Matahari Hijau dari Tjitrakusuma: Jejak Pandu Hizbul Wathan
Tahun 1955
Oleh: Toto Endargo
Sebuah
foto hitam putih yang telah berusia lebih dari tujuh puluh tahun masih
tersimpan dengan baik (direstorasi dengan AI menjadi berwarna). Foto itu
diambil pada tahun 1955 di Desa Tjitrakusuma, sebuah desa yang kini telah
menjadi bagian dari Desa Mangunegara, Kecamatan Mrebet, Kabupaten Purbalingga.
Di
dalam foto tampak barisan Pandu Hizbul Wathan (HW) yang berdiri dengan gagah.
Seragam yang rapi, syal bergambar matahari hijau, bendera, serta
genderang menjadi pemandangan yang istimewa pada zamannya. Bagi masyarakat
pedesaan pada dekade 1950-an, perlengkapan semacam itu bukanlah sesuatu yang
mudah dimiliki.
Mayoritas
anak-anak dan pemuda yang tampak dalam foto tersebut berasal dari keluarga
besar Arsa Wijaya, seorang lurah
Tjitrakusuma pada masanya. Mereka tumbuh dalam lingkungan yang menjunjung
pendidikan, pengabdian, dan kehidupan bermasyarakat.
Pandu
Hizbul Wathan menjadi salah satu ruang belajar yang penting. Di sanalah
anak-anak desa dikenalkan pada kedisiplinan, kepemimpinan, kerja sama, dan
kecintaan kepada tanah air. Kehadiran Hizbul Wathan juga menunjukkan bahwa
denyut gerakan Muhammadiyah telah menjangkau pelosok Purbalingga - Banyumas
tidak lama setelah Indonesia merdeka.
Menariknya,
para pemimpin pasukan dalam foto itu bukanlah tokoh-tokoh besar yang namanya
tercatat dalam buku sejarah. Mereka adalah pelajar, sebagian telah berkeluarga,
yang di sela-sela kesibukan menempuh pendidikan tetap meluangkan waktu untuk
membina generasi yang lebih muda.
Kini,
banyak wajah dalam foto tersebut telah berpulang. Desa Tjitrakusuma pun tak
lagi berdiri sebagai satuan pemerintahan tersendiri. Namun, foto ini
membuktikan bahwa sebuah desa kecil pernah memiliki mimpi yang besar.
Barangkali,
sejarah memang tidak selalu hadir dalam gedung-gedung megah atau
peristiwa-peristiwa besar. Kadang ia hadir dalam sebuah foto yang mulai
memudar—tentang anak-anak desa yang berdiri tegak dengan syal bermatahari hijau
di leher mereka.
Dan
selama foto itu masih disimpan serta kisahnya terus diceritakan, Tjitrakusuma
sesungguhnya tidak pernah hilang.