Selasa, 05 Mei 2026

Arif, Pertemuan yang Tak Terduga

 


 Cerita Pendek

Arif, Pertemuan yang Tak Terduga

Barangkali setiap orang punya satu nama yang tidak pernah benar-benar hilang dari ingatan. Bukan karena ia paling penting, bukan juga karena pernah menjadi siapa-siapa—melainkan karena ia selalu muncul di waktu yang tak terduga, seperti halaman yang berkali-kali terbuka sendiri.

Bagiku, nama itu adalah Arif. Kami sebenarnya sudah saling mengenal sejak SMP. Ia kakak kelas—kelas tiga, sementara aku masih kelas satu. Kami tidak dekat. Tidak pernah benar-benar berbincang lama. Tapi aku mengenalnya sebagai salah satu wajah yang akrab di koridor sekolah—yang kadang lewat, kadang menyapa seperlunya, lalu hilang di antara keramaian.

Kupikir, seperti kebanyakan kakak kelas, ia akan selesai di sana—menjadi bagian dari masa lalu yang pelan-pelan memudar. Ternyata tidak.

Setelah lulus SMP, aku melanjutkan SMA di Purwokerto. Aku tinggal bersama Mbah di Bancarkembar, di sebuah rumah yang tidak pernah benar-benar sepi. Rumah itu adalah rumah kos. Orang datang dan pergi, membawa cerita masing-masing, meninggalkan jejak yang kadang bahkan tidak mereka sadari.

Sebagian besar anak kos berasal dari Purbalingga. Logatnya sama, candaannya serupa, dan anehnya, suasana itu membuatku merasa tidak benar-benar jauh dari rumah.

Di tengah hiruk-pikuk itu, suatu hari Arif datang. Bukan sebagai penghuni, hanya sebagai tamu. Ia bermain di bagian belakang, bergabung dengan anak-anak kos yang lain. Ia tertawa, bercakap, lalu pergi. Datang lagi di lain waktu, lalu pergi lagi.

Mungkin hanya dua atau tiga kali. Tidak ada percakapan penting antara kami. Tidak ada peristiwa yang layak diingat. Ia hanya… lewat. Seperti dulu di SMP—hadir sebentar, lalu menghilang.

Waktu kembali bergerak. Aku lulus SMA. Pindah ke Jogja. Tinggal di sebuah kos di Mrican—tempat yang jauh lebih sunyi dibanding rumah Mbah. Tidak banyak suara. Tidak banyak cerita. Hari-hari berjalan lebih pelan, lebih hening.

Dan di situlah, tanpa rencana, Arif muncul lagi. Kali ini bukan sekadar lewat. Ia datang ke kosku. Awalnya hanya sekali. Lalu dua kali. Lalu semakin sering, seolah-olah jarak waktu yang panjang sejak SMP dan Bancarkembar tidak pernah benar-benar ada.

Kami mulai berbincang lebih lama. Tentang hal-hal sederhana. Tentang masa lalu yang samar. Tentang hal-hal yang bahkan tidak terlalu penting, tapi cukup untuk membuat waktu terasa ringan.

Aku tidak pernah benar-benar tahu sejak kapan ia menjadi “akrab”. Yang jelas, suatu hari ia datang dengan permintaan yang membuat semuanya berubah sedikit.

“Aku minta tolong,” katanya. Nada suaranya tidak seperti biasanya. Ada sesuatu yang ditahannya.

“Tolong apa?” Ia sempat diam, seolah menyusun kata-kata yang tepat.

“Temenin aku ke rumah temanku… di Karangmalang,” katanya pelan. “Tapi… kamu pura-pura jadi pacarku.”

Kalimat itu terasa ganjil. Terlalu tiba-tiba. Aku menatapnya, mencoba mencari penjelasan dari wajahnya.

“Kenapa harus aku?”

Ia tersenyum kecil. “Percaya saja.” Jawaban yang sederhana, tapi justru membuatku semakin bingung. Seharusnya aku menolak. Tapi entah kenapa, aku mengangguk.

Mungkin karena rasa ingin tahu. Mungkin karena percaya. Atau mungkin karena, pada usia itu, kita sering kali tidak butuh alasan yang kuat untuk melakukan sesuatu yang aneh.

Perjalanan ke Karangmalang terasa berbeda dari perjalanan biasa. Aku membawa peran yang bahkan tidak kupahami sepenuhnya. Sesampainya di sana, semuanya berjalan begitu saja.

Kami disambut. Dipersilakan masuk. Obrolan mengalir ringan. Lalu, tanpa aba-aba panjang, Arif memperkenalkanku.

“Ini pacarku.” Ia mengatakannya dengan begitu mudah. Seolah itu kebenaran yang tidak perlu dipertanyakan. Aku tersenyum. Menyalami orang-orang yang menyambutku dengan hangat. Dalam beberapa detik, aku sudah menjadi seseorang yang bukan diriku—dan yang aneh, aku bisa menjalaninya.

Kami duduk berdampingan. Sesekali saling melirik. Seolah ada sesuatu yang kami bagi, padahal sebenarnya tidak ada apa-apa—hanya kesepakatan diam-diam yang kami jalani tanpa kata.

Tidak ada drama. Tidak ada ketegangan besar. Tapi justru itu yang membuatnya terasa aneh—semuanya terlalu wajar untuk sesuatu yang tidak nyata. Sepulang dari sana, suasana di antara kami sedikit berubah. Tidak canggung, tapi juga tidak sama. Seolah ada sebuah rahasia kecil yang kami simpan bersama, tanpa pernah benar-benar ingin membukanya.

Sebagai ucapan terima kasih, Arif mengajakku makan sate di Samirono, dekat Colombo. Malam itu hangat. Asap sate tipis naik ke udara. Lampu jalan memantul di meja sederhana tempat kami duduk.

“Kamu hebat juga,” katanya sambil tersenyum.

Aku tertawa kecil. “Aku juga nggak ngerti kenapa mau.”

Ia tidak menjawab. Hanya tersenyum. Dan seperti sebelumnya, ia tidak pernah benar-benar menjelaskan alasan di balik semua itu. Setelah malam itu, ia masih datang ke kosku. Tapi tidak sesering dulu. Perlahan, jarak itu muncul dengan sendirinya—tanpa sebab yang jelas, tanpa perpisahan yang nyata. Hingga akhirnya, kami berhenti bertemu.

Lalu hidup berjalan lebih jauh. Aku pindah ke Jakarta. Bekerja. Menjalani kehidupan yang lebih teratur. Lebih serius. Sampai suatu hari, seperti lingkaran yang menutup dirinya sendiri, aku bertemu lagi dengan Arif. Di sebuah kantor bank di Setiabudi Kuningan.

Bukan karena kami saling mencari. Tapi karena hidup mempertemukan kami lewat cara yang tak pernah bisa ditebak. Pacarku saat itu—yang kemudian menjadi suamiku—ternyata satu kantor dengan Arif. Aku sempat terdiam. Dari sekian banyak kemungkinan, kenapa harus dia lagi?

Kami berbincang. Mengingat sedikit masa lalu. Tertawa atas hal-hal yang dulu terasa aneh. Tidak ada yang perlu dijelaskan. Tidak ada yang perlu diluruskan. Seperti biasa, semuanya berjalan begitu saja.

Dan seperti biasa pula, pertemuan itu tidak berlangsung lama. Suamiku pindah kerja. Kami kembali terpisah. Arif kembali menjadi nama yang menjauh. Sampai beberapa bulan lalu, namanya muncul lagi. Kali ini di layar. Facebook.

Kami saling menyapa. Bertukar kabar. Lalu berbicara lewat telepon, seperti mengulang kebiasaan lama yang tidak pernah benar-benar hilang. Suaranya masih sama.

Dan anehnya, dari semua pertemuan itu—dari SMP, Bancarkembar, Mrican, hingga Jakarta—yang paling melekat justru satu hari di Karangmalang. Hari ketika aku menjadi seseorang yang bukan diriku. Hari ketika sebuah peran dijalani tanpa alasan yang jelas, tapi terasa begitu nyata.

Kadang aku berpikir, mungkin tidak semua orang hadir untuk menjadi bagian besar dalam hidup kita. Ada yang datang hanya untuk satu adegan. Satu peran singkat. Satu cerita yang tidak selesai. Namun justru karena tidak selesai, ia tidak pernah benar-benar hilang. Seperti Arif.

Sejak SMP, ia hanya lewat.
Di Bancarkembar, ia hanya singgah.
Di Jogja, ia sempat menjadi cerita.
Di Jakarta, ia muncul kembali.

Dan sampai sekarang, ia tetap begitu—
tidak pernah benar-benar dekat,
tidak pernah benar-benar jauh,
tapi selalu… ada di ingatan yang sama.

Purbalingga, 24 Mei 2011

 

 

Senin, 23 Februari 2026

Jejak Ki Tepus Rumput dari Ponorogo ke Tegal

 


Jejak Ki Tepus Rumput dari Ponorogo ke Tegal

Oleh: Toto Endargo

“Bhatara Katong: Pendiri Ponorogo dan Warisan Keturunan”

Di tanah Wengker, Ponorogo, dahulu berdiri seorang adipati yang bijaksana bernama Bhatara Katong. Ia dikenal sebagai pendiri kadipaten Ponorogo, menata wilayah, rakyat, dan mengukuhkan hukum adat sekaligus awal penyebaran Islam.

Bhatara Katong memiliki cucu dan cicit yang kelak menjadi penguasa lokal setelahnya. Mereka meneruskan garis keturunan, menjaga hubungan dengan pusat kekuasaan Pajang, dan tetap menjaga stabilitas Ponorogo. Beberapa generasi dari keturunan ini menjadi murid Ki Ageng Kutu, tokoh tasawuf dan penyebar Islam di Ponorogo, sehingga pengaruh spiritual berjalan beriringan dengan legitimasi politik.

Jumat, 09 Januari 2026

Wujud Teks Babad Onje

 


Wujud Teks Babad Onje

Wujud Teks Babad Onje ini disalin dari Cerita Adipati Onje Dalam Naskah-Naskah Babad, skripsi yang diajukan dalam rangka penyelesaian Studi Strata I untuk mencapai gelar Sarjana Sastra oleh Diana Wisnandari, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Semarang, 2007.

Skripsi ini telah dipertahankan di hadapan sidang Panitia Ujian Skripsi Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Semarang pada hari: Selasa tanggal: 30 Januari 2007

.

Wujud Teks Babad Onje (I)

Halaman 1 - 63

.

/1/, /2/, /3/ kosong.

/4/tidak dapat ditafsirkan karena isinya tidak jelas.

/5/punika dunga wicara ba’da adan allahumma rabbahadihi da’watittamah wasshalatu alqaimatahu ati Sayidina muhammadi alwasilata wab’aftshu makoma mahmudalladzi waattah innakaltuh lifud mi’ad

/6/ s.d /12/kosong.

/13/alhamduliladzi wa’adz tahu ya arhamarahimina inakaltuh lifulmi’awalu rabbi a’idzini min kulaika lamun.......adzab Allahi. Punika dunga wicara ing antarane .....allahumma nauwir qulubana Allahu akriwalmura tibati walayina qulubana bi taufik wallatif walhamdullillah al khabir walhidayah.

/14/ kosong.

/15/, /16/merupakan sebuah doa yang tidak lengkap jadi tidak disunting disini.

/17/ s.d /20/ kosong.

/21/Punika serat sejarah Babad Onje. Ingkang mertapa ing Onje nami Kiyai Tepus Rumput, sampuning mertapa lajeng suwita dhateng Kanjeng Sultan Pajang. boten antawis lami wonten dhawuh undhang: ”Sapa sira bocah ingsun kang bisa anjuput ali-aliningsun, Socaludira wasiyat, saiki kalebu aneng sumur jumbleng. Ingkang abdi boten wonten ingkang saguh mendhet, amung Kiyai Tepus Rumput 

Senin, 17 November 2025

Persetujuan dengan Bung Karno: Puisi dan Politik yang Saling Menyapa

 

Chairil Anwar: Persetujuan dengan Bung Karno

Persetujuan dengan Bung Karno: Puisi dan Politik yang Saling Menyapa

Oleh: Toto Endargo

1. Dua Api dari Satu Zaman

Ayo! Bung Karno kasi tangan mari kita bikin janji...

Bait pembuka itu bukan sekadar panggilan dari seorang penyair kepada presiden. Ia adalah sapaan sejarah, perjumpaan dua nyala yang berasal dari bara yang sama: kata dan perbuatan, bisikan dan teriakan, puisi dan politik.

Chairil Anwar dan Soekarno adalah dua sosok yang dilahirkan oleh zaman yang membara.
Bung Karno memekikkan kemerdekaan di podium,
Chairil membisikkan keberanian di lembaran kertas.
Yang satu menggetarkan alun-alun,
yang satu mengguncangkan batin bangsa.
Namun keduanya menyalakan nyala yang sama — api kemerdekaan jiwa manusia Indonesia.

Komando Kesatuan Gerilya di Purwokerto

 

Pembakaran Gudang di Kembaran - ChatGPT

Komando Kesatuan Gerilya di Purwokerto

Bagaimanapun juga Belanda berusaha untuk mendirikan Pemerintahan Sipil di tempat yang mereka duduki, namun hal ini selalu mengalami kegagalan karena rakyat Indonesih pada umumnya sudah benar bertekat bulat untuk merdeka dan tidak mau dijajah lagi.

Kadatangan Belanda tidak mendapat sambutan yang baik dan bahkan hampir semua penjabat pemerintah sipil RI, meninggalkan tempat dan jabatan mereka, untuk selanjutnya masuk dalam daerah kekuasaan RI.

Perlawanan kita, TNI dan rakyat, terhadap Belanda dilakukan dengan gigih dan yang sangat menguntungkan kita ialah serangan gerilya dan pencegatan konvoi. Dalam menghadapi perlawanan kita itu Belanda merasa kewalahan, karena serangan itu dilakukan oleh gerilyawan kita yang terdiri dari para pemuda, dengan sponsor TNI kita, yang berasal dan bertempat tinggal di daerah yang diduduki Belanda.

Mereka ini merupakan musuh dalam selimut Belanda, dan mereka inipun adalah informan-informan TNI untuk sewaktu араbila ada hal yang perlu, segera menyampaikan kepada, pos-pos TNI yang terdekat. Dengan demikian gerak-gerik Belanda, selalu diketahui oleh TNI, bahkan serangan Belanda, selalu dapat digagalkan, karena mereka sudah terlebih dahulu diketahui oleh TNI.

Gerilyawan kita adalah gerilyawan-gerilyawan yang diatur dengan baik, mereka ini tidak merupakan perilyawan liar yang tanpa Komando dari pimpinan TNI. Begitulah, gerilyawan kita menjadi satuan gerilya yang makin lama makin menjadi kuat dan besar dengan persenjataan yang dapat mereka rebut dari Belanda musuhnya.

Pasukan gerilya yang beroperasi di daerah Divisi Sunan Gunungjati, khususnya yang beroperasi di daerah Banyumas adalah pasukan gerilya yang dipimpin oleh Letda PTR Soepeno, sebagai hasil keputusan sidang yang diadakan oleh tokoh pimpinan di daerah Purwokerto, pada saat Purwokerto sedang dalam serangan Belanda.

Sidarng tersebut diadakan di desa Ketenger sebelah utara Purwokerto pada tanggal 1 Agus-tus 1947, 3 hari sebelum anjuran Dewan Keamanan PBB untuk menghentikan tembak menembak antara Belanda dan Indonesia dikeluarkan. Dan selanjutnya pertikaian diselesaikan dengan jalan damai.

Susunan lengkap komando kesatuan gerilya di Purwokerto adalah sebagi berikut:

1.      Pucuk Pimpinan                  :  Letda P.T.R. Soepeno

2.      Wakil I Pucuk Pimpinan     : Kapten P.T.R. Soewagijo

3.      Wakil II Pucuk Pimpinan    : Budihardjo.

4.      Staf terdiri dari:

a.      Let Kol. TNI Masjarakat Sutedjo.

b.      Let Kol. TNI Masjarakat Agus

c.       Suwarto SH – Wakil Residen

d.      Gatot SH – Kepala Pangadilan Negeri.

e.      Kapten Wirjosendjojo.

f.        Herman SH – Kementerian Dalam Negeri,

g.      Ir Utji – D.Κ.Α.  

h.      Roni Sulaiman

i.        Sukosampurno.

Kesatuan Pasukan Gerilya Pancakoa

Dengan masuknya tentara Belanda ke Purwokerto, maka Batalyon yang dipimpin Mayor Brotosiswoyo diperintahkan untuk kembali ke Kutaliman, sebuah desa yang terletak di sebelah utara Purwokerto termasuk kompleks Gunung Slamet untuk bergerak, beroperasi di daerah sekitar Purwokerto.

Dengan kedatangan Batalyon Brotosiswojo itu, maka diadakanlah perundingan antara Mayor Sujoto untuk dapatnya dibentuk satu kesatuan Komando. Setelah selesai pertemuan itu, kesatuan barisan gerilya diserahkan kepada Mayor Brotosiswojo. Letda P.T.R. Soepeno kemudian berhasil membentuk pertahanan rakyat dengan nama Kesatuan Pasukan Gerilya "PANCAKOA".

Ini terjadi pada tanggal 17 Agustus 1947 dengan pucuk pimpinan Letda P.T.R. Soepeno sendiri sedangkan sebagai wakilnya adalah H. Mashuri alias Matkartam. Sebagai markasnya dipilih desa Jipang. Setiap malam "Pancakoa" mengadakan serangan terus-menerus, bahkan sekali waktu sampai masuk ke tengah kota Purwokerto. Pada tgl. 30 Agustus 1947, gudang peluru milik Belanda yang disimpan didesa Kembaran, Purwokerto dapat dibakar, sehingga menggemparkan seluruh penduduk Purwokerto dan sekitarnya, yang mau tidak mau membesarkan hati, jiwa dan semangat juang rakyat.

Pada bulan September 1947 Belanda menempatkan pos di Patikraja, Rawalo, Jatilawang dan Wangon. Untuk menghadapi pos Belanda inı pasukan pasukan gerilya Pancakoa menyusup ke daerah itu dan membentuk Posko di desa Kaliputih yang terletak di sebelah utara Djatilawang. Dari Kaliputih inilah dilantjarkan serangan terhadap pos-pos Belanda dengan hasil baik.

Beberapa pucuk senjata dapat dirampas a. l.:

·         Dari pos Karangluwas 3 pucuk L. F.,

·         Pos Patikraja 3 pucuk Brengun,

·         dari pos Rawalo 95 pucuk senapan dan

·         dari Pos Jatilawang 1 pucuk pistol.

Keadaan yang demikian bukan hanya sekedar menguntungkan secara materieel saja, melainkan membawa pengaruh moril yang besar terhadap rakyat setempat.

Selain serangan secara fisik yang dilakukan oleh pasukan gerilya Pancakoa ini, mereka juga membentuk pemerintahan sipil (pamong praja) guna melantjarkan jalannya pemerintahan Republik Indonesia serta mengadakan kampanye anti Belanda yang terang-terang ingin menjajah kembali dan merobek-robek kemerdekaan Indonesia. Aktifitas pasukan gerilya Pancakoa berjalan terus, sehingga kesempatan istirahat bagi fihak lawan tidak ada.

Demikianlah pada tanggal 10 Oktober 1947 pasukan gerilya mengadakan serangan atas Jatilawang dan Wangon sehingga rakyat Jatilawang, Wangon dan sekitarnya benar-benar menaruh kepercayaan terhadap Republik Indonesia, dan rasa benci mereka kepada Belanda benar-benar tertanam dalam kalbunya.

Dari keadaan ini rakyat sudah dapat dipercaja untuk mengusir penjajah Belanda dari daerahnya. Selanjutnja pasukan gerilya Pancakoa bergerak terus menuju ke tempat lain yaitu ke Paningkaban, sebuah desa yang terletak di sebelah utara Lumbir. Setelah seminggu berada disitu pasukan gerilya Pancakoa meneruskan gerakannya ke Kawunganten, dan memilih desa Jurangmangu sebagai Poskonya. Dari sini dilancar-kan serangan ke Kawunganten, Kubangkangkung, Gandrungmangu dan Sidaredja dengan tujuan a.l:

·         Menghadang pasukan Belanda yang sedang mengadakan penangkapan terhadap rakyat di desa Sarwadadi, dan dalam pertempuran ini pasukan gerilya Pancakoa berhasil melepaskan tawanan-tawanan tersebut.

·         Menyerang pos Belanda di Kubangkangkung dan membakar perumahan milik perkebunan karet.

·         Menyerang Gandrungmangu dan membakar padi yang berdekatan dengan pasar.

Demikianlah kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh pasukan gerilya Pancakoa dalam slagorde Divisi Gunungjati.

Pasukan gerilya yang ada dalam slagorde Divisi III Pangeran Diponegoro, maupun Divisi IV Panembahan Senapati juga tidak tercela dan selalu mengadakan serangan-serangan yang terus-menerus terhadap Belanda.

Pasukan-pasukan gerilya yang terkenal dalam daerah di luar DivISI ii Gunungjati adalah antara lain:

1.      Pasukan Kyai Biru dengan daerah operasinya Sektor utara Div. III yang dipimpin oleh Letkol Sarbini.

2.      Pimpinan Gerilya Rakyat (P. G. R.).

3.      Markas Pertahanan Rakyat (M. P. R.).

4.      Pasukan B. A. T. U. (Barisan Tahan Uji ) - Pasukan Merbabu.

5.      Pasukan Markas Kuda Besi / Sabotase Service (M.B.K / S.S.).

===