Tampilkan postingan dengan label Bahasa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Bahasa. Tampilkan semua postingan

Selasa, 04 Maret 2014

SWASANA SALIN SWARA



SWASANA SALIN SWARA
Toto Endargo, S.IP

"Hemat penulis Swasana Salin Swara ini belum dibahas secara mendalam apalagi diajarkan dalam pengajaran bahasa. Semoga tulisan ini dapat menjadi tambahan pengetahuan bagi praktisi dan penikmat bahasa, khususnya Bahasa Banyumasan"

 Bahasa Banyumas itu ternyata unik. Walau terasa terlalu gegabah mengatakan sebuah kata sebagai kata asli dari Banyumas, tak apalah setidaknya kata-kata yang akan penulis bicarakan telah dipakai sejak lama di wilayah Banyumas.
Dalam Bahasa Inggris ada istilah “irregular verb” yang umumnya dikatakan sebagai kata kerja tak beraturan. Perubahan kata kerja dalam suatu kalimat tergantung dari tenses (bentuk kalimat berdasarkan waktu yang digunakan). Waktu akan menentukan apakah yang dipakai adalah kata kerja bentuk pertama atau dasar (base verb), bentuk kedua (past), atau bentuk ketiga (past participle). 
Kata kerja bentuk pertama, bentuk kedua, dan bentuk ketiga tidak sama. Sekedar contoh “take” bentuk keduanya menjadi “took” dan bentuk ketiganya menjadi “taken”. Ketiga-tiganya mempunyai arti yang sama yaitu: mengambil. Kata arise (infinitife), arose (preterite) dan arisen (past participle), artinya sama yaitu: terbit.

Selasa, 09 Oktober 2012

Banyumas – Irreguler


Banyumas – Irreguler

Ternyata Bahasa Banyumas tidak kalah uniknya dengan Bahasa Inggris.
Dalam Bahasa Inggris ada kata sandang yang digunakan untuk menyebutkan kata benda secara individual; the ( the sun, the moon, the sky) maka di Banyumas ada awalan yang bunyinya mirip yaitu de. Awalan ini punya dua makna:
(1)   Pertama “agak” misal pada kata dengonoh (agak kesana) dengeneh (agak kesini).
(2)   Kedua “melakukan suatu pekerjaan secara sengaja”, misal detiliki (ditengok), dejiot (diambil).
Menurut hemat saya Bahasa Banyumas yang baku adalah de bukan di sehingga seperti contoh di atas:
a.      Detiliki bukan ditiliki
b.      Dejiot bukan dijiot
c.       Dekongkon bukan dikongkon
d.      Debenthong bukan dibenthong, dsb

Lah - Dhing


Lah - Dhing

Menyimak lagi dialek Banyumas.
Dialek Banyumasan itu luar biasa. Sejak kecil saya sudah meyadari bahwa dalam dialek Banyumas ada sesuatu yang khas, salah satu di antaranya penggunaan bunyi lah”, sebagai kata seru, bukan akhiran.
Kata lah kebanyakan dipakai pada kalimat-kalimat pendek dan ditaruh di akhir kalimat! Cenderung bermakna sebagai penguat, penegas permintaan/permohonan dari kata yang ada di depannya!

Contoh: 
Aja kaya kuwe lah!                  = mohon jangan seperti hal itu
Mandan nganah lah!              = mohon agak menjauh
Mengko lah!                            = mohon jangan sekarang ( nanti )
Uwis lah!                                 = mohon disudahi
Aja lah!                                   = mohon jangan dilakukan

Dalam bahasa Indonesia “lah” dimasukkan sebagai partikel, akhiran, bukan kata seru. Lah di sini tidak harus berada pada kata di akhir kalimat. Fungsinya terutama hanya sebagai penegas!
Contoh:
Inilah kisah seorang pengembara .....
Begitulah akhir perjalanan .....

Gyeh - Mbok


Gyeh - Mbok

Menyimak lagi dialek Banyumas.
Ada kata gyeh dalam dialek Banyumas. Ketika saya kecil kadang saya menonton orang mluku, membajak sawah, dengan menggunakan tenaga kerbau untuk menarik bajak. Salah satu kata yang diteriakkan oleh sang pembajak adalah, “Gyeh, gyeh, gyeh ....! Jek, jek,  deri .... kalen!” kadang sambil memainkan atau membunyikan pecut, cambuk! Dengan teriakan tersebut si kerbau pun berjalan dengan benar, pada jalur yang benar, lurus membentuk kalen, parit, sesuai kehendak sang pembajak, sesuai bentuk petak sawah. Mencermati tingkah laku keduanya maka maksud bunyi, gyeh adalah jangan, artinya si kerbau disuruh jangan meleng, jangan keluar dari garis bajak yang seharusnya.
Pada kejadian tertentu, terjadi seseorang memanggil orang lain dengan panggilan, “Gyeh!” Terutama kalau yang dipanggil agak jauh dari si pemanggil. Lalu kapan bahasa untuk kerbau ini dijadikan sebagai bahasa untuk manusia? He, he, he!
Berawal dari ceritera di atas, saya ingin bicara pemakaian kata gyeh dalam keseharian.

Dhonge – Toli


Dhonge – Toli

Menyimak lagi dialek Banyumas.
Sering kita dengar ungkapan bahwa, “bahasa menunjukkan bangsa”. Barangkali dengan sedikit bicara tentang dialek Banyumas kita jadi tahu karakter orang Banyumas. Saya yakin bahwa dalam kosa kata yang khas Banyumasan terkandung falsafah hidup orang-orang Banyumas.

Perhatikan kata, “dhonge” pada contoh kalimat berikut:

    Dhonge, qo ya maring nganah, ya!  =  Seharusnya, kamu ya ke sana, ya!
    Dhonge, aja detegor sangkane aub! =  Seharusnya, jangan ditebang supaya teduh!