toto Endargo

Dinamika perilaku politikus saat bersaing berebut kekuasaan, akibat dan nasib pejabat jika sampai lupa diri dan mabuk kekuasaan.
===


Tembang Dhandhanggula – Semut Ireng adalah sebuah tembang yang memiliki lirik sangat memikat, membicarakan dunia politik praktis.
Penulis mengenal tembang ini saat kelas lima Sekolah Rakyat tahun 1967. Pak Gedhe Ayat Notohardjono sering melagukannya, dengan demikian saya bisa menirukan lagu dan hafal liriknya. Sebenarnya dalam hal nada dan lagu di lingkup macapat, seperti cengkok lagu Dhandhanggula ini, sudah ada pakemnya, seperti yang setiap kali diperdengarkan oleh Paklik Suwondo dengan lirik “Yogyanira”.
Rupanya Paklik Suwondo suka nembang dengan lirik tersebut karena di dalamnya ada nama Suwondo. Sebagai prajurit teladan. Liriknya sebagai berikut:

Kamis, 21 November 2019

BABAD JATI TUKUNG - #1

BABAD JATI TUKUNG - #1
Toto Endargo


Kecombrang, Sunda dan Onje

Kecombrang. 
Nama lain dari kecombrang adalah honje (Sunda), bongot (Bali) kincung (Sumatera Utara) asam celaka (Tanah Karo) patikala (Sulawesi Selatan) ada juga yang menyebutnya sebagai bunga rias dan kumbang sekkala. Kecombrang bunganya sangat elok, degradasi dari warna merah cerah dan berkombinasi dengan warna putih. Kecombrang adalah bentuk bunga dari tumbuhan yang bernama burus (etlingera elatior), kecombrang muncul setahun sekali dan akhirnya akan menjadi sebongkah biji-bijian yang berwarna menarik juga. Kecombrang di Banyumas digunakan sebagai sayuran, selain mengandung air juga terdapat nutrisi berupa: kalium, kalsium, fosfor, magnesium, dan zat besi.

BABAD JATI TUKUNG - #2

BABAD JATI TUKUNG - #2
Toto Endargo

Babad Onje.
Sejak kecil penulis sudah mengenal Babad Onje dan sedikit tentang Desa  Onje. Sekitar tahun 1964 sudah mengunjungi watu lumpang atau batu dakon, masjid onje yang masih berpandasi benteng batu, belum disemen. Mengunjungi pohon nangka, pohon blimbing, dan arca batu. Menikmati pemandangan orang menyeberang Kali Klawing, Kedhung Nini, Kedhung Dhukuh dan Kedhung Pertelu.  Kesan wingit sangat terasa. Penduduk desa belum sepadat sekarang. Air di sungai masih terasa sejuk dan sangat jernih. Arca batu masih di lahan kosong, di bawah pohon dukuh dan jauh dari rumah penduduk.

BABAD JATI TUKUNG - #3

BABAD JATI TUKUNG - #3
Toto Endargo

Pundhen Jati Ragas.
Jati adalah nama pohon yang punya kelebihan dibandingkan dengan pohon lain. Kayu jati lebih berharga, lebih kuat, lebih perkasa, lebih tahan terhadap lingkungan. Kayu jati menjadi bahan yang baik untuk bangunan dan perabotan. Istana kerajaan dan masjid besar sejak dahulu kala pasti memilih kayu jati sebagai bahan bangunan. Jadi jati adalah kayu istimewa, punya kedudukan tinggi. Ibarat masyarakat, dia adalah bagian masyarakat yang berkedudukan tinggi. Orang kebanyakan sering diibaratkan sebagai pohon jarak, maka ada ungkapan “Tunggak Jati mati, tunggak Jarak mrajak”.

BABAD JATI TUKUNG - #4

BABAD JATI TUKUNG - #4
Toto Endargo

Gunung Tukung
Gunung Tukung, mungkin tepatnya Bukit Tukung atau Igir Tukung. Letaknya di seberang timur Sungai Klawing, masuk wilayah Dusun Pagendolan, Desa Onje, Kecamatan Mrebet, Purbalingga. Tinggi bukit ini hanya sekitar 200 meter dpl. (disebut gunung jika tingginya lebih dari 600 meter dpl.) membujur dari utara ke selatan. Penuh dengan tanaman keras seperti mahoni, albasika, sengon, kelapa, laban, waru laut, jati, dan bambu. Batas utara, di Dukuh Jendol, dan batas selatan, di Dukuh Mesir, panjangnya hanya sekitar satu setengah kilometer. Bukit Tukung diapit oleh lahan pesawahan tadah hujan. Sebenarnya diapit oleh dua sungai, Sungai Klawing dan Sungai Onje. Letak Sungai Klawing terlampau rendah sehingga cukup kesulitan untuk menaikkan airnya sampai ke sawahnya, sedang Sungai Onje juga termasuk sungai tadah hujan, jika kemarau terlalu panjang sungai menjadi kering.

Kamis, 17 Oktober 2019

BLATER DHUWUR

BLATER DHUWUR
Toto Endargo

   Blater adalah nama sebuah Desa di Kecamatan Kalimanah, Kabupaten Purbalingga. Desa subur yang dialiri oleh dua buah sungai yaitu Sungai Jompo dan Sungai Ponggawa. Blater adalah nama yang baik karena dalam Bahasa Jawa kata “blater” berarti “ramah”, juga diterjemahkan sebagai “pandai bergaul”. Jika nama adalah doa maka kata “blater” menjadi sebuah nama dan doa yang baik bagi wilayah dan masyarakat Blater. Sifat keblateran akan membawa masyarakatnya untuk dapat meningkatkan diri di pergaulan yang lebih luas, meningkatkan kemampuan sumber daya manusianya, tentu saja muaranya membawa kemajuan bagi masyarakat Desa Blater.

Minggu, 13 Oktober 2019

DESA SLINGA KALIGONDANG

DESA SLINGA KALIGONDANG
Toto Endargo
Asal Usul Nama Slinga
Sungai Klawing di Tepi Desa Slinga
Ada sebuah cerita kenapa desa ini diberi nama Slinga. Slinga konon awalnya adalah Si Linga, dari tiga kata: si adalah kata sandang, ling dari kata uling dan nga dari kata lenga. Uling adalah nama hewan sejenis belut namun wujudnya lebih besar (belut, sidat, pelus, uling/moa). Lenga atau minyak yang dimaksud disini adalah cairan yang keluar dari tubuh uling.
Desa Slinga memiliki tujuh wilayah dusun yaitu Slinga, Randegan, Siabang, Pegedongan, Pagedangan, Karangpetir dan Karanggandul. Nama Slinga diawali dari hadirnya seekor uling atau pelus besar, yang suatu hari diam-diam masuk ke dusun. Karena sangat laparnya ia pun mencari mangsa, dan, ya Allah, yang ditemuinya di sebuah rumah adalah seorang bayi. Segera saja sang.bayi diterkam dan dibawa merayap ke liang rumahnya di suatu tempat yang menjadi rumah si Uling.

Selasa, 19 Desember 2017

MAJAPAHIT, MANGUNEGARA, CITRAKUSUMA

MAJAPAHIT, MANGUNEGARA, CITRAKUSUMA
Toto Endargo

Kisah ini menarik sebab mengungkapkan sisi lain dari perjuangan Pangeran Diponegoro saat memasuki wilayah Purbalingga sampai dengan keberadaan sebuah trah yang menjadi penduduk utama Dusun Citrakusuma.
***
Mangundirana - Singanegara
   Majapahit. Nama Majapahit ternyata tidak hanya nama sebuah kerajaan besar tapi juga sebuah dusun kecil di sekitar Desa Onje, Kabupaten Purbalingga. Hanya sebuah dusun kecil dan kini masuk wilayah Desa Karangturi, namanya Dukuh Majapahit. Dusun Majapahit bersebelahan dengan Dusun Banawati. Tempatnya persis menjelang belokan luar Sungai Klawing. Berseberangan dengan Dusun Mesir. Kalau Mesir seperti dipeluk Sungai Klawing, Dusun Majapahit di luar pelukan itu. 
Seperti dusun-dusun di sekitarnya, dusun ini dipenuhi dengan pohon-pohon tinggi semacam kelapa, dukuh, jengkol, sengon dan lain-lain. Ada sawah walau sedikit tapi subur. Pengairan lancar karena ada saluran irigasi dari bendungan Kali Paku, dhawuhan Kedhung Keder di Dusun Citrakusuma. Air mengalir membelah dusun Tuanwisa, Pesawahan dan berakhir di Majapahit.

Selasa, 02 Mei 2017

MANGUNEGARA CITRAKUSUMA BANAWATI


MANGUNEGARA, CITRAKUSUMA, BANAWATI
Toto Endargo
---
Betapapun sederhananya cerita yang tersaji ini, setidaknya akan menjadi bacaan bagi para anak cucu di jaman milenial untuk mengenal asal-usul dirinya dan tanah yang telah melahirkan para nenek moyang mereka, Mangunegara, Citrakusuma dan Banawati.
---
Mangunegara, Citrakusuma, Banawati adalah nama-nama dusun yang berkaitan erat dengan keberadaan nama Desa Onje. Onje kini adalah nama sebuah desa. Desa istimewa karena punya kedudukan khusus dalam rentang perjalanan sejarah berdirinya Kabupaten Purbalingga. Dalam cerita Adipati Onje tersurat pula bahwa ada dua nama putra Adipati Anyakrapati yaitu Raden Mangunjaya dan Raden Cakrakesuma. Ada sebuah nama lagi yang jarang disebut yaitu Rara Banawati. Kini ketiga nama tersebut menjadi nama tiga dukuh, gerumbul dalam suatu wilayah desa.
Mangunjaya menjadi nama dukuh Mangunegara, sedang Cakrakesuma menjadi dukuh Citrakusuma, keduanya menjadi bagian dari Desa Mangunegara. Sedang Rara Banawati menjadi dukuh Banawati bagian dari desa Onje.
Berikut ini adalah cerita yang sempat terceritakan oleh Eyang Putri Dasiyem Wiryodiharjo di sekitar tahun 1966-an. Saya sering diceritani berbagai cerita dari yang berbentuk legenda, horor sampai dengan kisah yang beliau ketahui dan alami sendiri.

Kamis, 27 April 2017

KADIPATEN MESIR DI ONJE

Kadipaten Mesir di Onje
Toto Endargo

   
   Ada peribahasa atau ungkapan dalam bahasa Jawa bahwa  “desa mawa cara, negara mawa tata” yang artinya bahwa setiap desa, setiap negara mempunyai cara dan aturan masing-masing sesuai kondisi setempat. Kondisi suatu wilayah inilah yang menimbulkan cerita yang berbeda antara satu wilayah dengan wilayah yang lain.
Bagian dari cerita yang ada di Kabupaten Purbalingga adalah Desa Onje, Kecamatan Mrebet.  Desa yang menjadi sumber cerita cikal bakal para adipati di Kabupaten Purbalingga. Seperti umumnya sebuah desa tentu terdiri dari beberapa padukuhan. Dukuh atau sekarang secara umum disebut sebagai dusun. Beberapa nama dukuh di Onje adalah Dukuh Onje, Dukuh Pagendolan, Dukuh Mesir, Dukuh Pedhalangan, Dukuh Banawati dan Dukuh Kutabangsa.

Selasa, 10 Januari 2017

KEMBANG KACANG - WALJINAH

KEMBANG KACANG
Waljinah

Sebuah lagu yang bertabur parikan dan wangsalan
Lagu ini dinyanyikan oleh penyanyi wanita 
tapi liriknya menampilkan 
kekaguman seorang pria terhadap seorang wanita
Seberapa jauh hubungan lirik bawa dengan lirik tembang
kita cermati bersama!

Bawa:
Aja turu sore kaki,
Ana dewa langlang jagat, nyangking bokor kencanane
Isine donga tetulak, sandang klawan pangan
Yaiku bagiyanipun wong melek sabar narima

Dawah gendhing Sekar Kacang!

Ora butuh apa-apa,
Butuhku, butuhku, sabar-sabar narima
Kunir pita, sega golong mungging baya
Gonas, gones, wicarane
Yen ketemu, yen ketemu, sun sungsumke pitung dina
kembang mlati, yo mas, dironce-ronce, bapak
Kene setengah mati, sing kana ra piye-piye

Sabtu, 10 Desember 2016

ARYATI SELALU CINTA

ARYATI SELALU CINTA
Toto Endargo,S.IP

   Lirik lagu tahun 1950-an berbeda jauh dengan tahun 2010. 
Perilaku dan nuansa budaya cintanya jauh berbeda.

Ismail Marzuki
   Aryati Selalu Cinta, judul ini diambil dari dua buah judul lagu. Aryati, lagu gubahan Ismail Marzuki pada sekitar tahun 1950-an dan lagu Selalu Cinta dibawakan oleh Band Kotak, di-rilis dan terkenal mulai tahun 2010.
   Jika lagu dapat dianggap sebagai salah satu catatan budaya. Budaya pada masanya atau cerminan dari perilaku masyarakat pada saat lagu diciptakan maka akan kita dapati perilaku yang bertolak belakang, minimal ada perbedaan yang sangat nyata di antara keduanya.
   Jika dicermati terdapat hal yang unik dan menarik dari lirik kedua lagu ini. Unik karena memiliki syair yang khas tentang perasaan hati. Lagu Aryati adalah menggambarkan perasaan laki-laki yang mengagumi seorang perempuan yang bernama Aryati, sedang Selalu Cinta menggambarkan duka perasaan wanita yang dilukai oleh seorang laki-laki. Menarik karena yang satu menerima nasib walau belum terjadi, masih dalam mimpi, sedang yang satu seakan menyesali dengan semua yang telah terjadi dan menimpanya.