![]() |
| Organisasi Pelajar - Toto Endargo - AI |
Oleh: Toto Endargo
1. Pandu: Pendidikan Karakter Sebelum Indonesia Merdeka. Ketika Anak Muda Belajar Menjadi Penunjuk Jalan
Sebelum Indonesia mengenal Pramuka, anak-anak dan remaja Indonesia telah mengenal dunia kepanduan. Mereka disebut Pandu.
Kepanduan di Indonesia tumbuh pada masa Hindia Belanda, ketika gerakan kepanduan dari Eropa mulai dikenal. Organisasi kepanduan kemudian didirikan oleh berbagai kelompok masyarakat Indonesia. Salah satunya adalah Javaansche Padvinders Organisatie yang berdiri di Mangkunegaran pada 1916.
Namun, kepanduan Indonesia tidak sekadar meniru kepanduan Eropa. Dalam perkembangannya, kegiatan kepanduan mulai diberi warna kebangsaan. Anak-anak muda diajarkan disiplin, keberanian, tanggung jawab, kerja sama, pertolongan pertama, keterampilan hidup, serta kecintaan kepada tanah air. Di sinilah ciri khas Pandu mulai terlihat.
Pandu adalah pendidikan karakter melalui pengalaman.
Mereka tidak hanya duduk mendengarkan nasihat. Mereka belajar dengan melakukan. Berkemah mengajarkan kemandirian. Baris-berbaris mengajarkan disiplin. Sandi dan morse melatih kecermatan. Pertolongan pertama menumbuhkan kepedulian terhadap sesama. Kehidupan kelompok mengajarkan bahwa seseorang tidak dapat hidup hanya untuk dirinya sendiri.
Dalam suasana pergerakan nasional, pendidikan semacam itu mempunyai arti yang lebih besar. Kepanduan ikut menumbuhkan generasi muda yang memiliki rasa persatuan dan kesadaran kebangsaan.
Setelah Indonesia merdeka, semangat kepanduan tetap hidup. Bahkan sejumlah anggota kepanduan kemudian terlibat dalam berbagai kegiatan perjuangan mempertahankan kemerdekaan. Karena itu, Pandu tidak tepat jika hanya dikenang sebagai anak-anak yang berkemah dengan seragam dan tongkat.
Di balik seragam itu terdapat sebuah pendidikan.
Pendidikan untuk menjadi manusia yang siap menolong, siap memimpin, siap bekerja sama, dan siap menghadapi kesulitan. Kelak, berbagai organisasi kepanduan tersebut menjadi bagian dari perjalanan panjang yang berujung pada lahirnya Gerakan Pramuka pada 1961. Dengan demikian, Pandu adalah salah satu akar penting sejarah pendidikan generasi muda Indonesia.
Dari Pandu, anak-anak Indonesia belajar sebuah prinsip sederhana: menjadi manusia berguna tidak cukup dengan mengetahui; seseorang harus mampu melakukan.
===
2. Tentara Pelajar: Ketika Pelajar Turun Mempertahankan Kemerdekaan
Kemerdekaan Indonesia diproklamasikan pada 17 Agustus 1945. Tetapi kemerdekaan itu belum serta-merta membuat keadaan menjadi aman. Belanda berusaha kembali. Pertempuran terjadi di berbagai daerah. Republik yang masih muda membutuhkan tenaga untuk mempertahankan kemerdekaan.
Pada saat itulah muncul fenomena yang sangat khas dalam sejarah Indonesia: pelajar ikut berjuang. Mereka kemudian dikenal dengan berbagai nama, antara lain Tentara Pelajar (TP), Tentara Republik Indonesia Pelajar (TRIP), dan berbagai kesatuan pelajar lainnya sesuai daerahnya seperti Pasukan Pelajar IMAM (Indonesia Merdeka Atau Mati). Mereka bukan tentara profesional yang sejak awal memilih karier militer. Mereka adalah pelajar.
Usianya masih belasan tahun. Sebagian masih mengenakan pakaian sekolah. Tetapi dalam keadaan tertentu mereka membawa senjata, menjadi kurir, penghubung, penjaga keamanan, atau membantu pasukan republik.
Inilah yang membuat sejarah Tentara Pelajar begitu unik.
Jika Pandu pada masa sebelumnya mendidik keberanian dan kedisiplinan melalui kegiatan kepanduan, maka Tentara Pelajar menghadapi keadaan ketika keberanian itu benar-benar diperlukan untuk mempertahankan kemerdekaan.
Misi utama mereka bukan mengejar jabatan ataupun mencari keuntungan. Dalam konteks revolusi, mereka merasa mempunyai kewajiban untuk mempertahankan negara yang baru saja lahir.
Karakter Tentara Pelajar dibentuk oleh keadaan: berani, disiplin, rela berkorban, setia kawan, dan memiliki rasa tanggung jawab terhadap bangsa.
Tetapi ada sisi lain yang tidak boleh dilupakan. Mereka tetaplah pelajar. Mereka sebenarnya mempunyai masa depan di bangku sekolah. Karena itu, setelah perjuangan berakhir, banyak di antara mereka kembali melanjutkan pendidikan.
Di sinilah kita melihat sebuah ironi sejarah. Anak-anak yang seharusnya belajar di sekolah justru harus ikut mempertahankan sekolah, kota, dan negaranya.
Tentara Pelajar akhirnya menjadi bagian dari memori penting Revolusi Indonesia.
Mereka mengajarkan bahwa dalam keadaan luar biasa, generasi muda dapat mengambil tanggung jawab yang luar biasa pula. Namun sejarah Tentara Pelajar juga memberikan pesan lain: perang bukanlah cita-cita seorang pelajar.
Mereka terlibat karena zamannya memanggil. Dan setelah perang berakhir, cita-cita yang sesungguhnya adalah kembali belajar dan membangun negeri.
===
3. Pramuka: Menyatukan Tradisi Kepanduan Indonesia
Jika Pandu merupakan salah satu akar sejarahnya, maka Pramuka adalah bentuk baru kepanduan Indonesia setelah kemerdekaan. Sebelum 1961, Indonesia memiliki banyak organisasi kepanduan. Masing-masing mempunyai latar belakang, lingkungan, dan identitas sendiri.
Keadaan tersebut pada satu sisi memperlihatkan semangat masyarakat Indonesia. Tetapi pada sisi lain menimbulkan persoalan: terlalu banyak organisasi kepanduan dapat membuat pembinaan generasi muda berjalan sendiri-sendiri.
Pada 1961 pemerintah mengambil langkah untuk menyatukan gerakan kepanduan dalam satu organisasi nasional. Lahirnya Gerakan Pramuka kemudian ditandai dengan 14 Agustus 1961, yang selanjutnya diperingati sebagai Hari Pramuka.
Nama Pramuka merupakan singkatan dari Praja Muda Karana, yang secara umum dimaknai sebagai orang-orang muda yang suka berkarya.
Tetapi apa sebenarnya misi Pramuka? Pada dasarnya, Pramuka membawa semangat pendidikan kaum muda melalui kegiatan yang menarik, praktis, berkelompok, dan dilakukan di alam terbuka.
Karena itu, karakter Pramuka sangat khas. Ada Dasa Darma, ada Tri Satya, ada kegiatan berkemah, penjelajahan, baris-berbaris, tali-temali, sandi, pertolongan pertama, kegiatan sosial, hingga berbagai bentuk pengabdian masyarakat.
Pramuka bukan organisasi militer.
Seragamnya mungkin tampak disiplin. Kegiatannya mungkin mengandung baris-berbaris. Tetapi tujuan utamanya adalah pendidikan karakter, bukan pendidikan kemiliteran. Pramuka berusaha membentuk anak muda agar: mandiri, disiplin, bertanggung jawab, mampu bekerja sama, peduli kepada lingkungan dan masyarakat, serta memiliki rasa cinta tanah air.
Ada sesuatu yang menarik dari perjalanan Pandu menuju Pramuka. Semangat dasarnya tidak hilang. Yang berubah adalah wadahnya. Jika dahulu banyak organisasi Pandu berdiri sendiri-sendiri, Pramuka mencoba menjadikannya satu gerakan nasional.
Maka setiap 14 Agustus bukan sekadar hari mengenakan seragam cokelat. Hari Pramuka adalah pengingat bahwa pendidikan generasi muda mempunyai sejarah yang panjang. Dari zaman kepanduan, melalui zaman revolusi, hingga zaman pembangunan, bangsa Indonesia selalu membutuhkan generasi muda yang mampu berdiri sendiri. Pramuka meneruskan semangat itu dengan cara pendidikan, bukan peperangan.
===
4. KOJARSENA: Ketika Pelajar Dibentuk Menjadi Generasi Serbaguna
Di antara sejarah Pramuka dan OSIS terdapat satu nama yang sekarang mungkin sudah jarang terdengar: KOJARSENA, singkatan dari Korps Pelajar Serbaguna.
KOJARSENA muncul pada pertengahan 1960-an, sekitar 1965, dalam suasana Indonesia yang sangat berbeda dengan keadaan sekarang. Negara sedang mengalami pergolakan politik dan keamanan. Setelah peristiwa 1965, pemerintah berusaha menata kembali berbagai organisasi kemasyarakatan dan kepemudaan. Dalam suasana tersebut, pelajar juga menjadi perhatian.
KOJARSENA diarahkan menjadi wadah pembinaan pelajar dengan semangat disiplin, nasionalisme, kesiapsiagaan, dan kemampuan serbaguna. Berbeda dengan OSIS yang kemudian berkembang sebagai organisasi siswa di lingkungan sekolah, KOJARSENA mempunyai karakter korps yang lebih kuat.
Istilah "korps" sendiri sudah memberikan gambaran tentang cirinya. Ada rasa kebersamaan sebagai satu kesatuan. Ada disiplin. Ada tata organisasi. Ada pembinaan yang lebih terstruktur.
Keanggotaannya juga berkaitan dengan pelajar dari berbagai jenjang pendidikan. Dalam konsepnya, pelajar SD, SMP, hingga SMA/sederajat dapat berada dalam lingkungan pembinaan KOJARSENA.
Misi utamanya adalah membentuk pelajar yang tidak hanya pandai secara akademis, tetapi juga memiliki kedisiplinan, kepemimpinan, kesiapsiagaan, dan kemampuan membantu masyarakat.
Karena itu, karakter KOJARSENA terasa berbeda dari Pramuka.
Pramuka menonjolkan pendidikan kepanduan dan pembentukan watak melalui kegiatan kepanduan. KOJARSENA lebih menonjolkan karakter korps pelajar, kedisiplinan, kesiapsiagaan, dan semangat serbaguna. Keduanya sama-sama membina generasi muda, tetapi lahir dari konteks sejarah yang berbeda.
KOJARSENA juga tidak dapat disamakan dengan Tentara Pelajar.
Tentara Pelajar lahir dalam situasi revolusi dan perjuangan mempertahankan kemerdekaan. KOJARSENA muncul kemudian, dalam suasana pembinaan pelajar setelah Indonesia merdeka.
Jadi, jika Tentara Pelajar adalah anak sekolah yang terpaksa memasuki dunia perjuangan karena keadaan perang, KOJARSENA adalah pelajar yang dibina agar siap menghadapi berbagai keadaan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Itulah sebabnya nama KOJARSENA penting dicatat dalam sejarah pendidikan generasi muda Indonesia. Mungkin masa hidupnya tidak sepanjang Pramuka. Mungkin kemudian kalah dikenal dibandingkan OSIS.
Tetapi pernah ada satu generasi pelajar Indonesia yang mengenakan identitas KOJARSENA dan merasakan dirinya sebagai bagian dari sebuah korps pelajar.
Dan sejarah seperti ini jangan sampai hilang hanya karena organisasi tersebut sudah tidak lagi menjadi bagian dari kehidupan sekolah sekarang.
===
5. OSIS: Ketika Siswa Belajar Mengurus Sekolahnya Sendiri
Hari ini hampir setiap siswa SMP dan SMA mengenal OSIS. Ada ketua OSIS, wakil ketua, sekretaris, bendahara, dan berbagai seksi. Mereka menyelenggarakan kegiatan sekolah, lomba, pentas seni, bakti sosial, dan berbagai kegiatan kesiswaan.
Tetapi OSIS juga mempunyai sejarah. OSIS adalah singkatan dari Organisasi Siswa Intra Sekolah. Kata "intra sekolah" merupakan kunci untuk memahami karakter organisasi ini. OSIS berada di dalam satu sekolah.
Ia bukan korps pelajar lintas sekolah seperti konsep KOJARSENA. Ia bukan organisasi kepanduan seperti Pramuka. Dan tentu bukan kesatuan perjuangan seperti Tentara Pelajar.
OSIS dibangun sebagai wadah organisasi siswa dalam lingkungan sekolah. Dalam perkembangannya pada awal 1970-an, pemerintah melalui Departemen Pendidikan dan Kebudayaan mendorong OSIS sebagai wadah utama organisasi siswa di sekolah.
Misinya sangat dekat dengan dunia pendidikan. Siswa belajar memimpin teman-temannya. Mereka belajar membuat program, menyusun kepanitiaan, mengelola kegiatan, berbicara di depan umum, bekerja sama dengan guru, menyelesaikan persoalan, dan bertanggung jawab terhadap keputusan yang telah dibuat.
Karena itu, ciri khas OSIS adalah kepemimpinan siswa dalam lingkungan sekolah. Ketua OSIS bukan "komandan". Ia adalah siswa yang dipercaya memimpin organisasi siswa. Strukturnya pun relatif familiar: ketua, wakil ketua, sekretaris, bendahara, dan berbagai bidang kegiatan.
Jika dibandingkan dengan organisasi-organisasi sebelumnya, perubahan ini cukup menarik.
· Pada masa Pandu, anak muda belajar menjadi manusia yang disiplin dan mandiri.
· Pada masa revolusi, Tentara Pelajar belajar mempertahankan kemerdekaan.
· Pada 1960-an, Pramuka dan KOJARSENA hadir dengan model pembinaan generasi muda masing-masing.
· Kemudian OSIS berkembang dengan pendekatan yang lebih dekat dengan kehidupan sekolah.
Sekolah tidak hanya menjadi tempat siswa menerima pelajaran dari guru. Sekolah juga menjadi tempat siswa belajar mengorganisasi dirinya sendiri. Inilah salah satu nilai penting OSIS.
Seorang ketua OSIS mungkin belum menjadi pejabat. Seorang bendahara OSIS mungkin belum menjadi pengelola keuangan perusahaan. Seorang sekretaris OSIS mungkin belum menjadi administrator sebuah lembaga.
Tetapi mereka sedang belajar.
· Belajar bahwa memimpin berarti bertanggung jawab.
· Belajar bahwa program harus direncanakan.
· Belajar bahwa keputusan harus dilaksanakan bersama.
· Dan belajar bahwa organisasi bukan hanya soal jabatan, tetapi soal pekerjaan yang harus diselesaikan.
Karena itu, perjalanan dari Pandu, Tentara Pelajar, Pramuka, KOJARSENA hingga OSIS sebenarnya memperlihatkan satu benang merah: bangsa Indonesia selalu mencari cara untuk mendidik generasi mudanya sesuai dengan tuntutan zamannya.
Bentuk organisasinya berubah. Zamannya berubah. Tantangannya berubah. Tetapi kebutuhan untuk membentuk generasi muda yang disiplin, bertanggung jawab, mampu bekerja sama, dan siap menjadi pemimpin tetap sama.
Mungkin itulah alasan mengapa sejarah organisasi pelajar layak dikenang. Sebab, sebelum menjadi pemimpin bangsa, banyak orang terlebih dahulu belajar memimpin sebuah regu, sebuah pasukan, sebuah korps, atau sebuah organisasi siswa di sekolahnya.
===
