Senin, 23 Februari 2026

Jejak Ki Tepus Rumput dari Ponorogo ke Tegal

 


Jejak Ki Tepus Rumput dari Ponorogo ke Tegal

Oleh: Toto Endargo

“Bhatara Katong: Pendiri Ponorogo dan Warisan Keturunan”

Di tanah Wengker, Ponorogo, dahulu berdiri seorang adipati yang bijaksana bernama Bhatara Katong. Ia dikenal sebagai pendiri kadipaten Ponorogo, menata wilayah, rakyat, dan mengukuhkan hukum adat sekaligus awal penyebaran Islam.

Bhatara Katong memiliki cucu dan cicit yang kelak menjadi penguasa lokal setelahnya. Mereka meneruskan garis keturunan, menjaga hubungan dengan pusat kekuasaan Pajang, dan tetap menjaga stabilitas Ponorogo. Beberapa generasi dari keturunan ini menjadi murid Ki Ageng Kutu, tokoh tasawuf dan penyebar Islam di Ponorogo, sehingga pengaruh spiritual berjalan beriringan dengan legitimasi politik.

Jumat, 09 Januari 2026

Wujud Teks Babad Onje

 


Wujud Teks Babad Onje

Wujud Teks Babad Onje ini disalin dari Cerita Adipati Onje Dalam Naskah-Naskah Babad, skripsi yang diajukan dalam rangka penyelesaian Studi Strata I untuk mencapai gelar Sarjana Sastra oleh Diana Wisnandari, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Semarang, 2007.

Skripsi ini telah dipertahankan di hadapan sidang Panitia Ujian Skripsi Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Semarang pada hari: Selasa tanggal: 30 Januari 2007

.

Wujud Teks Babad Onje (I)

Halaman 1 - 63

.

/1/, /2/, /3/ kosong.

/4/tidak dapat ditafsirkan karena isinya tidak jelas.

/5/punika dunga wicara ba’da adan allahumma rabbahadihi da’watittamah wasshalatu alqaimatahu ati Sayidina muhammadi alwasilata wab’aftshu makoma mahmudalladzi waattah innakaltuh lifud mi’ad

/6/ s.d /12/kosong.

/13/alhamduliladzi wa’adz tahu ya arhamarahimina inakaltuh lifulmi’awalu rabbi a’idzini min kulaika lamun.......adzab Allahi. Punika dunga wicara ing antarane .....allahumma nauwir qulubana Allahu akriwalmura tibati walayina qulubana bi taufik wallatif walhamdullillah al khabir walhidayah.

/14/ kosong.

/15/, /16/merupakan sebuah doa yang tidak lengkap jadi tidak disunting disini.

/17/ s.d /20/ kosong.

/21/Punika serat sejarah Babad Onje. Ingkang mertapa ing Onje nami Kiyai Tepus Rumput, sampuning mertapa lajeng suwita dhateng Kanjeng Sultan Pajang. boten antawis lami wonten dhawuh undhang: ”Sapa sira bocah ingsun kang bisa anjuput ali-aliningsun, Socaludira wasiyat, saiki kalebu aneng sumur jumbleng. Ingkang abdi boten wonten ingkang saguh mendhet, amung Kiyai Tepus Rumput 

Senin, 17 November 2025

Persetujuan dengan Bung Karno: Puisi dan Politik yang Saling Menyapa

 

Chairil Anwar: Persetujuan dengan Bung Karno

Persetujuan dengan Bung Karno: Puisi dan Politik yang Saling Menyapa

Oleh: Toto Endargo

1. Dua Api dari Satu Zaman

Ayo! Bung Karno kasi tangan mari kita bikin janji...

Bait pembuka itu bukan sekadar panggilan dari seorang penyair kepada presiden. Ia adalah sapaan sejarah, perjumpaan dua nyala yang berasal dari bara yang sama: kata dan perbuatan, bisikan dan teriakan, puisi dan politik.

Chairil Anwar dan Soekarno adalah dua sosok yang dilahirkan oleh zaman yang membara.
Bung Karno memekikkan kemerdekaan di podium,
Chairil membisikkan keberanian di lembaran kertas.
Yang satu menggetarkan alun-alun,
yang satu mengguncangkan batin bangsa.
Namun keduanya menyalakan nyala yang sama — api kemerdekaan jiwa manusia Indonesia.

Komando Kesatuan Gerilya di Purwokerto

 

Pembakaran Gudang di Kembaran - ChatGPT

Komando Kesatuan Gerilya di Purwokerto

Bagaimanapun juga Belanda berusaha untuk mendirikan Pemerintahan Sipil di tempat yang mereka duduki, namun hal ini selalu mengalami kegagalan karena rakyat Indonesih pada umumnya sudah benar bertekat bulat untuk merdeka dan tidak mau dijajah lagi.

Kadatangan Belanda tidak mendapat sambutan yang baik dan bahkan hampir semua penjabat pemerintah sipil RI, meninggalkan tempat dan jabatan mereka, untuk selanjutnya masuk dalam daerah kekuasaan RI.

Perlawanan kita, TNI dan rakyat, terhadap Belanda dilakukan dengan gigih dan yang sangat menguntungkan kita ialah serangan gerilya dan pencegatan konvoi. Dalam menghadapi perlawanan kita itu Belanda merasa kewalahan, karena serangan itu dilakukan oleh gerilyawan kita yang terdiri dari para pemuda, dengan sponsor TNI kita, yang berasal dan bertempat tinggal di daerah yang diduduki Belanda.

Mereka ini merupakan musuh dalam selimut Belanda, dan mereka inipun adalah informan-informan TNI untuk sewaktu араbila ada hal yang perlu, segera menyampaikan kepada, pos-pos TNI yang terdekat. Dengan demikian gerak-gerik Belanda, selalu diketahui oleh TNI, bahkan serangan Belanda, selalu dapat digagalkan, karena mereka sudah terlebih dahulu diketahui oleh TNI.

Gerilyawan kita adalah gerilyawan-gerilyawan yang diatur dengan baik, mereka ini tidak merupakan perilyawan liar yang tanpa Komando dari pimpinan TNI. Begitulah, gerilyawan kita menjadi satuan gerilya yang makin lama makin menjadi kuat dan besar dengan persenjataan yang dapat mereka rebut dari Belanda musuhnya.

Pasukan gerilya yang beroperasi di daerah Divisi Sunan Gunungjati, khususnya yang beroperasi di daerah Banyumas adalah pasukan gerilya yang dipimpin oleh Letda PTR Soepeno, sebagai hasil keputusan sidang yang diadakan oleh tokoh pimpinan di daerah Purwokerto, pada saat Purwokerto sedang dalam serangan Belanda.

Sidarng tersebut diadakan di desa Ketenger sebelah utara Purwokerto pada tanggal 1 Agus-tus 1947, 3 hari sebelum anjuran Dewan Keamanan PBB untuk menghentikan tembak menembak antara Belanda dan Indonesia dikeluarkan. Dan selanjutnya pertikaian diselesaikan dengan jalan damai.

Susunan lengkap komando kesatuan gerilya di Purwokerto adalah sebagi berikut:

1.      Pucuk Pimpinan                  :  Letda P.T.R. Soepeno

2.      Wakil I Pucuk Pimpinan     : Kapten P.T.R. Soewagijo

3.      Wakil II Pucuk Pimpinan    : Budihardjo.

4.      Staf terdiri dari:

a.      Let Kol. TNI Masjarakat Sutedjo.

b.      Let Kol. TNI Masjarakat Agus

c.       Suwarto SH – Wakil Residen

d.      Gatot SH – Kepala Pangadilan Negeri.

e.      Kapten Wirjosendjojo.

f.        Herman SH – Kementerian Dalam Negeri,

g.      Ir Utji – D.Κ.Α.  

h.      Roni Sulaiman

i.        Sukosampurno.

Kesatuan Pasukan Gerilya Pancakoa

Dengan masuknya tentara Belanda ke Purwokerto, maka Batalyon yang dipimpin Mayor Brotosiswoyo diperintahkan untuk kembali ke Kutaliman, sebuah desa yang terletak di sebelah utara Purwokerto termasuk kompleks Gunung Slamet untuk bergerak, beroperasi di daerah sekitar Purwokerto.

Dengan kedatangan Batalyon Brotosiswojo itu, maka diadakanlah perundingan antara Mayor Sujoto untuk dapatnya dibentuk satu kesatuan Komando. Setelah selesai pertemuan itu, kesatuan barisan gerilya diserahkan kepada Mayor Brotosiswojo. Letda P.T.R. Soepeno kemudian berhasil membentuk pertahanan rakyat dengan nama Kesatuan Pasukan Gerilya "PANCAKOA".

Ini terjadi pada tanggal 17 Agustus 1947 dengan pucuk pimpinan Letda P.T.R. Soepeno sendiri sedangkan sebagai wakilnya adalah H. Mashuri alias Matkartam. Sebagai markasnya dipilih desa Jipang. Setiap malam "Pancakoa" mengadakan serangan terus-menerus, bahkan sekali waktu sampai masuk ke tengah kota Purwokerto. Pada tgl. 30 Agustus 1947, gudang peluru milik Belanda yang disimpan didesa Kembaran, Purwokerto dapat dibakar, sehingga menggemparkan seluruh penduduk Purwokerto dan sekitarnya, yang mau tidak mau membesarkan hati, jiwa dan semangat juang rakyat.

Pada bulan September 1947 Belanda menempatkan pos di Patikraja, Rawalo, Jatilawang dan Wangon. Untuk menghadapi pos Belanda inı pasukan pasukan gerilya Pancakoa menyusup ke daerah itu dan membentuk Posko di desa Kaliputih yang terletak di sebelah utara Djatilawang. Dari Kaliputih inilah dilantjarkan serangan terhadap pos-pos Belanda dengan hasil baik.

Beberapa pucuk senjata dapat dirampas a. l.:

·         Dari pos Karangluwas 3 pucuk L. F.,

·         Pos Patikraja 3 pucuk Brengun,

·         dari pos Rawalo 95 pucuk senapan dan

·         dari Pos Jatilawang 1 pucuk pistol.

Keadaan yang demikian bukan hanya sekedar menguntungkan secara materieel saja, melainkan membawa pengaruh moril yang besar terhadap rakyat setempat.

Selain serangan secara fisik yang dilakukan oleh pasukan gerilya Pancakoa ini, mereka juga membentuk pemerintahan sipil (pamong praja) guna melantjarkan jalannya pemerintahan Republik Indonesia serta mengadakan kampanye anti Belanda yang terang-terang ingin menjajah kembali dan merobek-robek kemerdekaan Indonesia. Aktifitas pasukan gerilya Pancakoa berjalan terus, sehingga kesempatan istirahat bagi fihak lawan tidak ada.

Demikianlah pada tanggal 10 Oktober 1947 pasukan gerilya mengadakan serangan atas Jatilawang dan Wangon sehingga rakyat Jatilawang, Wangon dan sekitarnya benar-benar menaruh kepercayaan terhadap Republik Indonesia, dan rasa benci mereka kepada Belanda benar-benar tertanam dalam kalbunya.

Dari keadaan ini rakyat sudah dapat dipercaja untuk mengusir penjajah Belanda dari daerahnya. Selanjutnja pasukan gerilya Pancakoa bergerak terus menuju ke tempat lain yaitu ke Paningkaban, sebuah desa yang terletak di sebelah utara Lumbir. Setelah seminggu berada disitu pasukan gerilya Pancakoa meneruskan gerakannya ke Kawunganten, dan memilih desa Jurangmangu sebagai Poskonya. Dari sini dilancar-kan serangan ke Kawunganten, Kubangkangkung, Gandrungmangu dan Sidaredja dengan tujuan a.l:

·         Menghadang pasukan Belanda yang sedang mengadakan penangkapan terhadap rakyat di desa Sarwadadi, dan dalam pertempuran ini pasukan gerilya Pancakoa berhasil melepaskan tawanan-tawanan tersebut.

·         Menyerang pos Belanda di Kubangkangkung dan membakar perumahan milik perkebunan karet.

·         Menyerang Gandrungmangu dan membakar padi yang berdekatan dengan pasar.

Demikianlah kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh pasukan gerilya Pancakoa dalam slagorde Divisi Gunungjati.

Pasukan gerilya yang ada dalam slagorde Divisi III Pangeran Diponegoro, maupun Divisi IV Panembahan Senapati juga tidak tercela dan selalu mengadakan serangan-serangan yang terus-menerus terhadap Belanda.

Pasukan-pasukan gerilya yang terkenal dalam daerah di luar DivISI ii Gunungjati adalah antara lain:

1.      Pasukan Kyai Biru dengan daerah operasinya Sektor utara Div. III yang dipimpin oleh Letkol Sarbini.

2.      Pimpinan Gerilya Rakyat (P. G. R.).

3.      Markas Pertahanan Rakyat (M. P. R.).

4.      Pasukan B. A. T. U. (Barisan Tahan Uji ) - Pasukan Merbabu.

5.      Pasukan Markas Kuda Besi / Sabotase Service (M.B.K / S.S.).

===

Epos Gerilya Purwokerto: Komando Kesatuan yang Menjaga Nyala Kemerdekaan

Epos Gerilya di Purwokerto - ChatGPT

Epos Gerilya Purwokerto: Komando Kesatuan yang Menjaga Nyala Kemerdekaan

Oleh: Toto Endargo

Purwokerto, di kaki Gunung Slamet, pernah menjadi salah satu jantung perlawanan yang berdetak keras dalam tubuh republik muda. Tahun 1947, ketika pasukan Belanda kembali menapakkan kaki di tanah Banyumas, rakyat dan Tentara Nasional Indonesia (TNI) sudah mengerti benar: kemerdekaan bukan sekadar kata dalam teks proklamasi, melainkan sesuatu yang harus dijaga dengan darah, siasat, dan keyakinan.

Belanda datang dengan tekad membangun kembali pemerintahan sipil di daerah-daerah yang mereka duduki. Namun, niat itu tak pernah menemukan tanah yang subur. Rakyat menolak, pegawai sipil Republik meninggalkan kantor-kantor mereka dan menyingkir ke wilayah kekuasaan RI. Mereka tidak sudi menjadi alat penjajah baru. Dari desa-desa di lereng utara hingga kampung di tepian Sungai Serayu, rakyat menutup pintu bagi setiap upaya pendirian pemerintahan kolonial.

Gerilya: Siasat Rakyat yang Menjadi Senjata Negara

Ketika senjata artileri dan tank Belanda menggelegar di kota-kota, rakyat dan TNI memilih cara lain: bergerilya. Serangan mendadak, pencegatan konvoi, penghadangan logistik, serta sabotase komunikasi musuh menjadi denyut kehidupan baru di Banyumas.
Gerilyawan bukan tentara liar, bukan pula massa yang bergerak tanpa arah. Mereka adalah warga biasa yang tinggal di tengah daerah pendudukan, tapi menjadi mata dan telinga Republik. Mereka melapor diam-diam ke pos TNI terdekat, mengabarkan gerak pasukan Belanda, waktu patroli, dan arah konvoi.

“Musuh dalam selimut” — begitu Belanda menyebut para pemuda Banyumas yang tampak tenang di siang hari, namun di malam hari bergabung dengan pasukan rakyat. Mereka adalah penunjuk jalan bagi pasukan TNI yang hendak menyusup, penyelundup informasi, sekaligus penggempur saat fajar.

Keunggulan terbesar TNI bukanlah jumlah senjata, melainkan dukungan rakyat. Tiap rumah menjadi dapur umum, tiap ladang menjadi jalur logistik, dan tiap lumbung menjadi gudang amunisi.

Sidang di Ketenger: Lahirnya Komando Gerilya Purwokerto

Pada tanggal 1 Agustus 1947, ketika Purwokerto tengah digempur Belanda, sekelompok tokoh pimpinan TNI dan sipil berkumpul di Desa Ketenger, di utara kota. Di tempat yang dingin dan berkabut itu, mereka merancang struktur perlawanan baru: Komando Kesatuan Gerilya di Purwokerto.

Pertemuan itu bukan sekadar rapat perang. Ia adalah simbol keteguhan hati: bahwa Banyumas tidak akan menyerah, apa pun yang terjadi. Tiga hari setelah pertemuan itu, Dewan Keamanan PBB memang mengeluarkan anjuran gencatan senjata antara Belanda dan Indonesia. Namun di tanah Purwokerto, api perjuangan belum padam — karena mereka tahu, diplomasi belum tentu berarti kebebasan.

Susunan Komando Kesatuan Gerilya itu disahkan dengan pimpinan utama Letda PTR Soepeno, sosok muda yang dikenal berani dan strategis. Ia dibantu oleh Kapten PTR Soewagijo sebagai Wakil I dan Budihardjo sebagai Wakil II.
Di bawah mereka berdiri staf yang terdiri dari perpaduan kekuatan militer dan sipil:

  • Letkol TNI Masjarakat Sutedjo
  • Letkol TNI Masjarakat Agus
  • Suwarto, SH – Wakil Residen
  • Gatot, SH – Kepala Pengadilan Negeri
  • Kapten Wirjosendjojo
  • Herman, SH – dari Kementerian Dalam Negeri
  • Ir. Utji – D.K.A.
  • Roni Sulaiman
  • Sukosampurno

Mereka bukan sekadar komandan di medan tempur, melainkan pemangku harapan rakyat. Di antara mereka ada ahli hukum, pejabat, dan insinyur — bukti bahwa perjuangan mempertahankan kemerdekaan bukan hanya urusan senjata, tapi juga ilmu, pikiran, dan tata kelola negara.

Banyumas: Dari Desa ke Pusat Komando

Gerilyawan Banyumas tidak sekadar bertahan, mereka berkembang. Senjata mereka bukan hanya hasil rampasan dari musuh, tapi juga hasil kerja sama antarwilayah. Laporan intelijen disalurkan secara cepat dan rahasia, lewat kurir yang hafal jalur hutan dan sungai. Dari sisi barat Gunung Slamet sampai ke selatan menuju Sokaraja, jalur komunikasi gerilya berjalan dengan sangat efektif.

Purwokerto, yang saat itu menjadi salah satu pusat Belanda, justru dikepung secara diam-diam oleh pasukan rakyat. Serangan kecil tapi terus-menerus melemahkan moral tentara kolonial. Mereka kehilangan kendali atas wilayah yang di atas peta seolah sudah dikuasai, tetapi di lapangan justru menjadi kuburan bagi konvoi mereka sendiri.

Setiap kemenangan kecil menumbuhkan keyakinan baru: bahwa kekuatan sejati Republik ada di tangan rakyat yang berani.

Semangat yang Tak Pernah Padam

Kini, lebih dari tujuh dasawarsa setelah peristiwa itu, nama-nama seperti Soepeno, Soewagijo, dan Sutedjo mungkin tak banyak dikenal oleh generasi muda. Namun tanpa komando mereka, Banyumas mungkin tak akan menjadi wilayah yang mampu bertahan dalam gelombang agresi militer Belanda.

Epos gerilya Purwokerto bukan hanya catatan perang, tetapi cermin persatuan: antara rakyat, TNI, dan pejabat sipil. Di masa itu, mereka tidak menunggu perintah pusat untuk bertindak. Mereka berinisiatif, berpikir, dan bertempur dengan segala keterbatasan.

Hari ini, ketika kita melintasi Jalan Yosodarmo di Purwokerto — jalan yang dahulu menjadi saksi pergerakan tentara dan rakyat — kita seperti menapak di atas sejarah yang masih berdarah. Ironisnya, Gedung Yosodarmo, salah satu peninggalan bersejarah di kawasan itu, kini tampak kurang terawat. Dindingnya kusam, halaman sepi, dan atapnya mulai lapuk. Padahal, dari tempat-tempat semacam inilah semangat kebangsaan pernah dikobarkan.

Sejarah tidak selalu hidup di museum; ia hidup di ruang-ruang yang kita rawat, di ingatan yang kita teruskan. Bila gedung-gedung perjuangan dibiarkan runtuh, maka pelan-pelan yang ikut runtuh adalah makna kemerdekaan itu sendiri.

Penutup: Warisan Keteguhan

Komando Kesatuan Gerilya di Purwokerto adalah contoh bagaimana perjuangan mempertahankan kemerdekaan bukan hanya soal kemenangan militer, tapi juga tentang keteguhan moral dan kesadaran kolektif.

Dari Ketenger yang berkabut, lahirlah keputusan penting yang menjaga marwah Republik. Dari desa-desa kecil di Banyumas, muncul pasukan rakyat yang menyadarkan dunia: Indonesia tidak akan kembali dijajah.
Dan dari sisa-sisa bangunan tua seperti Gedung Yosodarmo, sejarah berbisik lirih — bahwa kemerdekaan ini bukan hadiah, tetapi hasil dari kesetiaan tanpa syarat terhadap tanah air. ===

 

 

 

Sabtu, 08 November 2025

Film “Judheg” – 2025

 


Film “Judheg” – 2025

Saatnya Menyelami Kisah yang Menggugah

Desember 2025, “Judheg” akan segera hadir di bioskop—mengajak kita menatap kenyataan yang sering dihindari: pernikahan muda dan segala dilema di baliknya.

Film ini menuturkan kisah dengan sudut pandang yang jujur dan penuh empati—tentang bagaimana tekanan sosial, tradisi, dan harapan keluarga bertemu di satu titik kehidupan yang masih sangat muda.

Dalam alur yang menegangkan sekaligus menyentuh, “Judheg” memperlihatkan bukan hanya sisi kelam pernikahan dini—ketidaksiapan fisik, emosional, dan pendidikan—tetapi juga realitas sosial yang sering tersembunyi di sekitar kita:

·         Remaja yang menikah karena tekanan ekonomi atau budaya.

·         Orang tua yang percaya pernikahan muda adalah “jalan keluar”.

·         Mimpi yang perlahan terkubur, dan harapan yang terbelah antara tanggung jawab dan kebebasan.

Dibuat oleh Rekam Films, rumah produksi yang konsisten menghadirkan karya bernilai dan menyentuh realitas Indonesia.
Disutradarai oleh Misya Latief—dalam debut film panjangnya—dan diproduseri oleh Yuda Kurniawan, “Judheg” bukan sekadar hiburan, melainkan cermin sosial yang memantik refleksi.

Kenapa Wajib Ditonton?

Ceritanya dekat dengan kehidupan banyak orang, terutama di luar kota besar.
Akting dan produksinya autentik, membumi, tanpa glamor berlebihan.
Setelah menonton, kita tak hanya terharu, tapi juga terpanggil untuk bertanya:

“Apa yang bisa kita lakukan agar kisah seperti ini tak terulang?”

Tandai kalendermu.
Desember 2025 — di bioskop kesayanganmu.
Ajak teman, keluarga, bahkan komunitas sekolah atau kampusmu.
Karena “Judheg” bukan hanya film untuk remaja—tapi untuk siapa pun yang peduli pada masa depan generasi muda.

#JudhegTheMovie #FilmIndonesia #PernikahanDini #CintaDanTanggungJawab #IbuMudaBerdaya #FilmNgapak

Film “Judheg” (2025) – Film Panjang Full Ngapak

 


Film “Judheg” (2025) – Film Panjang Full Ngapak

“Ketika Cinta, Tradisi, dan Rahasia Disajikan dalam Satu Rasa — Judheg.”

Judheg” adalah film yang berani berbicara dengan bahasa hati rakyat.
Seluruh dialognya menggunakan bahasa Ngapak, menghadirkan keaslian yang jarang muncul di layar lebar. Namun jangan salah—di balik logat yang hangat dan sering dianggap lucu itu, tersimpan kisah yang pekat, getir, dan menyentuh nurani.

Film ini bukan sekadar cerita tentang kehidupan dan pilihan, tetapi tentang kekuatan perempuan muda yang bertahan di tengah tekanan tradisi dan cinta yang belum matang.

“Judheg” menegaskan bahwa bahasa lokal bukan penghalang untuk berbicara universal.
Justru lewat Ngapak, film ini memancarkan kejujuran, kehangatan, dan keberanian untuk bercerita apa adanya.

“Bahasanya Ngapak, rasanya penuh kedalaman makna.”
“Dari desa terpencil, telah lahir kisah besar.”

Dari desa, dari rumah sederhana, dan dari suara rakyat kecil—lahirlah kisah tentang cinta, tanggung jawab, dan rahasia hidup yang matang sebelum waktunya.

“Mereka bicara dengan bahasa yang mungkin terdengar lucu bagi sebagian orang…
Tapi di balik tawa itu, ada tangis yang tak pernah terdengar.”

Judheg (2025) – Film berbahasa Ngapak penuh rasa dan rahasia.
Sebuah film yang berbicara dengan lidah rakyat, dan menyentuh dengan suara nurani.

#JudhegTheMovie #FilmNgapak #BahasaDaerah #FilmIndonesia #CintaDanTradisi #IbuMudaBerdaya

“Judheg” (2025): Cinta, Tanggung Jawab, dan Pengorbanan

 


“Judheg” (2025): Cinta, Tanggung Jawab, dan Pengorbanan

Judheg” bukan sekadar kisah tentang pernikahan muda. Ia adalah potret kejujuran seorang perempuan dalam menapaki peran sebagai ibu di usia belia—di antara cinta yang hangat, tanggung jawab yang berat, dan pengorbanan yang sering sunyi.

Film ini menggugah perasaan dengan cara yang lembut namun menghunjam. Di balik cerita yang mengharukan, “Judheg” menyoroti pentingnya ASI (air susu ibu) sebagai simbol kasih sayang dan kekuatan seorang perempuan muda yang berjuang memberi kehidupan terbaik bagi buah hatinya, meski dalam segala keterbatasan.

Lebih dari itu, “Judheg” membuka ruang dialog tentang hal-hal yang sering kita abaikan: kesiapan fisik dan mental remaja menghadapi pernikahan, tumbuh kembang anak, hingga arti dukungan keluarga dan lingkungan yang bisa menentukan masa depan seorang ibu muda.

Kisahnya dekat dengan kehidupan nyata, emosinya jujur dan kuat, dan pesannya meninggalkan bekas.
Film ini bukan hanya untuk ditonton, tapi untuk direnungkan—karena di balik setiap keputusan hidup, selalu ada perjuangan yang tak kasatmata.

“Judheg” tayang perdana Desember 2025 dalam JAFF Film Festival.
Mulai rasakan getar kisahnya sejak sekarang.

#JudhegTheMovie #FilmIndonesia #PernikahanDini #ASIeksklusif #IbuMudaBerdaya #CintaDanTanggungJawab