Senin, 12 Oktober 2026

Lesmana Mandrakumara dan Pitutur Wedhatama: Mengandalkan Trah, Melupakan Tata Krama

 

Lesmana dan Wedhatama - Toto Endargo - AI

Oleh: Toto Endargo

Ada kalanya sebuah cerita wayang terasa seperti sengaja meninggalkan ruang bagi kita untuk membaca kehidupan masa kini. Tokoh-tokohnya hidup dalam dunia kerajaan, tetapi persoalan yang mereka hadapi ternyata tidak jauh berbeda dengan persoalan manusia sekarang: kekuasaan, kebanggaan keluarga, pendidikan, watak, dan tanggung jawab.

Dalam tulisan sebelumnya, Lesmana Mandrakumara saya tempatkan sebagai gambaran bahwa trah atau keturunan belum cukup untuk menjadikan seseorang pemimpin. Ia putra Prabu Duryudana, pewaris takhta Astina, dan tumbuh di lingkungan keluarga kerajaan. Namun, kedudukan yang tinggi tidak dengan sendirinya menjamin kualitas pribadi seseorang.

Menariknya, pemikiran semacam itu ternyata memiliki gema yang kuat dalam Serat Wedhatama karya KGPAA Mangkunegara IV.

Bahkan, jika kisah Lesmana dibaca berdampingan dengan beberapa bait awal Pupuh Pangkur, kita menemukan bahan renungan yang lebih tajam.

Uripé Sepisan Rusak

Dalam Serat Wedhatama, Pupuh Pangkur, pada ke-6, terdapat ungkapan:

Uripe sepisan rusak,

Larik ini mengingatkan kita pada gambaran kehidupan seseorang yang menjadi rusak karena cara berpikir dan sikapnya sendiri. (dalam sejumlah transkripsi, ejaan dan penjelasan larik tersebut dapat sedikit berbeda).

Namun, yang menarik bukan hanya persoalan hidup yang rusak. Bait-bait berikutnya mengarahkan perhatian kita pada sikap manusia yang merasa besar, padahal kebesaran dirinya belum tentu sebanding dengan apa yang dimilikinya.

Di sinilah Lesmana Mandrakumara kembali menarik untuk direnungkan.

Ia mempunyai kedudukan karena kelahirannya. Ia menjadi putra mahkota karena berada dalam garis pewarisan kerajaan. Tetapi status tersebut tidak otomatis membuktikan bahwa ia memiliki seluruh kualitas yang dibutuhkan seorang penerus takhta.

Tentu, kita tidak perlu buru-buru menyimpulkan bahwa Lesmana sama sekali tidak memiliki ilmu atau tata krama. Cerita pewayangan memiliki beragam versi, dan tidak semua sisi kehidupannya diceritakan secara lengkap.

Yang dapat kita persoalkan adalah sesuatu yang lebih mendasar: apakah kebesaran keluarga sudah cukup menjadi alasan untuk merasa layak memimpin?

Palayune Ngendelken Yayah Wibi

Pada ke-7 Serat Wedhatama memberikan kritik yang lebih jelas:

Palayune ngendelken yayah wibi,
Bangkit tur bangsaning luhur,
Lha iya ingkang rama.

Larik-larik ini berbicara tentang sikap mengandalkan orang tua dan kebesaran asal-usul keluarga. Seseorang merasa memiliki kelebihan karena lahir dari keturunan luhur, sementara kualitas dirinya sendiri belum tentu teruji.

Pesan tersebut terasa dekat dengan persoalan Lesmana.

Sebagai putra raja, ia mempunyai keuntungan yang tidak dimiliki sembarang orang. Namanya dikenal, kedudukannya terhormat, dan jalan menuju kekuasaan terbuka baginya.

Namun, ada perbedaan besar antara mewarisi kedudukan dan membuktikan kelayakan.

Orang tua dapat mewariskan nama, kekayaan, jaringan, dan kekuasaan. Akan tetapi, mereka tidak dapat begitu saja mewariskan kebijaksanaan, keberanian mengambil keputusan, kepekaan terhadap penderitaan rakyat, ataupun kemampuan menghadapi persoalan.

Semua itu harus tumbuh dalam diri seseorang.

Kalau seseorang hanya mengandalkan nama besar orang tuanya, ia mungkin berhasil memperoleh kedudukan. Tetapi kedudukan yang diperoleh belum tentu diikuti kemampuan untuk menjalankan tanggung jawab.

Serat Wedhatama mengingatkan kita agar tidak berhenti pada kebanggaan terhadap asal-usul. Ada pekerjaan yang lebih penting, yakni membangun kualitas diri sendiri.

Sarawungan Bae Durung Mring Tataning Tata Krama

Bagian berikutnya justru lebih menarik untuk direnungkan:

Balik sira sarawungan bae durung,
Mring tataning tata krama,
Nggon anggon agama suci.

Dalam sejumlah versi penulisan, larik-larik tersebut dapat ditemukan dengan sedikit perbedaan ejaan. Inti pesannya mengarah pada kritik terhadap orang yang belum memahami kedalaman tata krama dan penghayatan ajaran luhur.

Tata krama di sini bukan sekadar berbicara dengan bahasa halus, membungkukkan badan di hadapan orang yang lebih tua, atau mengenakan pakaian yang pantas. Semua itu dapat menjadi bagian dari kesopanan, tetapi belum tentu mencerminkan kedalaman budi pekerti.

Tata krama yang sesungguhnya menyangkut cara seseorang menempatkan diri, menghargai orang lain, mengendalikan keinginan, menerima nasihat, dan memahami batas kewenangannya.

Seseorang dapat mempunyai gelar tinggi, tetapi belum tentu bijaksana.

Ia dapat berbicara dengan meyakinkan, tetapi belum tentu mau mendengarkan.

Ia dapat memperoleh kedudukan terhormat, tetapi belum tentu memahami bahwa kehormatan selalu disertai kewajiban.

Dalam konteks ini, Serat Wedhatama seakan mengingatkan bahwa persoalan manusia bukan hanya kurangnya pengetahuan, melainkan juga ketidakmampuan mengolah pengetahuan menjadi sikap hidup.

Ilmu tanpa pengendalian diri dapat berubah menjadi kesombongan. Kedudukan tanpa tata krama dapat menjelma menjadi sikap meremehkan. Sementara kebanggaan terhadap keluarga, jika tidak diimbangi kesadaran diri, dapat membuat seseorang merasa berhak memperoleh sesuatu tanpa harus membuktikan kelayakannya.

Antara Darah Bangsawan dan Kedewasaan Pribadi

Lesmana Mandrakumara hidup dalam lingkungan kerajaan. Ia mempunyai hak istimewa karena kelahirannya. Akan tetapi, dunia pewayangan juga memperlihatkan bahwa kehidupan tidak selalu berjalan sesuai dengan harapan keluarga dan kedudukan.

Dalam perang Baratayuda, Lesmana akhirnya gugur ketika berhadapan dengan Abimanyu. Nasibnya menjadi bagian dari tragedi besar keluarga Kurawa.

Kita tidak perlu membaca kematian itu sebagai hukuman langsung karena ia mengandalkan trah atau tidak memahami tata krama. Cerita wayang tidak sesederhana hubungan sebab dan akibat semacam itu.

Namun, kisahnya dapat menjadi pintu masuk untuk merenungkan batas-batas keistimewaan.

Kelahiran dapat memberi seseorang tempat dalam masyarakat. Tetapi ketika menghadapi kenyataan, ia tetap harus berhadapan dengan kemampuan, pilihan, watak, dan akibat tindakannya sendiri.

Tidak ada garis keturunan yang dapat menjamin seluruh perjalanan hidup seseorang.

Tidak ada nama besar yang membebaskannya dari kewajiban membangun kualitas pribadi.

Dan tidak ada kedudukan yang membuat seseorang kebal terhadap penilaian atas tindakannya.

Trah, Ilmu, dan Tata Krama

Di sinilah Serat Wedhatama dan kisah Lesmana Mandrakumara dapat kita pertemukan.

Wayang memberi gambaran tentang seorang putra raja yang berada dalam lingkaran pewarisan kekuasaan. Serat Wedhatama memberikan pitutur agar manusia tidak sekadar mengandalkan kebesaran orang tua dan asal-usul keluarga.

Keduanya mengajak kita membedakan antara apa yang diterima sejak lahir dan apa yang harus dibangun sepanjang hidup.

Trah adalah asal-usul.

Ilmu adalah bekal.

Pengalaman adalah proses pembelajaran.

Tata krama adalah cara menempatkan diri di tengah kehidupan bersama.

Sedangkan kebijaksanaan tumbuh ketika semua itu diolah dengan kesadaran dan tanggung jawab.

Maka, persoalannya bukan apakah seseorang berasal dari keluarga besar atau keluarga biasa. Persoalannya adalah apakah ia bersedia terus belajar, memperbaiki diri, dan membuktikan kelayakannya.

Pitutur Jawa tidak meminta kita merendahkan keturunan luhur. Yang dikritik adalah kesombongan ketika seseorang menjadikan keturunan sebagai satu-satunya ukuran keunggulan dirinya.

Sebab, yang diwariskan oleh orang tua adalah titik berangkat, bukan jaminan bahwa perjalanan anaknya akan berhasil.

Penutup: Jangan Berhenti pada Kebanggaan

Lesmana Mandrakumara mungkin hanya salah satu tokoh dalam dunia pewayangan. Tetapi ketika kisahnya dibaca berdampingan dengan Serat Wedhatama, muncul pertanyaan yang melampaui zamannya.

Apakah kita sungguh-sungguh membangun kualitas diri, atau hanya merasa besar karena keluarga tempat kita berasal?

Apakah kita memahami tata krama sebagai kedalaman budi pekerti, atau sekadar penampilan lahiriah?

Dan apakah kedudukan kita peroleh untuk melayani tanggung jawab, atau justru kita anggap sebagai bukti bahwa diri kita lebih tinggi daripada orang lain?

Serat Wedhatama mengajak manusia bercermin. Wayang menyediakan tokoh dan peristiwa untuk direnungkan. Keduanya tidak harus dipakai untuk menghakimi seseorang, tetapi dapat membantu kita menilai diri sendiri.

Sebab, pada akhirnya, kebesaran seseorang tidak berhenti pada nama keluarganya.

Ia harus tampak dalam cara berpikir, cara memperlakukan sesama, kesediaan menerima nasihat, dan tanggung jawab atas setiap keputusan.

Trah boleh menjadi kebanggaan. Tetapi tanpa ilmu, kedewasaan, dan tata krama, kebanggaan itu mudah berubah menjadi kesombongan. ===

Hari Jadi Purbalingga: Antara Sejarah Wirasaba dan Keharusan Kajian Ulang

 

Hari Jadi Purbalingga - Toto Endargo - AI

Oleh: Toto Endargo

Diskusi di Kopi Ireng, dalam Festival Literasi Purbalingga 2026, yang mengangkat tema Galuh Purba Pusat Peradaban Jawa, menyisakan pertanyaan penting tentang sejarah daerah: benarkah hari jadi Purbalingga perlu ditinjau kembali?

Dalam diskusi tersebut muncul pandangan bahwa Purbalingga, dengan sejarah Wirasaba yang tercatat dalam berbagai babad, semestinya memiliki usia sejarah yang lebih tua daripada Banyumas, Cilacap, dan Banjarnegara. Ketidakpuasan juga disampaikan terhadap penetapan hari jadi Purbalingga yang mengacu pada dokumen pemerintah kolonial Belanda.

Pendapat itu menarik untuk ditelaah. Namun, bagi saya, persoalan ini tidak cukup diselesaikan dengan pernyataan bahwa Purbalingga lebih tua atau bahwa dasar penetapan yang sekarang kurang mencerminkan nasionalisme. Ada pertanyaan yang lebih mendasar: bagaimana hubungan antara sejarah Wirasaba dan pembentukan Kabupaten Purbalingga, serta sejauh mana hubungan itu dapat dibuktikan melalui sumber sejarah?

Kamis, 01 Oktober 2026

Sepintas Menyimak Lima Organisasi Generasi Remaja

 

Organisasi Pelajar - Toto Endargo - AI

Oleh: Toto Endargo

1.    Pandu: Pendidikan Karakter Sebelum Indonesia Merdeka. Ketika Anak Muda Belajar Menjadi Penunjuk Jalan

Sebelum Indonesia mengenal Pramuka, anak-anak dan remaja Indonesia telah mengenal dunia kepanduan. Mereka disebut Pandu.

Kepanduan di Indonesia tumbuh pada masa Hindia Belanda, ketika gerakan kepanduan dari Eropa mulai dikenal. Organisasi kepanduan kemudian didirikan oleh berbagai kelompok masyarakat Indonesia. Salah satunya adalah Javaansche Padvinders Organisatie yang berdiri di Mangkunegaran pada 1916.

Namun, kepanduan Indonesia tidak sekadar meniru kepanduan Eropa. Dalam perkembangannya, kegiatan kepanduan mulai diberi warna kebangsaan. Anak-anak muda diajarkan disiplin, keberanian, tanggung jawab, kerja sama, pertolongan pertama, keterampilan hidup, serta kecintaan kepada tanah air. Di sinilah ciri khas Pandu mulai terlihat.

Selasa, 29 September 2026

Meluruskan Sejarah Lagu "Wuyung": Mahakarya Klasik Ismanto, Bukan Manthous

 

Lagu Wuyung oleh Ismanto - Toto Endargo - AI

Oleh: Toto Endargo

Di ranah musik tradisional Jawa, lagu "Wuyung" menduduki kasta tertinggi sebagai salah satu langgam paling romantis dan abadi. Namun, hingga kini masih banyak masyarakat yang keliru mengira bahwa lagu ini diciptakan oleh maestro campursari, Manthous.

Faktanya, pencipta asli lagu "Wuyung" adalah Ki Ismanto, seorang seniman keroncong klasik legendaris asal Surakarta. Manthous sendiri bertindak sebagai arsitek aransemen modern yang memopulerkan kembali lagu ini pada era 1990-an bersama grup Campursari Gunungkidul (CSGK). Kekeliruan publik sangat wajar terjadi karena ledakan genre campursari kala itu membuat lagu "Wuyung" identik dengan suara emas Manthous.

Senin, 28 September 2026

Aset: Dijaga Administrasinya, tetapi Asetnya Dibiarkan Rusak


Aset Bangunan Rusak - Toto Endargo

Oleh: Toto Endargo

Ada sebuah bangunan tua yang menarik perhatian. Bentuknya khas, sebagian besar menggunakan kayu, ukurannya cukup besar, sekitar 12 × 20 meter. Dahulu bangunan ini dikenal sebagai bangunan yang bagus, artistik, unik dan nyaman. Bahkan ada yang menyebutkan bahwa bangunan ini bergaya Neo Klasik, bangunan Belanda, era akhir abad 19. Dan diduga kuat dahulu adalah bagian dari perumahan pegawai Pabrik Gula Kalimanah (sekitaran tahun 1891- 1930). Layak dijadikan cagar budaya. Pada tahun 1990-an sepertinya masih menjadi rumah dinas, ada yang menempati. Jadi jelas bahwa bangunan itu, bukan bangunan yang sejak awal terbengkalai.

Sabtu, 26 September 2026

Keracunan Massal pada Anak: Pulang dari Rumah Sakit Bukan Berarti Sudah Sepenuhnya Pulih

 

Keracunan, Pulang Belum Berarti Sembuh - Toto Endargo - AI

Oleh: Toto Endargo

Keracunan massal yang dialami anak-anak merupakan peristiwa yang tidak hanya menimbulkan kepanikan pada saat kejadian, tetapi juga menyisakan pertanyaan penting tentang kondisi mereka setelah mendapatkan pertolongan medis.

Dalam kasus keracunan yang terjadi setelah konsumsi makanan dalam jumlah besar, termasuk yang berkaitan dengan program Makan Bergizi Gratis (MBG), perhatian masyarakat sering kali tertuju pada jumlah korban, penanganan di rumah sakit, dan kapan anak-anak tersebut diperbolehkan pulang.

Namun, ada satu hal yang tidak kalah penting: apakah setelah keluar dari rumah sakit mereka benar-benar sudah pulih sepenuhnya?

Lesmana Mandrakumara: Ketika Trah Belum Cukup untuk Menjadi Pemimpin


Lesmana Mandrakumara - Toto Endargo - AI

Oleh: Toto Endargo

Wayang adalah dunia yang menarik. Ia lahir dari cerita masa lampau, tetapi hampir selalu menemukan jalan untuk berbicara kepada manusia pada zaman sekarang.

Tokoh-tokohnya bukan hanya sekadar nama dalam pakeliran. Di balik perang, percintaan, perebutan kekuasaan, dan perjalanan para kesatria, terdapat gambaran tentang watak manusia. Ada yang dapat dijadikan teladan, ada pula yang justru menarik untuk direnungkan karena kekurangannya.

Rabu, 02 September 2026

Burisrawa dan Politik Pewarisan: Ketika Darah Tidak Otomatis Menjadi Takhta

 


Burisrawa dan Politik Pewarisan: Ketika Darah Tidak Otomatis Menjadi Takhta

Oleh: Toto Endargo 

Di dalam dunia wayang, rupa tidak pernah netral. Ia bukan sekadar bentuk tubuh, tetapi bahasa takdir. Tubuh besar, wajah keras, sorot mata menyala—semuanya adalah pesan tentang batin dan peran sosial. Maka ketika kita membaca kisah Burisrawa, kita sesungguhnya sedang membaca simbol tentang warisan dan batas kekuasaan.

Burisrawa adalah putra Prabu Salya dari Mandaraka. Namun dari garis ibu, ia membawa darah raksasa. Ibunya, Dewi Setyawati, adalah putri dari Bagaspati, seorang raksasa. Dari beberapa anak Prabu Salya, hanya Burisrawa yang mewarisi wujud raksasa itu. Saudara-saudaranya tidak.

Di sinilah lakon menjadi menarik.

Mengapa hanya satu yang berwujud raksasa? Mengapa bukan semuanya? Dalam logika biologis biasa, ini mungkin pertanyaan genetika. Tetapi dalam kosmologi Jawa, rupa bukan semata urusan darah. Ia adalah cermin kecenderungan batin dan garis fungsi.

Wayang mengajarkan bahwa keturunan bisa mewarisi “energi” tertentu dari leluhurnya. Energi itu tidak selalu tampak pada semua anak. Ia bisa muncul pada satu sosok yang secara batin paling selaras dengan sifat leluhur tersebut. Maka ketika Burisrawa tampil dengan tubuh raksasa, itu bukan sekadar warisan fisik, tetapi penegasan karakter: keras, agresif, penuh ambisi.

Ia bukan pewaris utama takhta Mandaraka. Ia bukan simbol stabilitas. Ia hadir sebagai energi gejolak.

Dalam dramaturgi wayang, setiap rupa memiliki fungsi politik. Raja berwajah halus melambangkan keseimbangan. Ksatria bertubuh ramping menandakan keluhuran. Raksasa adalah simbol kekuatan mentah, tekanan, bahkan ancaman. Ia diperlukan agar cerita bergerak.

Burisrawa sering digambarkan keras dan mudah tersulut. Ia berani, tetapi juga penuh dorongan kuasa. Dalam banyak lakon, ia berdiri berseberangan dengan para ksatria Pandawa dan Kresna. Tubuh raksasanya mempertegas posisi itu. Ia tidak dibangun sebagai pusat legitimasi, melainkan sebagai penguji legitimasi.

Di sinilah kita menemukan refleksi politik yang relevan.

Dalam kehidupan modern, pewarisan kekuasaan sering menjadi perbincangan. Nama keluarga bisa menjadi modal awal. Garis darah bisa membuka pintu. Lingkungan kekuasaan bisa membentuk temperamen. Namun, sebagaimana dalam lakon Burisrawa, warisan tidak otomatis menjadi takhta.

Burisrawa memiliki garis darah kuat: cucu raksasa, putra raja. Tetapi ia bukan simbol masa depan kerajaan. Ia tidak menjadi figur yang menerima wahyu kepemimpinan. Ia lebih sering hadir sebagai kekuatan yang menguji dan mengguncang.

Wayang seperti hendak berkata: darah memberi potensi, tetapi legitimasi menentukan arah.

Tidak semua yang lahir dari garis kuat akan memegang mahkota. Sebagian hadir sebagai energi konflik. Sebagian menjadi figur yang memperjelas siapa yang benar-benar ditakdirkan memimpin.

Menariknya, dalam keluarga Prabu Salya, hanya Burisrawa yang mewarisi wujud raksasa. Ini menunjukkan bahwa pewarisan dalam wayang tidak bersifat mekanis. Ia selektif, simbolik, bahkan dramatik. Satu anak bisa memikul energi leluhur, sementara yang lain berjalan dalam rupa berbeda.

Dalam politik modern, pola ini pun sering terlihat. Ada figur yang membawa temperamen kuat dari lingkungan keluarganya—keras, dominan, konfrontatif. Ada pula yang tumbuh lebih halus, lebih diplomatis, meski berasal dari rumah yang sama. Lingkungan membentuk, tetapi individu tetap menentukan pilihan.

Wayang tidak pernah mengajarkan determinisme mutlak. Bahkan tokoh dengan darah raksasa pun tetap memiliki ruang untuk memilih lakunya. Namun ketika ambisi lebih besar daripada kebijaksanaan, rupa raksasa menjadi metafora yang tepat.

Burisrawa bukan sekadar antagonis. Ia adalah simbol bahwa kekuasaan membutuhkan keseimbangan antara energi dan legitimasi. Energi tanpa legitimasi akan menjadi tekanan. Legitimasi tanpa energi akan menjadi lemah. Tetapi untuk menjadi pemimpin, seseorang membutuhkan keduanya dalam takaran yang tepat.

Dalam konteks itu, Burisrawa mengajarkan sesuatu yang halus: pewarisan adalah pintu masuk, bukan jaminan. Garis darah adalah bekal, bukan keputusan akhir. Sejarah keluarga bisa memberi nama, tetapi mandat lahir dari penerimaan dan kebijaksanaan.

Dan wahyu kepemimpinan, dalam bahasa wayang, tidak turun hanya karena silsilah.

Maka ketika kita membaca lakon Burisrawa, kita tidak sedang membaca kisah seorang raksasa semata. Kita sedang membaca refleksi tentang bagaimana warisan bekerja dalam politik dan budaya. Kita sedang diingatkan bahwa tidak semua pewaris ditakdirkan menjadi raja.

Sebagian memang hadir untuk mengguncang.
Sebagian untuk menguji.
Dan hanya sedikit yang benar-benar memegang arah.

Dalam dunia pewayangan maupun kehidupan modern, darah mungkin memberi bentuk.
Tetapi hanya kemapanan perilaku yang memberi legitimasi. ===

Selasa, 01 September 2026

Kucel, Bukit Kecil di Jalan Bobotsari–Purbalingga: Jejak Pertempuran dalam Mempertahankan Kemerdekaan

 

Pertempuran di Kucel, Mangunegara - Toto Endargo - Foto AI

Kucel, Bukit Kecil di Jalan Bobotsari–Purbalingga: Jejak Pertempuran dalam Mempertahankan Kemerdekaan

 Oleh: Toto Endargo

Ada sebuah tempat yang barangkali nyaris tidak dikenal dalam peta sejarah perjuangan mempertahankan kemerdekaan di Purbalingga. Namanya Kucel, sebuah bukit kecil di wilayah Mangunegara, di sebelah selatan Jembatan Sungai Pingen, yang mengapit jalan raya Bobotsari–Purbalingga.

Kini tempat itu mungkin hanya dipandang sebagai bagian dari bentang jalan biasa. Namun dahulu Kucel merupakan kawasan yang sangat berbeda. Di kanan dan kiri jalan terdapat tebing dengan ketinggian sekitar sepuluh meter. Pepohonan tumbuh sangat rimbun, menyerupai hutan kecil. Jalan yang melintas di antara dua tebing itu menciptakan sebuah celah strategis—tempat yang sangat memungkinkan digunakan untuk menghadang pergerakan pasukan yang melintas.

Dari penuturan sejumlah pelaku dan tokoh masyarakat, Kucel bahkan beberapa kali menjadi tempat penghadangan terhadap pasukan Belanda.

Sabtu, 01 Agustus 2026

Sebelum Menjadi SMP Negeri 2 Purbalingga



Sebelum Menjadi SMP Negeri 2 Purbalingga

Oleh: Toto Endargo

Kisah Pembelian Rumah dan Tanah Tahun 1957–1958

"Sebuah sekolah tidak lahir begitu saja. Sebelum terdengar bunyi bel pertama, sebelum ruang kelas dipenuhi murid, selalu ada cerita panjang yang mendahuluinya. Di Purbalingga, cerita itu tersimpan dalam dua lembar surat yang diketik dengan mesin tik hampir tujuh puluh tahun silam."

Di antara tumpukan arsip lama, terselip dua dokumen sederhana bertanggal 28 Juli 1957 dan 28 Juli 1958, tanggal sama beda tahun. Kertasnya telah menguning, tintanya mulai memudar, bahkan sebagian huruf nyaris tak terbaca. Namun justru dari lembaran-lembaran inilah tersingkap sebuah kisah penting: bagaimana lahan dan bangunan yang kelak menjadi SMP Negeri 2 Purbalingga diperoleh.