Senin, 12 Oktober 2026

Lesmana Mandrakumara dan Pitutur Wedhatama: Mengandalkan Trah, Melupakan Tata Krama

 

Lesmana dan Wedhatama - Toto Endargo - AI

Oleh: Toto Endargo

Ada kalanya sebuah cerita wayang terasa seperti sengaja meninggalkan ruang bagi kita untuk membaca kehidupan masa kini. Tokoh-tokohnya hidup dalam dunia kerajaan, tetapi persoalan yang mereka hadapi ternyata tidak jauh berbeda dengan persoalan manusia sekarang: kekuasaan, kebanggaan keluarga, pendidikan, watak, dan tanggung jawab.

Hari Jadi Purbalingga: Antara Sejarah Wirasaba dan Keharusan Kajian Ulang

 

Hari Jadi Purbalingga - Toto Endargo - AI

Oleh: Toto Endargo

Diskusi di Kopi Ireng, dalam Festival Literasi Purbalingga 2026, yang mengangkat tema Galuh Purba Pusat Peradaban Jawa, menyisakan pertanyaan penting tentang sejarah daerah: benarkah hari jadi Purbalingga perlu ditinjau kembali?

Dalam diskusi tersebut muncul pandangan bahwa Purbalingga, dengan sejarah Wirasaba yang tercatat dalam berbagai babad, semestinya memiliki usia sejarah yang lebih tua daripada Banyumas, Cilacap, dan Banjarnegara. Ketidakpuasan juga disampaikan terhadap penetapan hari jadi Purbalingga yang mengacu pada dokumen pemerintah kolonial Belanda.

Pendapat itu menarik untuk ditelaah. Namun, bagi saya, persoalan ini tidak cukup diselesaikan dengan pernyataan bahwa Purbalingga lebih tua atau bahwa dasar penetapan yang sekarang kurang mencerminkan nasionalisme. Ada pertanyaan yang lebih mendasar: bagaimana hubungan antara sejarah Wirasaba dan pembentukan Kabupaten Purbalingga, serta sejauh mana hubungan itu dapat dibuktikan melalui sumber sejarah?

Kamis, 01 Oktober 2026

Sepintas Menyimak Lima Organisasi Generasi Remaja

 

Organisasi Pelajar - Toto Endargo - AI

Oleh: Toto Endargo

1.    Pandu: Pendidikan Karakter Sebelum Indonesia Merdeka. Ketika Anak Muda Belajar Menjadi Penunjuk Jalan

Sebelum Indonesia mengenal Pramuka, anak-anak dan remaja Indonesia telah mengenal dunia kepanduan. Mereka disebut Pandu.

Kepanduan di Indonesia tumbuh pada masa Hindia Belanda, ketika gerakan kepanduan dari Eropa mulai dikenal. Organisasi kepanduan kemudian didirikan oleh berbagai kelompok masyarakat Indonesia. Salah satunya adalah Javaansche Padvinders Organisatie yang berdiri di Mangkunegaran pada 1916.

Namun, kepanduan Indonesia tidak sekadar meniru kepanduan Eropa. Dalam perkembangannya, kegiatan kepanduan mulai diberi warna kebangsaan. Anak-anak muda diajarkan disiplin, keberanian, tanggung jawab, kerja sama, pertolongan pertama, keterampilan hidup, serta kecintaan kepada tanah air. Di sinilah ciri khas Pandu mulai terlihat.

Selasa, 29 September 2026

Meluruskan Sejarah Lagu "Wuyung": Mahakarya Klasik Ismanto, Bukan Manthous

 

Lagu Wuyung oleh Ismanto - Toto Endargo - AI

Oleh: Toto Endargo

Di ranah musik tradisional Jawa, lagu "Wuyung" menduduki kasta tertinggi sebagai salah satu langgam paling romantis dan abadi. Namun, hingga kini masih banyak masyarakat yang keliru mengira bahwa lagu ini diciptakan oleh maestro campursari, Manthous.

Faktanya, pencipta asli lagu "Wuyung" adalah Ki Ismanto, seorang seniman keroncong klasik legendaris asal Surakarta. Manthous sendiri bertindak sebagai arsitek aransemen modern yang memopulerkan kembali lagu ini pada era 1990-an bersama grup Campursari Gunungkidul (CSGK). Kekeliruan publik sangat wajar terjadi karena ledakan genre campursari kala itu membuat lagu "Wuyung" identik dengan suara emas Manthous.

Senin, 28 September 2026

Aset: Dijaga Administrasinya, tetapi Asetnya Dibiarkan Rusak


Aset Bangunan Rusak - Toto Endargo

Oleh: Toto Endargo

Ada sebuah bangunan tua yang menarik perhatian. Bentuknya khas, sebagian besar menggunakan kayu, ukurannya cukup besar, sekitar 12 × 20 meter. Dahulu bangunan ini dikenal sebagai bangunan yang bagus, artistik, unik dan nyaman. Bahkan ada yang menyebutkan bahwa bangunan ini bergaya Neo Klasik, bangunan Belanda, era akhir abad 19. Dan diduga kuat dahulu adalah bagian dari perumahan pegawai Pabrik Gula Kalimanah (sekitaran tahun 1891- 1930). Layak dijadikan cagar budaya. Pada tahun 1990-an sepertinya masih menjadi rumah dinas, ada yang menempati. Jadi jelas bahwa bangunan itu, bukan bangunan yang sejak awal terbengkalai.

Sabtu, 26 September 2026

Keracunan Massal pada Anak: Pulang dari Rumah Sakit Bukan Berarti Sudah Sepenuhnya Pulih

 

Keracunan, Pulang Belum Berarti Sembuh - Toto Endargo - AI

Oleh: Toto Endargo

Keracunan massal yang dialami anak-anak merupakan peristiwa yang tidak hanya menimbulkan kepanikan pada saat kejadian, tetapi juga menyisakan pertanyaan penting tentang kondisi mereka setelah mendapatkan pertolongan medis.

Dalam kasus keracunan yang terjadi setelah konsumsi makanan dalam jumlah besar, termasuk yang berkaitan dengan program Makan Bergizi Gratis (MBG), perhatian masyarakat sering kali tertuju pada jumlah korban, penanganan di rumah sakit, dan kapan anak-anak tersebut diperbolehkan pulang.

Namun, ada satu hal yang tidak kalah penting: apakah setelah keluar dari rumah sakit mereka benar-benar sudah pulih sepenuhnya?

Lesmana Mandrakumara: Ketika Trah Belum Cukup untuk Menjadi Pemimpin


Lesmana Mandrakumara - Toto Endargo - AI

Oleh: Toto Endargo

Wayang adalah dunia yang menarik. Ia lahir dari cerita masa lampau, tetapi hampir selalu menemukan jalan untuk berbicara kepada manusia pada zaman sekarang.

Tokoh-tokohnya bukan hanya sekadar nama dalam pakeliran. Di balik perang, percintaan, perebutan kekuasaan, dan perjalanan para kesatria, terdapat gambaran tentang watak manusia. Ada yang dapat dijadikan teladan, ada pula yang justru menarik untuk direnungkan karena kekurangannya.

Rabu, 02 September 2026

Burisrawa dan Politik Pewarisan: Ketika Darah Tidak Otomatis Menjadi Takhta

 


Burisrawa dan Politik Pewarisan: Ketika Darah Tidak Otomatis Menjadi Takhta

Oleh: Toto Endargo 

Di dalam dunia wayang, rupa tidak pernah netral. Ia bukan sekadar bentuk tubuh, tetapi bahasa takdir. Tubuh besar, wajah keras, sorot mata menyala—semuanya adalah pesan tentang batin dan peran sosial. Maka ketika kita membaca kisah Burisrawa, kita sesungguhnya sedang membaca simbol tentang warisan dan batas kekuasaan.

Burisrawa adalah putra Prabu Salya dari Mandaraka. Namun dari garis ibu, ia membawa darah raksasa. Ibunya, Dewi Setyawati, adalah putri dari Bagaspati, seorang raksasa. Dari beberapa anak Prabu Salya, hanya Burisrawa yang mewarisi wujud raksasa itu. Saudara-saudaranya tidak.

Di sinilah lakon menjadi menarik.

Mengapa hanya satu yang berwujud raksasa? Mengapa bukan semuanya? Dalam logika biologis biasa, ini mungkin pertanyaan genetika. Tetapi dalam kosmologi Jawa, rupa bukan semata urusan darah. Ia adalah cermin kecenderungan batin dan garis fungsi.

Wayang mengajarkan bahwa keturunan bisa mewarisi “energi” tertentu dari leluhurnya. Energi itu tidak selalu tampak pada semua anak. Ia bisa muncul pada satu sosok yang secara batin paling selaras dengan sifat leluhur tersebut. Maka ketika Burisrawa tampil dengan tubuh raksasa, itu bukan sekadar warisan fisik, tetapi penegasan karakter: keras, agresif, penuh ambisi.

Ia bukan pewaris utama takhta Mandaraka. Ia bukan simbol stabilitas. Ia hadir sebagai energi gejolak.

Dalam dramaturgi wayang, setiap rupa memiliki fungsi politik. Raja berwajah halus melambangkan keseimbangan. Ksatria bertubuh ramping menandakan keluhuran. Raksasa adalah simbol kekuatan mentah, tekanan, bahkan ancaman. Ia diperlukan agar cerita bergerak.

Burisrawa sering digambarkan keras dan mudah tersulut. Ia berani, tetapi juga penuh dorongan kuasa. Dalam banyak lakon, ia berdiri berseberangan dengan para ksatria Pandawa dan Kresna. Tubuh raksasanya mempertegas posisi itu. Ia tidak dibangun sebagai pusat legitimasi, melainkan sebagai penguji legitimasi.

Di sinilah kita menemukan refleksi politik yang relevan.

Dalam kehidupan modern, pewarisan kekuasaan sering menjadi perbincangan. Nama keluarga bisa menjadi modal awal. Garis darah bisa membuka pintu. Lingkungan kekuasaan bisa membentuk temperamen. Namun, sebagaimana dalam lakon Burisrawa, warisan tidak otomatis menjadi takhta.

Burisrawa memiliki garis darah kuat: cucu raksasa, putra raja. Tetapi ia bukan simbol masa depan kerajaan. Ia tidak menjadi figur yang menerima wahyu kepemimpinan. Ia lebih sering hadir sebagai kekuatan yang menguji dan mengguncang.

Wayang seperti hendak berkata: darah memberi potensi, tetapi legitimasi menentukan arah.

Tidak semua yang lahir dari garis kuat akan memegang mahkota. Sebagian hadir sebagai energi konflik. Sebagian menjadi figur yang memperjelas siapa yang benar-benar ditakdirkan memimpin.

Menariknya, dalam keluarga Prabu Salya, hanya Burisrawa yang mewarisi wujud raksasa. Ini menunjukkan bahwa pewarisan dalam wayang tidak bersifat mekanis. Ia selektif, simbolik, bahkan dramatik. Satu anak bisa memikul energi leluhur, sementara yang lain berjalan dalam rupa berbeda.

Dalam politik modern, pola ini pun sering terlihat. Ada figur yang membawa temperamen kuat dari lingkungan keluarganya—keras, dominan, konfrontatif. Ada pula yang tumbuh lebih halus, lebih diplomatis, meski berasal dari rumah yang sama. Lingkungan membentuk, tetapi individu tetap menentukan pilihan.

Wayang tidak pernah mengajarkan determinisme mutlak. Bahkan tokoh dengan darah raksasa pun tetap memiliki ruang untuk memilih lakunya. Namun ketika ambisi lebih besar daripada kebijaksanaan, rupa raksasa menjadi metafora yang tepat.

Burisrawa bukan sekadar antagonis. Ia adalah simbol bahwa kekuasaan membutuhkan keseimbangan antara energi dan legitimasi. Energi tanpa legitimasi akan menjadi tekanan. Legitimasi tanpa energi akan menjadi lemah. Tetapi untuk menjadi pemimpin, seseorang membutuhkan keduanya dalam takaran yang tepat.

Dalam konteks itu, Burisrawa mengajarkan sesuatu yang halus: pewarisan adalah pintu masuk, bukan jaminan. Garis darah adalah bekal, bukan keputusan akhir. Sejarah keluarga bisa memberi nama, tetapi mandat lahir dari penerimaan dan kebijaksanaan.

Dan wahyu kepemimpinan, dalam bahasa wayang, tidak turun hanya karena silsilah.

Maka ketika kita membaca lakon Burisrawa, kita tidak sedang membaca kisah seorang raksasa semata. Kita sedang membaca refleksi tentang bagaimana warisan bekerja dalam politik dan budaya. Kita sedang diingatkan bahwa tidak semua pewaris ditakdirkan menjadi raja.

Sebagian memang hadir untuk mengguncang.
Sebagian untuk menguji.
Dan hanya sedikit yang benar-benar memegang arah.

Dalam dunia pewayangan maupun kehidupan modern, darah mungkin memberi bentuk.
Tetapi hanya kemapanan perilaku yang memberi legitimasi. ===

Selasa, 01 September 2026

Kucel, Bukit Kecil di Jalan Bobotsari–Purbalingga: Jejak Pertempuran dalam Mempertahankan Kemerdekaan

 

Pertempuran di Kucel, Mangunegara - Toto Endargo - Foto AI

Kucel, Bukit Kecil di Jalan Bobotsari–Purbalingga: Jejak Pertempuran dalam Mempertahankan Kemerdekaan

 Oleh: Toto Endargo

Ada sebuah tempat yang barangkali nyaris tidak dikenal dalam peta sejarah perjuangan mempertahankan kemerdekaan di Purbalingga. Namanya Kucel, sebuah bukit kecil di wilayah Mangunegara, di sebelah selatan Jembatan Sungai Pingen, yang mengapit jalan raya Bobotsari–Purbalingga.

Kini tempat itu mungkin hanya dipandang sebagai bagian dari bentang jalan biasa. Namun dahulu Kucel merupakan kawasan yang sangat berbeda. Di kanan dan kiri jalan terdapat tebing dengan ketinggian sekitar sepuluh meter. Pepohonan tumbuh sangat rimbun, menyerupai hutan kecil. Jalan yang melintas di antara dua tebing itu menciptakan sebuah celah strategis—tempat yang sangat memungkinkan digunakan untuk menghadang pergerakan pasukan yang melintas.

Dari penuturan sejumlah pelaku dan tokoh masyarakat, Kucel bahkan beberapa kali menjadi tempat penghadangan terhadap pasukan Belanda.

Sabtu, 01 Agustus 2026

Sebelum Menjadi SMP Negeri 2 Purbalingga



Sebelum Menjadi SMP Negeri 2 Purbalingga

Oleh: Toto Endargo

Kisah Pembelian Rumah dan Tanah Tahun 1957–1958

"Sebuah sekolah tidak lahir begitu saja. Sebelum terdengar bunyi bel pertama, sebelum ruang kelas dipenuhi murid, selalu ada cerita panjang yang mendahuluinya. Di Purbalingga, cerita itu tersimpan dalam dua lembar surat yang diketik dengan mesin tik hampir tujuh puluh tahun silam."

Di antara tumpukan arsip lama, terselip dua dokumen sederhana bertanggal 28 Juli 1957 dan 28 Juli 1958, tanggal sama beda tahun. Kertasnya telah menguning, tintanya mulai memudar, bahkan sebagian huruf nyaris tak terbaca. Namun justru dari lembaran-lembaran inilah tersingkap sebuah kisah penting: bagaimana lahan dan bangunan yang kelak menjadi SMP Negeri 2 Purbalingga diperoleh.