Selasa, 30 Juni 2026

Syeh Jambukarang, Surawana dan Desa Temon dalam Serat Centhini

 Syeh Jambukarang, Surawana dan Desa Temon dalam Serat Centhini 

 Oleh Toto Endargo 

Serat Centhini - Tambangraras-Amongraga (1846 M) telah menceriterakan tentang Syeh Jambukarang, Surawana dan Desa Temon. Berikut kutipan langsung dari Serat Centhini - Tambangraras-Amongraga - Jilid II, halaman 1 sampai dengan halaman 7, kisah sepintas saat Mas Cebolang berada di wilayah Purbalingga.

Rabu, 24 Juni 2026

Bendung yang Mengubah Wajah Klawing

 


Bendung yang Mengubah Wajah Klawing

Seratus Tahun Perubahan Teknologi Irigasi di Sungai Klawing

Oleh: Toto Endargo

Apabila kita berdiri di atas Bendung Slinga hari ini, sulit membayangkan bahwa tidak jauh dari lokasi yang sama pernah berdiri sebuah bangunan irigasi yang jauh lebih sederhana. Padahal, sejarah pengairan di tempat tersebut telah berlangsung lebih dari satu abad.

Bangunan lama itu dikenal masyarakat sebagai SLIS, sebutan lokal untuk sistem irigasi yang dibangun pemerintah kolonial Belanda pada tahun 1916. Sementara itu, Bendung Slinga yang sekarang mulai dibangun pada tahun 2010 sebagai pengganti sistem lama yang telah berhenti berfungsi sejak 1992.

Dari SLIS ke Bendung Slinga

 

Dari SLIS ke Bendung Slinga

Ketika Sungai Klawing Berubah dan Irigasi Harus Beradaptasi

Oleh: Toto Endargo

Selama lebih dari tujuh puluh tahun (1916 – 1992), SLIS menjadi penopang pertanian di wilayah Slinga dan sekitarnya. Namun seperti halnya alam yang terus berubah, Sungai Klawing pun mengalami proses yang tidak dapat dihentikan.

Sejarah Awal SLIS dan Kecerdasan Irigasi di Slinga

 


Sejarah Awal SLIS dan Kecerdasan Irigasi di Slinga

Ketika Air Klawing Menghidupi Sawah:

 Oleh: Toto Endargo

Di tengah kemegahan Bendung Slinga yang kini berdiri di tepi Sungai Klawing, tidak banyak yang mengetahui bahwa sejarah irigasi di wilayah ini sesungguhnya telah dimulai lebih dari satu abad yang lalu. Jauh sebelum bendung modern dibangun, para insinyur kolonial Belanda telah merancang sebuah sistem pengairan sederhana tetapi cerdas yang dikenal masyarakat sebagai SLIS.

Jumat, 29 Mei 2026

Jejak Jayengresmi dalam Babad Cahyana

 


Jejak Jayengresmi dalam Babad Cahyana

Membaca Kemiripan Kisah Serat Centhini dan Tradisi Syekh Jambukarang

Oleh: Toto Endargo

Dalam khazanah sastra Jawa, sering kali sebuah cerita tidak benar-benar lahir dari peristiwa yang sesungguhnya. Sebuah babad kadang tumbuh dari cerita yang lebih tua, lalu mengalami penyesuaian sesuai kebutuhan zaman, wilayah, maupun corak keyakinan masyarakat pendukungnya. Nama tokohnya berubah, tempatnya berganti, tetapi pola ceritanya tetap meninggalkan jejak.

Kemungkinan seperti itulah yang menarik ketika membaca kisah Raden Jayengresmi dalam Serat Centhini dan membandingkannya dengan kisah Pangeran Jambu Karang dalam Babad Cahyana. Dua cerita ini memiliki kemiripan yang terlalu rinci untuk sekadar disebut kebetulan biasa.

Bukan hanya sama-sama bercerita tentang tokoh sakti dan proses Islamisasi, tetapi bahkan urutan adegan, bentuk adu kesaktian, hingga simbol-simbol yang digunakan tampak hampir serupa.

Selasa, 05 Mei 2026

Arif, Pertemuan yang Tak Terduga

 


 Cerita Pendek

Arif, Pertemuan yang Tak Terduga

Barangkali setiap orang punya satu nama yang tidak pernah benar-benar hilang dari ingatan. Bukan karena ia paling penting, bukan juga karena pernah menjadi siapa-siapa—melainkan karena ia selalu muncul di waktu yang tak terduga, seperti halaman yang berkali-kali terbuka sendiri.

Bagiku, nama itu adalah Arif. Kami sebenarnya sudah saling mengenal sejak SMP. Ia kakak kelas—kelas tiga, sementara aku masih kelas satu. Kami tidak dekat. Tidak pernah benar-benar berbincang lama. Tapi aku mengenalnya sebagai salah satu wajah yang akrab di koridor sekolah—yang kadang lewat, kadang menyapa seperlunya, lalu hilang di antara keramaian.

Senin, 23 Februari 2026

Jejak Ki Tepus Rumput dari Ponorogo ke Tegal

 


Jejak Ki Tepus Rumput dari Ponorogo ke Tegal

Oleh: Toto Endargo

“Bhatara Katong: Pendiri Ponorogo dan Warisan Keturunan”

Di tanah Wengker, Ponorogo, dahulu berdiri seorang adipati yang bijaksana bernama Bhatara Katong. Ia dikenal sebagai pendiri kadipaten Ponorogo, menata wilayah, rakyat, dan mengukuhkan hukum adat sekaligus awal penyebaran Islam.

Bhatara Katong memiliki cucu dan cicit yang kelak menjadi penguasa lokal setelahnya. Mereka meneruskan garis keturunan, menjaga hubungan dengan pusat kekuasaan Pajang, dan tetap menjaga stabilitas Ponorogo. Beberapa generasi dari keturunan ini menjadi murid Ki Ageng Kutu, tokoh tasawuf dan penyebar Islam di Ponorogo, sehingga pengaruh spiritual berjalan beriringan dengan legitimasi politik.

Jumat, 09 Januari 2026

Wujud Teks Babad Onje

 


Wujud Teks Babad Onje

Wujud Teks Babad Onje ini disalin dari Cerita Adipati Onje Dalam Naskah-Naskah Babad, skripsi yang diajukan dalam rangka penyelesaian Studi Strata I untuk mencapai gelar Sarjana Sastra oleh Diana Wisnandari, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Semarang, 2007.

Skripsi ini telah dipertahankan di hadapan sidang Panitia Ujian Skripsi Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Semarang pada hari: Selasa tanggal: 30 Januari 2007

.

Wujud Teks Babad Onje (I)

Halaman 1 - 63

.

/1/, /2/, /3/ kosong.

/4/tidak dapat ditafsirkan karena isinya tidak jelas.

/5/punika dunga wicara ba’da adan allahumma rabbahadihi da’watittamah wasshalatu alqaimatahu ati Sayidina muhammadi alwasilata wab’aftshu makoma mahmudalladzi waattah innakaltuh lifud mi’ad

/6/ s.d /12/kosong.

/13/alhamduliladzi wa’adz tahu ya arhamarahimina inakaltuh lifulmi’awalu rabbi a’idzini min kulaika lamun.......adzab Allahi. Punika dunga wicara ing antarane .....allahumma nauwir qulubana Allahu akriwalmura tibati walayina qulubana bi taufik wallatif walhamdullillah al khabir walhidayah.

/14/ kosong.

/15/, /16/merupakan sebuah doa yang tidak lengkap jadi tidak disunting disini.

/17/ s.d /20/ kosong.

/21/Punika serat sejarah Babad Onje. Ingkang mertapa ing Onje nami Kiyai Tepus Rumput, sampuning mertapa lajeng suwita dhateng Kanjeng Sultan Pajang. boten antawis lami wonten dhawuh undhang: ”Sapa sira bocah ingsun kang bisa anjuput ali-aliningsun, Socaludira wasiyat, saiki kalebu aneng sumur jumbleng. Ingkang abdi boten wonten ingkang saguh mendhet, amung Kiyai Tepus Rumput 

Senin, 17 November 2025

Persetujuan dengan Bung Karno: Puisi dan Politik yang Saling Menyapa

 

Chairil Anwar: Persetujuan dengan Bung Karno

Persetujuan dengan Bung Karno: Puisi dan Politik yang Saling Menyapa

Oleh: Toto Endargo

1. Dua Api dari Satu Zaman

Ayo! Bung Karno kasi tangan mari kita bikin janji...

Bait pembuka itu bukan sekadar panggilan dari seorang penyair kepada presiden. Ia adalah sapaan sejarah, perjumpaan dua nyala yang berasal dari bara yang sama: kata dan perbuatan, bisikan dan teriakan, puisi dan politik.

Chairil Anwar dan Soekarno adalah dua sosok yang dilahirkan oleh zaman yang membara.
Bung Karno memekikkan kemerdekaan di podium,
Chairil membisikkan keberanian di lembaran kertas.
Yang satu menggetarkan alun-alun,
yang satu mengguncangkan batin bangsa.
Namun keduanya menyalakan nyala yang sama — api kemerdekaan jiwa manusia Indonesia.