Rabu, 06 Juli 2022

Hukum Kirchhoff di Pewayangan

Untuk yang suka pelajaran fisika, tentu masih ingat Hukum Kirchhoff, ternyata hukum ini tergunakan juga di dunia pewayangan.


Penemunya Gustav Robert Kirchhoff, dari Jerman, hidup tahun 1824 - 1887. Bunyinya "Arus yang masuk pada titik percabangan, sama dengan, kuat arus yang keluar pada titik percabangan tersebut". Rumus ini berlaku di dalam cerita Mahabarata versi Jawa.


Bahwa kisah Mahabarata, yang aslinya, dari India, anak Pandawa itu hanya ada: dua, yaitu Gatotkaca dan Abimanyu. Namun para pujangga Jawa, para wali, kemudian melahirkan tokoh-tokoh sakti tanpa tanding, anak Pandawa: Antareja, Antasena, dan Wisanggeni.

Dengan tambahan tokoh tersebut maka menjadi mudah dan leluasa dalam membuat cerita carangan, mereka dapat dijadikan sebagai pokok awal cerita dan dapat pula sebagai tokoh kunci penyelesaian masalah. Dunia pewayangan menjadi semakin memikat untuk diceritakan dan dimainkan. 

Namun di akhir cerita yaitu pada episode perang Bharatayuda, ternyata tokoh-tokoh sakti tersebut dihilangkan. Sehingga di dalam perang Bharatayuda, kembali, hanya ada: dua anak Pandawa, yaitu Gatotkaca dan Abimanyu. Masuk ada dua, maka saat keluar pun ada dua juga.

Jadi para pujangga pewayangan itu, seperti mengaplikasikan Hukum Kirchoff, di mana arus yang datang sama dengan arus yang pergi. Dalam Mahabharata yang datang adalah Gatotkaca dan Abimanyu maka ketika memasuki perang Bharatayuda, kembali, anak Pandawa hanya ada Gatotkaca dan Abimanyu. 

.

Uniknya, untuk mengakhiri hidup tokoh-tokoh sakti tersebut, masing-masing berakhir dengan cara yang paling mudah. Mereka diminta keikhlasannya untuk mengakhiri hidupnya, dengan alasan kalau mereka ikut berperang maka Pandawa justru akan menjadi kalah. Dramatis dan tragis! 

Matinya tokoh Antareja, disuruh ikhlas bunuh diri, dengan cara menjilat bekas tapak kaki dirinya. Matinya Antasena dan Wisanggeni, hampir sama, keduanya disuruh untuk mengheningkan cipta, lalu dibantu oleh Sanghyang Wenang, akhirnya moksa dan lenyap tak berbekas.

.

Kenapa dihilangkan? Apa agar alur cerita perang Bharatayudha sesuai dengan aslinya? Mungkin! Atau mungkin, kalau dipaksakan, maka alur ceritanya akan menjadi semakin rumit, dan sulit untuk dibuatkan solusinya. 

Dan mungkin pula, justru kesulitan inilah yang sesungguhnya dijadikan alasan sebagai penyebab Pandawa kalah perang. Artinya jika Antasena, Antareja dan Wisanggeni ikut perang Bharatayuda, akan berakibat para pujangga Jawa itulah yang sebenarnya "kalah perang", karena kesulitan mencari solusi agar alur cerita Bharatayudha tetap sesuai dengan aslinya. Mungkin!

Begitu!

.

Demikianlah cerita tentang hubungan antara hukum Kirchhoff, yang datang belakangan, dengan kisah Pewayangan Jawa. Para pujangga dengan lugas dan bijak, mengemas kisah Mahabarata, menambahkan beberapa tokoh, mengembangkan cerita, dan akhirnya pun dikembalikan lagi agar sesuai dengan pakem aslinya. 

.

"Sejak kapan, kenal wayang, Pak?"

"Sejak kecil, sudah mainan wayang!"

"Gambar wayang kertas, yang untuk mainan,  apa namanya, dulu?"

"Mainan wayang, dulu, namanya: umbul, cemeh, dan tepo"

"Masih, ingat, cara mainnya, Pak!"

"Masih!"

"Siip!"


Semoga bermanfaat

Nuwun

.


Selasa, 05 Juli 2022

Pasar Tugu Taman Badhog Purbalingga (4)

 Pasar Tugu Taman Badhog Purbalingga (4)


Cerita tentang Pasar Mandiri, Tugu PHKN, Taman Maerakaca sudah, sekarang cerita tentang Pasar Badhog.


Pasar Badhog

Alkisah, tahun 1979 jembatan sungai Klawing yang berada di utara pasar Bancar rusak, dan kemudian di tahun 1980 putus. Lalulintas Bancar-Penaruban menggunakan gethek, rakit, tambangan. 

Dengan pemasangan Jembatan Bailey, lalulintas Purbalingga-Kaligondang teratasi. Jembatan Bailey, itu milik Angkatan Darat, terbuat dari baja ringan yang berkualitas tinggi, sederhana, mudah dirangkai, kokoh dan kuat, portabel, menjadi jembatan darurat. 

Tahun 1990 jembatan tersebut dinilai sudah tidak layak pakai, maka dibuatlah jembatan baru, sekitar 300 meter di barat jembatan lama. Peresmian jembatan baru, yang dekat tugu Bancar itu, tahun 1992. Maka jembatan Bailey, sebagai jembatan darurat dibongkar, sejak itu berakhirlah riwayat jembatan lama yang dibangun sekitar tahun 1920-an.

Dengan putusnya jembatan, maka ruas jalan aspal di antara Pasar Bancar sampai bekas jembatan itu, tidak lagi ada lalulintas kendaraan, tak ada lalu-lalang pejalan kaki. Sepi. Sampai-sampai, tokonya Pak Tjong pun, akhirnya tutup.

Namun seiring dengan waktu, karena dekat pasar tumpah, Pasar Bancar, akhirnya penjual sayuran dan penjual jajan pasar memanfaatkannya untuk lahan buka lapak. Akibatnya, jalan aspal buntu yang panjangnya hanya sekitar 75 meter itu, penuh dengan penjual makanan, penuh badhogan, terutama di hari libur dan hari Minggu, dan terkenal pula dengan sebutan Pasar Badhog. 

Lalu di pintu gerbang jalan, utara Kodim, ada tulisan: Bancar Badhog Center, itu artinya "badhogan" di sepanjang jalan menuju Pasar Bancar, terutama sroto, adalah juga bagian dari Pasar Badhog itu sendiri.

Demikianlah, sedikit, awal mula ada Pasar Badhog di dekat Pasar Bancar. Dan sesungguhnya Pasar Bancar sendiri dikenal sebagai pasar tumpah, puluhan tahun, setiap pagi, penjual dan pembeli melimpah memenuhi jalan yang menuju ke Jatisaba. Maka menjadi hal yang wajar kalau kini muncul Pasar Badhog yang sekarang.

.

"Kok tahu, Pasar Bancar, pasar tumpah?"

"Ya tahu. Tahun 1978 - 1992, naik sepeda, mengajar di kelas Jatisaba"

"Oh, begitu. Lalu bekas jembatan lama, apa masih ada?"

"Ya, masih. Tapi seiring waktu ya, bekasnya semakin menyusut"

"Masih bisa dilihat?"

"Masih, di ujung utara Pasar Badhog, itu tebing sungai Klawing. Lihat saja, semoga kelihatan bekas pondasinya, baik yang di tepi selatan maupun yang di tepi utara!"

"Lah, yang di tengah?"

"Sudah, ambrol!"

"Oh!"

.

Nuwun

====

.

Pasar Tugu Taman Badhog Purbalingga (3)

 Pasar Tugu Taman Badhog Purbalingga (3)


Cerita tentang Pasar Mandiri, Tugu PHKN sudah, sekarang cerita tentang Taman Maerakaca.


Taman Maerakaca

Dalam ceritera wayang Taman Maerakaca itu adanya di Negeri Pancala. Taman yang dibangun hasil sayembara untuk memperistri Dewi Srikandi. Taman ini juga pernah porak poranda karena peperangan antara Arjuna dengan Prabu Jungkung Mardeya, dalam rangka memperebutkan Dewi Srikandi itu. Dan sekitar tahun 1970, Maerakaca menjadi nama taman di utara Kodim 0702 Purbalingga. Maerakaca, dari kata "mawra = menyebar" dan "kaca = cermin", jadi Taman Maerakaca dapat diartikan sebagai tempat yang disediakan untuk istirahat, sambil bercermin diri, dan untuk menyebarkan cahaya kebaikan.

Dulu sekitar tahun 1980, taman Maerakaca, masih bersebelahan dengan Kodim, tidak ada jalan aspal yang membelahnya. Taman sangat sederhana, hanya ada beberapa pohon flamboyan, dan banyak rimbunan bunga alamanda. Di tengah taman ada jalan setapak membelah untuk penduduk yang ada di wilayah timur Kodim. Walaupun di kota, dan cukup luas, namun taman ini tidak cukup terawat. 

Seiring dengan waktu, penjual pertama di dalam taman adalah Es Kombinasi, yang legendaris itu, dan kemudian berdiri pula warung bakso di dalam taman. Tahun 1983 di sebelah barat juga ada terpasang TV umum.

Dulu, sebelum ada jembatan yang sekarang, jalan aspal ke Jatisaba itu, menyusuri tepi sungai Klawing. Jadi, jika dari arah timur, depan Kantor Pengadilan, terus lurus ke barat, menjelang jembatan yang sekarang, belok kiri, jalan sedikit naik, sampai ke pertigaan. 

Wilayah tepi sungai, di utara jalan, dulu adalah untuk terminal bambu. Rakit-rakit bambu menggunakan Sungai Klawing sebagai penghela bambu, dari hulu sampai ke Bancar. Rakit ditarik ke tepian dan bertumpuk di tepi jalan. Sampai sekitar tahun 1990-an, yang sekarang menjadi taman itu, dahulu adalah jalan aspal dan terminal bambu.


"Seperti pelabuhan bambu, ya Pak?"

"Iya! Ada pohon waru, siswa STM sering nongkrong di situ, pokoknya jaman dulu sekolah itu santai, bawa buku hanya satu. YPT, yang penting tamat!"

"Apa bangga, jadi siswa STM?"

"Banggalah! Anak STM itu kompak"

"Oh, gitu ya Pak?

"Ya, begitulah!"

.

Nuwun

====

.

Pasar Tugu Taman Badhog Purbalingga (2)

 Pasar Tugu Taman Badhog Purbalingga (2)

.

Cerita tentang Pasar Mandiri, sudah, sekarang cerita tentang Tugu Bancar.

.

Tugu Bancar

Dulu tahun 1964 - 1975, STM Purbalingga "Bersubsidi" Purbalingga, atau dikenal dengan nama STM YPT Purbalingga, gedung sekolahnya ada di Bancar, dekat Kodim 0702, Purbalingga. 

Gedungnya, pagi untuk STN 1 Purbalingga, dan sore untuk STM YPT. Gedung sekolah berbentuk gudang besar, masih menghadap ke utara, menghadap ke pertigaan, dan di pertigaan itu berdiri tegak menjulang tinggi Tugu Bancar, dikelilingi melingkar rantai pembatas. Kalau jam istirahat, ada saja siswa STM yang duduk-duduk di ambal-ambalan kaki tugu. Jika dibandingkan dengan tugu Bancar yang sekarang, yang dulu jelas lebih keren, tinggi, dan gagah. Ada plakat penanda bangunan di sisi barat, bunyinya: Tugu Peringatan Hari Kebangunan Nasional Setengah Abad, 20-5-1908 --- 20-5-1958. Tugu tersebut berada di tengah pertigaan, kalau ke barat arah alun-alun, ke selatan arah ke Bojong, ke utara sedikit lalu ke timur, itu, arah menuju Penaruban dan Jatisaba. Jadi kalau mau ke Penaruban, Rumah Sakit Trenggiling, Kaligondang, harus lewat depan gedung pengadilan, Pasar Bancar, belok kiri.

Oleh sebab letak dan nilai sejarahnya itulah, maka Tugu PHKN (Peringatan Hari Kebangunan Nasional) ke 50, terabadikan dalam logo STM YPT Purbalingga, sekarang SMK YPT 1 Purbalingga. Hari Kebangunan Nasional, sekarang diubah menjadi Hari Kebangkitan Nasional. 

Beda pimpinan, beda selera. Ternyata tugu bersejarah yang peresmiannya tahun 1958 itu, dengan sengaja dibongkar, praktis hanya plakat dan bentuknya saja yang sepertinya terselamatkan. Dan ketika mencoba membangun kembali Tugu PHKN, hasilnya kurang sreg, baik tempat maupun ukurannya. Akhirnya tugu yang sekarang itu, di samping sudah kehilangan ukuran aslinya, juga kehilangan roh sejarahnya. Jadi tugu PHKN yang sekarang, yang ada di taman Maerakaca itu, adalah tugu duplikat yang ternyata tidak sesuai  dengan ukuran aslinya. 

Nasib.

.

"Dulu, pernah duduk-duduk di bawah tugu, Pak?"

"Ya, sering banget!"

"Kok, sering banget, kenapa?"

"Lho, saya tahun 1972 - 1974 sekolah di STM YPT Purbalingga, itu!"

"Oh, jadi pernah bersahabat dengan almarhum Tugu PHKN yang asli ya?"

"Ya, begitulah! Kalau jam istirahat, keluar kelas, boleh nongkrong di tugu!"

"Nostalgia, ya Pak?"

"Iya!"

.

Nuwun

====

.

Pasar Tugu Taman Badhog Purbalingga (1)

 Pasar Tugu Taman Badhog Purbalingga (1)

Cerita singkat tentang Pasar Mandiri, Tugu Bancar, Taman Maerakaca dan Pasar Badhog, Purbalingga


Pasar Mandiri

Dahulu di jalan Pujowiyoto, dekat perempatan SD Purbalingga Wetan ada pasar. Pasar krempyeng, pasar yang ramainya hanya waktu pagi, sampai sekitar jam sembilan, sudah sepi kembali. Di pasar ini, walau ada juga penjual ayam, namun mayoritas para pedagang jualannya jajan pasar dan sayuran. Pasar krempyeng di pinggir jalan Pujowiyoto ini dikenal dengan nama Pasar Badhog. Kata mbadhog, yang berarti makan, dan badhogan artinya makanan, maka kata "badhog" rupanya sengaja disematkan untuk nama pasar ini, karena di pasar banyak penjual makanan, atau badhogan itu. 

Sebenarnya kata badhog, badhogan, mbadhog, adalah bahasa ngoko kasar, kurang sopan, tapi apa boleh buat, begitulah yang tersaji dan terjadi. Dalam hal ini, ternyata kata badhogan menjadi lebih populer dibandingkan dengan kata jajanan atau panganan. 

Jadi dahulu sudah ada pasar badhog, pasar yang mayoritas menyajikan makanan, atau badhogan, jajan pasar, dan itu berada di Jalan Pujowiyoto.

Seiring dengan waktu, keramaian pasar ini akhirnya mengganggu lalu lintas, maka sekitar tahun 1990-an, pasar ini lokasinya digeser, ke lahan tanah Makam Narasoma yang berada di barat jalan. 

Para pedagang pun, suka tidak suka pindah ke lokasi baru tersebut. Dan walaupun pedagang dan jualannya sama, ternyata nama pasarnya diubah, dengan nama: Pasar Mandiri. Maka berakhirlah riwayat pasar badhog yang berada di perempatan dekat Bu Timah, pedagang sayuran yang dulu legendaris.

Begitulah sedikit cerita tentang awal-mula Pasar Mandiri, Purbalingga, yang sesungguhnya berawal dari pasar badhog versi lama. 

Semoga berkenan.

.

"Dulu, pernah beli apa di Pasar Badhog, Pak?"

"Jiwel"

"Kok, jiwel?"

"Iya, jiwel, yang kalau makan dijiweli, terus dimasukkan ke mulut!"

"Oh! Kalau jongkong, bagaimana?'

"Jongkong, kalau makan langsung di jongkongkan ke mulut!"

"Lah kalau pipis?"

"Pipis, ya pipis dulu lah, baru boleh makan!"

"Bukan, dipipisi dahulu, baru dimakan?"

"Nggaklah! Jorok itu!"

.

Nuwun

=======

.