Cerita Pendek
Arif, Pertemuan yang Tak Terduga
Barangkali setiap orang punya satu
nama yang tidak pernah benar-benar hilang dari ingatan. Bukan karena ia paling
penting, bukan juga karena pernah menjadi siapa-siapa—melainkan karena ia
selalu muncul di waktu yang tak terduga, seperti halaman yang berkali-kali
terbuka sendiri.
Bagiku, nama itu adalah Arif. Kami
sebenarnya sudah saling mengenal sejak SMP. Ia kakak kelas—kelas tiga,
sementara aku masih kelas satu. Kami tidak dekat. Tidak pernah benar-benar
berbincang lama. Tapi aku mengenalnya sebagai salah satu wajah yang akrab di
koridor sekolah—yang kadang lewat, kadang menyapa seperlunya, lalu hilang di
antara keramaian.
Kupikir, seperti kebanyakan kakak
kelas, ia akan selesai di sana—menjadi bagian dari masa lalu yang pelan-pelan
memudar. Ternyata tidak.
Setelah lulus SMP, aku melanjutkan
SMA di Purwokerto. Aku tinggal bersama Mbah di Bancarkembar, di sebuah rumah
yang tidak pernah benar-benar sepi. Rumah itu adalah rumah kos. Orang datang
dan pergi, membawa cerita masing-masing, meninggalkan jejak yang kadang bahkan
tidak mereka sadari.
Sebagian besar anak kos berasal dari
Purbalingga. Logatnya sama, candaannya serupa, dan anehnya, suasana itu
membuatku merasa tidak benar-benar jauh dari rumah.
Di tengah hiruk-pikuk itu, suatu
hari Arif datang. Bukan sebagai penghuni, hanya sebagai tamu. Ia bermain di
bagian belakang, bergabung dengan anak-anak kos yang lain. Ia tertawa,
bercakap, lalu pergi. Datang lagi di lain waktu, lalu pergi lagi.
Mungkin hanya dua atau tiga kali. Tidak
ada percakapan penting antara kami. Tidak ada peristiwa yang layak diingat. Ia
hanya… lewat. Seperti dulu di SMP—hadir sebentar, lalu menghilang.
Waktu kembali bergerak. Aku lulus
SMA. Pindah ke Jogja. Tinggal di sebuah kos di Mrican—tempat yang jauh lebih
sunyi dibanding rumah Mbah. Tidak banyak suara. Tidak banyak cerita. Hari-hari
berjalan lebih pelan, lebih hening.
Dan di situlah, tanpa rencana, Arif
muncul lagi. Kali ini bukan sekadar lewat. Ia datang ke kosku. Awalnya hanya
sekali. Lalu dua kali. Lalu semakin sering, seolah-olah jarak waktu yang
panjang sejak SMP dan Bancarkembar tidak pernah benar-benar ada.
Kami mulai berbincang lebih lama.
Tentang hal-hal sederhana. Tentang masa lalu yang samar. Tentang hal-hal yang
bahkan tidak terlalu penting, tapi cukup untuk membuat waktu terasa ringan.
Aku tidak pernah benar-benar tahu
sejak kapan ia menjadi “akrab”. Yang jelas, suatu hari ia datang dengan
permintaan yang membuat semuanya berubah sedikit.
“Aku minta tolong,” katanya. Nada
suaranya tidak seperti biasanya. Ada sesuatu yang ditahannya.
“Tolong apa?” Ia sempat diam, seolah
menyusun kata-kata yang tepat.
“Temenin aku ke rumah temanku… di
Karangmalang,” katanya pelan. “Tapi… kamu pura-pura jadi pacarku.”
Kalimat itu terasa ganjil. Terlalu
tiba-tiba. Aku menatapnya, mencoba mencari penjelasan dari wajahnya.
“Kenapa harus aku?”
Ia tersenyum kecil. “Percaya saja.” Jawaban
yang sederhana, tapi justru membuatku semakin bingung. Seharusnya aku menolak.
Tapi entah kenapa, aku mengangguk.
Mungkin karena rasa ingin tahu. Mungkin
karena percaya. Atau mungkin karena, pada usia itu, kita sering kali tidak
butuh alasan yang kuat untuk melakukan sesuatu yang aneh.
Perjalanan ke Karangmalang terasa
berbeda dari perjalanan biasa. Aku membawa peran yang bahkan tidak kupahami
sepenuhnya. Sesampainya di sana, semuanya berjalan begitu saja.
Kami disambut. Dipersilakan masuk.
Obrolan mengalir ringan. Lalu, tanpa aba-aba panjang, Arif memperkenalkanku.
“Ini pacarku.” Ia mengatakannya
dengan begitu mudah. Seolah itu kebenaran yang tidak perlu dipertanyakan. Aku
tersenyum. Menyalami orang-orang yang menyambutku dengan hangat. Dalam beberapa
detik, aku sudah menjadi seseorang yang bukan diriku—dan yang aneh, aku bisa
menjalaninya.
Kami duduk berdampingan. Sesekali
saling melirik. Seolah ada sesuatu yang kami bagi, padahal sebenarnya tidak ada
apa-apa—hanya kesepakatan diam-diam yang kami jalani tanpa kata.
Tidak ada drama. Tidak ada
ketegangan besar. Tapi justru itu yang membuatnya terasa aneh—semuanya terlalu
wajar untuk sesuatu yang tidak nyata. Sepulang dari sana, suasana di antara
kami sedikit berubah. Tidak canggung, tapi juga tidak sama. Seolah ada sebuah
rahasia kecil yang kami simpan bersama, tanpa pernah benar-benar ingin
membukanya.
Sebagai ucapan terima kasih, Arif
mengajakku makan sate di Samirono, dekat Colombo. Malam itu hangat. Asap sate
tipis naik ke udara. Lampu jalan memantul di meja sederhana tempat kami duduk.
“Kamu hebat juga,” katanya sambil
tersenyum.
Aku tertawa kecil. “Aku juga nggak
ngerti kenapa mau.”
Ia tidak menjawab. Hanya tersenyum. Dan
seperti sebelumnya, ia tidak pernah benar-benar menjelaskan alasan di balik
semua itu. Setelah malam itu, ia masih datang ke kosku. Tapi tidak sesering
dulu. Perlahan, jarak itu muncul dengan sendirinya—tanpa sebab yang jelas,
tanpa perpisahan yang nyata. Hingga akhirnya, kami berhenti bertemu.
Lalu hidup berjalan lebih jauh. Aku
pindah ke Jakarta. Bekerja. Menjalani kehidupan yang lebih teratur. Lebih
serius. Sampai suatu hari, seperti lingkaran yang menutup dirinya sendiri, aku
bertemu lagi dengan Arif. Di sebuah kantor bank di Setiabudi Kuningan.
Bukan karena kami saling mencari.
Tapi karena hidup mempertemukan kami lewat cara yang tak pernah bisa ditebak. Pacarku
saat itu—yang kemudian menjadi suamiku—ternyata satu kantor dengan Arif. Aku
sempat terdiam. Dari sekian banyak kemungkinan, kenapa harus dia lagi?
Kami berbincang. Mengingat sedikit
masa lalu. Tertawa atas hal-hal yang dulu terasa aneh. Tidak ada yang perlu
dijelaskan. Tidak ada yang perlu diluruskan. Seperti biasa, semuanya berjalan
begitu saja.
Dan seperti biasa pula, pertemuan
itu tidak berlangsung lama. Suamiku pindah kerja. Kami kembali terpisah. Arif
kembali menjadi nama yang menjauh. Sampai beberapa bulan lalu, namanya muncul
lagi. Kali ini di layar. Facebook.
Kami saling menyapa. Bertukar kabar.
Lalu berbicara lewat telepon, seperti mengulang kebiasaan lama yang tidak
pernah benar-benar hilang. Suaranya masih sama.
Dan anehnya, dari semua pertemuan
itu—dari SMP, Bancarkembar, Mrican, hingga Jakarta—yang paling melekat justru
satu hari di Karangmalang. Hari ketika aku menjadi seseorang yang bukan diriku.
Hari ketika sebuah peran dijalani tanpa alasan yang jelas, tapi terasa begitu
nyata.
Kadang aku berpikir, mungkin tidak
semua orang hadir untuk menjadi bagian besar dalam hidup kita. Ada yang datang
hanya untuk satu adegan. Satu peran singkat. Satu cerita yang tidak selesai. Namun
justru karena tidak selesai, ia tidak pernah benar-benar hilang. Seperti Arif.
Sejak SMP, ia hanya lewat.
Di Bancarkembar, ia hanya singgah.
Di Jogja, ia sempat menjadi cerita.
Di Jakarta, ia muncul kembali.
Dan sampai sekarang, ia tetap
begitu—
tidak pernah benar-benar dekat,
tidak pernah benar-benar jauh,
tapi selalu… ada di ingatan yang sama.
Purbalingga,
24 Mei 2011