Selasa, 28 Juli 2026

Matahari Hijau dari Tjitrakusuma: Jejak Pandu Hizbul Wathan Tahun 1955

 

Matahari Hijau dari Tjitrakusuma: Jejak Pandu Hizbul Wathan Tahun 1955

Oleh: Toto Endargo 

Sebuah foto hitam putih yang telah berusia lebih dari tujuh puluh tahun masih tersimpan dengan baik (direstorasi dengan AI menjadi berwarna). Foto itu diambil pada tahun 1955 di Desa Tjitrakusuma, sebuah desa yang kini telah menjadi bagian dari Desa Mangunegara, Kecamatan Mrebet, Kabupaten Purbalingga.

Di dalam foto tampak barisan Pandu Hizbul Wathan (HW) yang berdiri dengan gagah. Seragam yang rapi, syal bergambar matahari hijau, bendera, umbul-umbul, serta genderang menjadi pemandangan yang istimewa pada zamannya. Bagi masyarakat pedesaan pada dekade 1950-an, perlengkapan semacam itu bukanlah sesuatu yang mudah dimiliki.

Mayoritas anak-anak dan pemuda yang tampak dalam foto tersebut berasal dari keluarga besar Arsa Wijaya, seorang lurah Tjitrakusuma pada masanya. Mereka tumbuh dalam lingkungan yang menjunjung pendidikan, pengabdian, dan kehidupan bermasyarakat.

Pandu Hizbul Wathan menjadi salah satu ruang belajar yang penting. Di sanalah anak-anak desa dikenalkan pada kedisiplinan, kepemimpinan, kerja sama, dan kecintaan kepada tanah air. Kehadiran Hizbul Wathan juga menunjukkan bahwa denyut gerakan Muhammadiyah telah menjangkau pelosok Purbalingga - Banyumas tidak lama setelah Indonesia merdeka.

Menariknya, para pemimpin pasukan dalam foto itu bukanlah tokoh-tokoh besar yang namanya tercatat dalam buku sejarah. Mereka adalah pelajar, sebagian telah berkeluarga, yang di sela-sela kesibukan menempuh pendidikan tetap meluangkan waktu untuk membina generasi yang lebih muda.

Kini, banyak wajah dalam foto tersebut telah berpulang. Desa Tjitrakusuma pun tak lagi berdiri sebagai satuan pemerintahan tersendiri. Namun, foto ini membuktikan bahwa sebuah desa kecil pernah memiliki mimpi yang besar.

Barangkali, sejarah memang tidak selalu hadir dalam gedung-gedung megah atau peristiwa-peristiwa besar. Kadang ia hadir dalam sebuah foto yang mulai memudar—tentang anak-anak desa yang berdiri tegak dengan syal bermatahari hijau di leher mereka.

Dan selama foto itu masih disimpan serta kisahnya terus diceritakan, Tjitrakusuma sesungguhnya tidak pernah hilang.

SK yang Melahirkan Tiga SMP Negeri di Purbalingga

 

Surat Keputusan ini berlaku mulai pada tanggal 1 Agustus 1964

SK yang Melahirkan Tiga SMP Negeri di Purbalingga 

Oleh: Toto Endargo 

bahwa sebuah sekolah bukan hanya dibangun oleh tembok dan ruang kelas, tetapi juga oleh sebuah keputusan yang ditulis dengan mesin tik, dibubuhi stempel negara, dan diwariskan antar lintas generasi. 

Selasa, 30 Juni 2026

Syeh Jambukarang, Surawana dan Desa Temon dalam Serat Centhini

 Syeh Jambukarang, Surawana dan Desa Temon dalam Serat Centhini 

 Oleh Toto Endargo 

Serat Centhini - Tambangraras-Amongraga (1846 M) telah menceriterakan tentang Syeh Jambukarang, Surawana dan Desa Temon. Berikut kutipan langsung dari Serat Centhini - Tambangraras-Amongraga - Jilid II, halaman 1 sampai dengan halaman 7, kisah sepintas saat Mas Cebolang berada di wilayah Purbalingga.

Rabu, 24 Juni 2026

Bendung yang Mengubah Wajah Klawing

 


Bendung yang Mengubah Wajah Klawing

Seratus Tahun Perubahan Teknologi Irigasi di Sungai Klawing

Oleh: Toto Endargo

Apabila kita berdiri di atas Bendung Slinga hari ini, sulit membayangkan bahwa tidak jauh dari lokasi yang sama pernah berdiri sebuah bangunan irigasi yang jauh lebih sederhana. Padahal, sejarah pengairan di tempat tersebut telah berlangsung lebih dari satu abad.

Bangunan lama itu dikenal masyarakat sebagai SLIS, sebutan lokal untuk sistem irigasi yang dibangun pemerintah kolonial Belanda pada tahun 1916. Sementara itu, Bendung Slinga yang sekarang mulai dibangun pada tahun 2010 sebagai pengganti sistem lama yang telah berhenti berfungsi sejak 1992.

Dari SLIS ke Bendung Slinga

 

Dari SLIS ke Bendung Slinga

Ketika Sungai Klawing Berubah dan Irigasi Harus Beradaptasi

Oleh: Toto Endargo

Selama lebih dari tujuh puluh tahun (1916 – 1992), SLIS menjadi penopang pertanian di wilayah Slinga dan sekitarnya. Namun seperti halnya alam yang terus berubah, Sungai Klawing pun mengalami proses yang tidak dapat dihentikan.

Sejarah Awal SLIS dan Kecerdasan Irigasi di Slinga

 


Sejarah Awal SLIS dan Kecerdasan Irigasi di Slinga

Ketika Air Klawing Menghidupi Sawah:

 Oleh: Toto Endargo

Di tengah kemegahan Bendung Slinga yang kini berdiri di tepi Sungai Klawing, tidak banyak yang mengetahui bahwa sejarah irigasi di wilayah ini sesungguhnya telah dimulai lebih dari satu abad yang lalu. Jauh sebelum bendung modern dibangun, para insinyur kolonial Belanda telah merancang sebuah sistem pengairan sederhana tetapi cerdas yang dikenal masyarakat sebagai SLIS.

Jumat, 29 Mei 2026

Jejak Jayengresmi dalam Babad Cahyana

 


Jejak Jayengresmi dalam Babad Cahyana

Membaca Kemiripan Kisah Serat Centhini dan Tradisi Syekh Jambukarang

Oleh: Toto Endargo

Dalam khazanah sastra Jawa, sering kali sebuah cerita tidak benar-benar lahir dari peristiwa yang sesungguhnya. Sebuah babad kadang tumbuh dari cerita yang lebih tua, lalu mengalami penyesuaian sesuai kebutuhan zaman, wilayah, maupun corak keyakinan masyarakat pendukungnya. Nama tokohnya berubah, tempatnya berganti, tetapi pola ceritanya tetap meninggalkan jejak.

Kemungkinan seperti itulah yang menarik ketika membaca kisah Raden Jayengresmi dalam Serat Centhini dan membandingkannya dengan kisah Pangeran Jambu Karang dalam Babad Cahyana. Dua cerita ini memiliki kemiripan yang terlalu rinci untuk sekadar disebut kebetulan biasa.

Bukan hanya sama-sama bercerita tentang tokoh sakti dan proses Islamisasi, tetapi bahkan urutan adegan, bentuk adu kesaktian, hingga simbol-simbol yang digunakan tampak hampir serupa.

Selasa, 05 Mei 2026

Arif, Pertemuan yang Tak Terduga

 


 Cerita Pendek

Arif, Pertemuan yang Tak Terduga

Barangkali setiap orang punya satu nama yang tidak pernah benar-benar hilang dari ingatan. Bukan karena ia paling penting, bukan juga karena pernah menjadi siapa-siapa—melainkan karena ia selalu muncul di waktu yang tak terduga, seperti halaman yang berkali-kali terbuka sendiri.

Bagiku, nama itu adalah Arif. Kami sebenarnya sudah saling mengenal sejak SMP. Ia kakak kelas—kelas tiga, sementara aku masih kelas satu. Kami tidak dekat. Tidak pernah benar-benar berbincang lama. Tapi aku mengenalnya sebagai salah satu wajah yang akrab di koridor sekolah—yang kadang lewat, kadang menyapa seperlunya, lalu hilang di antara keramaian.

Senin, 23 Februari 2026

Jejak Ki Tepus Rumput dari Ponorogo ke Tegal

 


Jejak Ki Tepus Rumput dari Ponorogo ke Tegal

Oleh: Toto Endargo

“Bhatara Katong: Pendiri Ponorogo dan Warisan Keturunan”

Di tanah Wengker, Ponorogo, dahulu berdiri seorang adipati yang bijaksana bernama Bhatara Katong. Ia dikenal sebagai pendiri kadipaten Ponorogo, menata wilayah, rakyat, dan mengukuhkan hukum adat sekaligus awal penyebaran Islam.

Bhatara Katong memiliki cucu dan cicit yang kelak menjadi penguasa lokal setelahnya. Mereka meneruskan garis keturunan, menjaga hubungan dengan pusat kekuasaan Pajang, dan tetap menjaga stabilitas Ponorogo. Beberapa generasi dari keturunan ini menjadi murid Ki Ageng Kutu, tokoh tasawuf dan penyebar Islam di Ponorogo, sehingga pengaruh spiritual berjalan beriringan dengan legitimasi politik.