![]() |
| Lagu Wuyung oleh Ismanto - Toto Endargo - AI |
Oleh: Toto Endargo
Di ranah musik tradisional Jawa, lagu "Wuyung" menduduki kasta tertinggi sebagai salah satu langgam paling romantis dan abadi. Namun, hingga kini masih banyak masyarakat yang keliru mengira bahwa lagu ini diciptakan oleh maestro campursari, Manthous.
Faktanya, pencipta asli lagu "Wuyung" adalah Ki Ismanto, seorang seniman keroncong klasik legendaris asal Surakarta. Manthous sendiri bertindak sebagai arsitek aransemen modern yang memopulerkan kembali lagu ini pada era 1990-an bersama grup Campursari Gunungkidul (CSGK). Kekeliruan publik sangat wajar terjadi karena ledakan genre campursari kala itu membuat lagu "Wuyung" identik dengan suara emas Manthous.
Kendati demikian, sejarah mencatat Ismanto sebagai sang komposer tunggal. Selain ketetapan hak cipta resmi, bukti paling autentik bahwa lagu ini lahir dari tangan seniman era kuna, bukan Manthous, terletak pada struktur sastranya yang adiluhung.
Berbeda dengan karakteristik lagu ciptaan Manthous yang cenderung menggunakan perumpamaan lugas dan metafora modern (seperti pada lagu Nyidam Sari), lirik lagu "Wuyung" sarat akan wangsalan. Wangsalan adalah teka-teki berbasis persandian kata khas sastra Jawa klasik yang menggunakan kemiripan bunyi suku kata (purwakanthi). Wangsalan pada lagu Kangen milik Manthous, rupanya mengambil atau terinspirasi dari lirik wangsalan yang terdapat pada lagu “Wuyung”.
Dalam lirik "Wuyung", terdapat tiga buah wangsalan unik yang menjadi segel autentik gaya kepenulisan seniman klasik era Ismanto.
* Wangsalan Pertama (Klapa Mudha): Lirik "Klapa mudha, leganana nggonku nandhang branta". Air kelapa muda dalam bahasa Jawa disebut degan, yang dijadikan persandian bunyi untuk kata leganana (turutilah/puaskanlah).
* Wangsalan Kedua (Witing Pari): Lirik "Witing pari, dimen mari nggonku lara ati". Pohon padi setelah dipanen disebut damen, yang digunakan untuk menyamarkan kata dimen (agar/supaya).
* Wangsalan Ketiga (Mbalung Janur): Lirik "Mbok mbalung janur, paring usada mring kang nandhang wuyung". Tulang daun kelapa (lidi) disebut sada, yang menjadi jembatan kata untuk usada (obat/penyembuh).
Melalui bedah sastra ini, sekat antara sang pencipta dan sang pemopuler menjadi benderang. Ismanto adalah sang arsitek melodi dan lirik adiluhung yang menulis "Wuyung" dengan kedalaman rasa sastra Jawa keraton. Sementara Manthous adalah kurator jenius yang berhasil mengemas ulang karya klasik ini menggunakan instrumen modern tanpa menghilangkan kesakralan maknanya. Meluruskan sejarah ini penting, agar generasi mendatang tetap menghormati Ki Ismanto sebagai pemilik sah mahakarya legendaris ini. ===







.jpg)
.png)
.jpg)