Majalah Dinding “Melati” Tahun 1994: Kreativitas Perpustakaan Sekolah Menumbuhkan Literasi di Masa Serba Terbatas
Oleh: Toto Endargo
Ketika saat ini istilah literasi menjadi bagian penting dalam dunia pendidikan dan sering dibicarakan dalam berbagai seminar, pelatihan, maupun kebijakan nasional, keadaan pada awal tahun 1990-an tentu berbeda. Kata literasi belum populer sebagaimana sekarang. Namun, semangat untuk mendorong siswa agar gemar membaca, menulis, dan berkarya ternyata telah tumbuh di banyak sekolah melalui berbagai cara sederhana.
Salah satu pengalaman yang berkesan terjadi pada tahun 1994 di SMP Negeri 2 Purbalingga. Saat bertugas mengelola perpustakaan sekolah yang tidak hanya berfungsi sebagai tempat meminjam buku, tetapi juga menjadi ruang kreatif bagi siswa untuk mengekspresikan gagasan dan bakat mereka.
Di samping secara berkala memajang hasil karya siswa, kami juga menyelenggarakan berbagai lomba yang menjadi bagian dari kegiatan Majalah Dinding (Mading) “Melati”, singkatan dari Media Berlatih. Nama ini dipilih karena mading tersebut memang dimaksudkan sebagai sarana latihan bagi siswa untuk belajar menulis, berpikir kritis, dan berani menyampaikan pendapat.
Berbagai jenis lomba yang diselenggarakan antara lain:
· Artikel Pengetahuan
· Artikel Musik
· Menulis Puisi
· Menulis Cerita Pendek
· Menulis Cerita Bersambung
· Gambar dan Lukisan
· Plesetan dan Artikel Lucu
Pada hematnya, jika dilihat dari sudut pandang sekarang, kegiatan tersebut sesungguhnya merupakan bentuk nyata pengembangan literasi yang cukup lengkap. Siswa tidak hanya diajak membaca, tetapi juga menulis, menggambar, mengamati lingkungan, mengolah informasi, hingga menyampaikan gagasan dengan bahasa yang menarik.
Penghargaan Sederhana yang Bermakna
Kondisi saat itu tentu jauh berbeda dengan sekarang. Belum ada komputer pribadi yang mudah diakses, belum ada internet, apalagi media sosial. Segala sesuatu dilakukan dengan cara sederhana.
Karya-karya terbaik yang masuk ke redaksi Majalah Dinding Melati diberi penghargaan berupa piagam. Desain piagam dibuat secara sederhana, kemudian diperbanyak menggunakan mesin fotokopi di atas kertas manila. Meski sangat sederhana, piagam tersebut menjadi kebanggaan tersendiri bagi para siswa.
Salah satu kalimat yang tertulis dalam piagam tersebut berbunyi:
"Dengan bangga piagam penghargaan ini diberikan kepada siswa atas prestasi yang telah diraih dalam lomba tulis artikel Majalah Dinding Melati SMP 2 Purbalingga Tahun 1994 dalam BIDANG PENULISAN ARTIKEL MUSIK."
Lomba tersebut diselenggarakan dalam rangka memperingati ulang tahun pertama Majalah Dinding Melati.
Di bagian akhir piagam juga tercantum harapan sederhana namun penuh makna:
"Semoga penghargaan ini mampu memacu diri untuk meningkatkan prestasi di jenjang yang lebih tinggi."
Kalimat yang mungkin terasa singkat, tetapi sesungguhnya mengandung filosofi pendidikan yang kuat: memberikan apresiasi agar siswa percaya pada kemampuannya sendiri.
Kenangan yang Tetap Hidup
Baru-baru ini, salah seorang siswa pada masa itu, Ofan Yulianto, mengirimkan foto piagam penghargaan yang pernah diterimanya ketika duduk di kelas III C. Ia menjadi salah satu siswa berprestasi dalam lomba penulisan artikel musik.
Menariknya, artikel yang ditulis Ofan membahas perkembangan musik rock yang saat itu sedang digemari remaja, termasuk kelompok musik terkenal Guns N' Roses. Tema tersebut menunjukkan bahwa siswa diberi kebebasan untuk menulis sesuai minat dan dunia yang mereka kenal.
Foto piagam yang masih tersimpan lebih dari tiga dekade kemudian menjadi bukti bahwa penghargaan sederhana ternyata dapat meninggalkan kesan mendalam. Nilai sebuah penghargaan tidak selalu ditentukan oleh kemewahan bentuknya, tetapi oleh makna yang terkandung di dalamnya.
Pelajaran dari Masa Lalu
Pengalaman Majalah Dinding Melati menunjukkan bahwa pengembangan literasi tidak selalu membutuhkan fasilitas yang canggih. Yang paling penting adalah adanya ruang bagi siswa untuk berkarya, kesempatan untuk menampilkan hasil kerja mereka, serta apresiasi yang tulus dari para pendidik.
Pada tanggal 2 April 1994, piagam tersebut ditandatangani oleh pengasuh Majalah Dinding Melati SMP 2 Purbalingga:
· Toto Endargo — Redaksi
· M. Andhika B. — Sekretaris
Kini, setelah lebih dari tiga puluh tahun berlalu, kenangan itu menjadi pengingat bahwa perpustakaan sekolah dapat berperan lebih dari sekadar tempat menyimpan buku. Perpustakaan dapat menjadi pusat kreativitas, laboratorium gagasan, sekaligus ruang tumbuhnya budaya literasi.
Apa yang dilakukan secara sederhana pada tahun 1994 itu mungkin belum disebut gerakan literasi. Namun hakikatnya, itulah literasi yang sesungguhnya: memberi kesempatan kepada siswa untuk membaca dunia, menuliskan pikirannya, dan berani menampilkan karyanya kepada orang lain.
Jejak Sederhana Sebuah Piagam
Kisah Majalah Dinding Melati SMP 2 Purbalingga Tahun 1994 menurut rasanya memiliki nilai sejarah yang cukup penting. Di tengah keterbatasan sarana pada masa itu, kegiatan tersebut menunjukkan bahwa perpustakaan sekolah dapat menjadi pusat kreativitas dan pembinaan literasi siswa. Bahkan, sebelum istilah Gerakan Literasi Sekolah dikenal luas, praktiknya sudah dijalankan melalui lomba menulis, pameran karya, dan pemberian apresiasi kepada siswa.
Yang menarik, foto piagam yang masih disimpan oleh Ofan Yulianto setelah lebih dari tiga puluh tahun justru menjadi bukti bahwa sebuah penghargaan sederhana dapat meninggalkan jejak yang panjang dalam ingatan seseorang. Ini menunjukkan bahwa pendidikan tidak selalu diukur dari kemegahan fasilitas, tetapi juga dari perhatian dan penghargaan yang diberikan kepada peserta didik.
Semoga dokumentasi seperti ini dapat menjadi inspirasi bagi pengelola perpustakaan sekolah untuk menggali kembali sejarah literasi mereka. Banyak kegiatan sederhana di masa lalu yang sesungguhnya layak dicatat sebagai bagian dari sejarah pendidikan lokal. ===
