Selasa, 30 Juni 2026

Syeh Jambukarang, Surawana dan Desa Temon dalam Serat Centhini

 Syeh Jambukarang, Surawana dan Desa Temon dalam Serat Centhini 

 Oleh Toto Endargo 

Serat Centhini - Tambangraras-Amongraga (1846 M) telah menceriterakan tentang Syeh Jambukarang, Surawana dan Desa Temon. Berikut kutipan langsung dari Serat Centhini - Tambangraras-Amongraga - Jilid II, halaman 1 sampai dengan halaman 7, kisah sepintas saat Mas Cebolang berada di wilayah Purbalingga.

88. Megatruh, 40 bait.

1. MAS CEBOLANG DI PURBALINGGA

1.1 Makam Seh Jambukarang di Gunung Lawet

Putra Seh Akadiyat di Gunung Sokayasa (Banjarnegara?) bernama Mas Cebolang. Ia berparas tampan, wajahnya seperti wayang lanyapan, hanya saja mirip wanita. Bicaranya menarik hati mereka yang mendengarkannya. la selalu dapat mengatasi segala hal, maka dari itu sepantasnyalah ia menjadi pujaan di Sokayasa (88: 1-2).

Ia diikuti empat orang santri hambanya pergi mencari ilmu. Pertama-tama yang dituju arah barat daya, dan tiba di wilayah Purbalingga, berhenti di makam Dukuh. Mereka menuju ke rumah Demang Sarana, kepala Dukuh tersebut. Setelah tunduk hormat Mas Cebolang dipersilakan masuk, diterima di balai-balai (88: 3-4).

Kiai Demang bertanya kepada mereka, "Siapakah Ananda dan dari mana asal Anda?"

Mas Cebolang menjawab perlahan seraya tersenyum manis, "Saya bernama Cebolang, dari Gunung Sokayasa. Adapun tujuan saya belum pasti, hanya mengikuti langkah kaki. Oleh karena terlalu lama di perjalanan, bila berkenan dan tidak mengganggu kami mohon diizinkan bermalam di sini. Kiai tidak perlu susah-susah, karena maksud kami pagi-pagi fajar hendak melanjutkan perjalanan." (88: 5-8).

Ki Demang berkata perlahan, "Ananda itu lebih baik. Hanya permintaanku agar Ananda singgah sampai tiga malam di sini, syukur Ananda senang tinggal di sini dan dapat membantu pekerjaanku!"

Mas Cebolang bertanya, "Minta maaf Kiai, pekerjaan apakah kiranya itu, maka harus dibantu pula?"

Jawab Kiai Demang, "Hanya menjaga makam orang yang diagungkan, Seh Jambukarang di Gunung Lawet, di puncak gunung sana. Saya di sini sebagai demang pradikan --bebas pajak-- termasuk wilayah kekuasaan Mataram. Saya dianugerahi nama Demang Srana. Adapun kawan di samping saya bernama Sraya, kami mendapat giliran tugas setiap 25 hari, sekarang kami sedang mendapat tugas. Bila ada orang yang hendak berziarah ke Gunung Lawet, tentu kami yang dituju. Kewajiban kami kemudian mengantarkannya kepada juru kunci yang bertempat tinggal di desa Panusupan." (88:8-13).

Mas Cebolang bertanya mendesak, "Bagaimanakah cerita dahulu tentang Seh Jambukarang tersebut serta cara-cara mereka yang hendak berziarah?" (88: 14).

Jawab Kiai Demang, "Begini Ananda, dahulu ada putra raja Majapahit yang bertempat tinggal pertama kali di Gunung Lawet. Setelah itu, datanglah Seh Maulana Makhribi mengajarnya ilmu Kangjeng Rasul. Setelah tamat, sang petapa putra Majapahit itu digelari Kanjeng Pangeran Seh Jambukarang di Gunung Lawet hingga meninggalnya. Ketiga sahabat Kangjeng Pangeran setelah meninggal dimakamkan di dekat jalan naik menuju puncak gunung. Banyak orang berasal dari jauh datang untuk berziarah dan terkabul keinginannya. Mereka yang telah tercapai cita-citanya sewaktu pulang harus langsung tidak singgah dan tidak boleh bicara. Apabila sampai terdengar orang lain dan mau singgah apalagi makan jamuannya, anugerah yang diterimanya hilang, dan mereka yang disinggahi itulah yang mendapatnya. Perlu diketahui pula bahwa jalan naik menuju makam itu sangat sulit ditempuh, oleh karena itu banyak orang yang kembali tidak sampai dapat mencapainya." (33: 15-20).l

Mas Cebolang serenta mendengar cerita itu malahan tertarik, katanya, "Kiai, bila berkenan, saya ingin berziarah ke makam agung itu, agar mendapat berkat selamat lahir batin."

"Baiklah Ananda, kebetulan besok pagi hari Kamis tanggal 14 bulan Jawa, karena hanya pada dua hari saja orang diperkenankan naik ke makam. Kedua hari itu adalah hari Senin dan Kamis."

Berhentilah mereka berbincang-bincang. Jamuan dihidangkan, mereka makan dengan lahapnya. Pada malam harinya tidak diceritakan (88:21-23).

Pagi-pagi buta setelah salat subuh Mas Cebolang telah diiringkan empat orang santrinya tiba di rumah juru kunci desa Panusupan. Ki Demang Srana menyerahkannya kepada Ki Sraya juru kunci. Setelah diterima, Demang Srana kembali (88: 24-25).


 Kata Ki Sraya, "Nanti Anda harus menurut peraturan yang telah berlaku. Sekarang saya mengantarkan, setiap datang di makam, ketiga sahabat harus berhenti dan berjongkok, memberi salam: Assalamu alaikum, rakhmatullahi, ilallah, tiga kali. Bila sudah tiba di balai bangsal Pakerisan beristirahat. Balai itu terletak di bawah jalan bertanggul sempit yang naik menuju makam. Mereka yang naik makam harus melepas perlengkapan, pakaian yang melekat hanya tinggal celana, sedangkan kainnya dipakai sebagai ikat pinggang. Setelah tiba di atas membakar dupa lalu mengikrarkan maksudnya, kemudian keluar dari dalam cungkup, segera menyapu mengelilingi dinding dengan rambut sendiri. Setelah selesai bersih, menyembah, mundur dengan perlahan. Yang penting waktu kembali turun harus segera pulang, kalau bersinggah itu tidak baik!" (88: 25-31).

Mas Cebolang sanggup, keempat orang santrinya dimintai pertim-bangan, semua setuju. Mereka berangkat, Ki Sraya ada di depan. Mereka tiba di kaki Gunung Lawet berpuncak tiga berjajar, yang di tengah sangat tinggi, sedangkan kedua puncak di kiri kanannya lebih rendah, jalannya menanjak melewati semak belukar (88: 31-32).

Kata Ki Jurukunci, "Ananda, gunung tengah itu makam Sang Pertapa. Bismillah, mari kita terus!" (88: 33).

Mereka meneruskan langkah, jalannya sangat sulit, mereka harus meniti jembatan rotan di atas jurang dalam.

Banyak binatang berbisa di bawahnya, bersuara mengerikan sambil menyemburkan bisanya. Binatang buas lain seperti singa mengaum, dan badak buas mendongak ke atas. Keempat santri ketika menyaksikan binatang-binatang tersebut takut bukan main, wajahnya pucat pasi, mohon diri kembali, tidak berani melanjutkan. Mereka diizinkan menanti di pondok (88: 34-35).

Mas Cebolang tetap berjalan laju, ia hanya berserah diri kepada Tuhan, apapun yang dilakukan itu atas kehendak-Nya. Setiap tiba di makam tiga sahabat berhenti sebentar serta mengucapkan salam menurut petunjuk Ki Jurukunci. Setelah beristirahat dan tidak tersengal napasnya, kemudian melepas pakaiannya, tinggallah celana dan berikat pinggang kain panjangnya serta mengurai rambutnya yang terjuntai hingga lutut, dalam hati sudah mantap, tercermin pada roman mukanya (88: 36-38).

Ki Sraya sudah siap, katanya perlahan, "Mengucaplah: Bismillah, tinggal naik sekali."

Mas Cebolang pun mengucap: "Bismillah. Ayo Kiai!"

Mereka berdua berjalan perlahan. Jalannya makin sulit, bila tidak bertekad mati, sudah tentu sampai di situ kembali. Kecuali jalannya berbahaya, pikiran dan perasaan jadi tidak menentu (88: 38-40).

89. Gambuh, 37 bait.

Diceritakan bermacam-macam binatang yang ada di Gunung Lawet: resrespoh sebesar telapak tangan, cacing gelang sebesar tangkai sabit, lintah sebesar tongkol jagung, pacet sebesar ibu jari, berisik suaranya karena mencium bau manusia datang. Pacet yang ada di dedaunan melenting ke bawah meluncur bagai hujan es, resrespoh, cacing melata, lintah berbondong-bondong hendak mengeroyok mereka berdua, tetapi tidak ada yang sampai menjamah dirinya, hanya sampai di kiri kanan penuh bagai sirap tiada selanya. Mas Cebolang tidak menghiraukannya, berjalanlah ia dengan tenangnya. Tiba di puncak gunung yang rata dikelilingi pohon-pohon besar. Semua binatang melata yang hendak menyerangnya kembali ke tempatnya di dedaunan bergelantungen (89: 1-5).

Ki Jurukunci membuka pintu cungkup seraya membaca selawat dengan dilagukan, dupanya terlihat membara. Tiba di dagan 'bagian kaki makam', Jurukunci serta Mas Cebolang duduk menunduk mengucapkan salam kemudian tahlil. Selesai tahlil Mas Cebolang diam, memohon di dalam batin. Atas keramat Yang Maha Agung, kemudian terdengar suara: "Jebeng 'ananda', permohonanmu kukabulkan, jangan khawatir hatimu, lanjutkan maksudmu meneruskan per-jalanan!" (89: 5-7).

Ki Jurukunci heran, berkata dalam hati, "Benar-benar luar biasa, selama saya mengantar orang, baru kali ini ada suara yang terdengar, jelas kata-katanya lagi pula terang maksudnya." (89: 8).

Keduanya telah keluar, pintu cungkup kemudian ditutup. Mas Cebolang mengitari dinding seraya membersihkannya dengan rambutnya hingga kembali ke tempat semula, kemudian bertemu dengan Jurukunci Ki Sraya. Mereka berdua kembali ke Pakerisan, berpakaian lengkap kemudian segera turun, langkahnya enak tiada beban, tiada khawatir dalam hati. Tiba di desa Nusupan bertemu dengan keempat santrinya. Tanpa minta diri mereka terus berjalan. Dari Purbalingga terus tanpa singgah menuju ke barat daya (89: 9-11).

1.2 Mata Air Surawana di Desa Menur

Dalam perjalanan mereka berhenti sejenak untuk beristirahat sambil melihat air mancur sebesar bambu ori yang terjun mengalir ke arah sungai besar yang airnya sangat jernih (89: 12).

Banyak gadis cantik mengambil air terhenti karena melihat mereka berlima dan yang seorang terlihat tampan sedang beristirahat di pinggir air terjun itu. Gadis-gadis itu segera meletakkan klenthing mereka karena terpesona melihatnya. Pada waktu Mas Cebolang ganti memandang, gadis-gadis cantik itu menanggapi dengan bergaya, pada akhirnya dapatlah mereka bertemu pandang.

Mereka yang terkena pandang keluarlah keringatnya pada sekujur badan dan segeralah tertunduk (89: 13-14).

Mas Cebolang menyuruh santri pengikutnya untuk bertanya nama desa itu. Santri segera pergi. Setelah bertemu para gadis tersebut, maka ia segera bertanya, "Maaf mbakyu, saya disuruh bertanya: Desa mana ini?"

Mereka yang ditanya terkejut tidak terkira. Mereka menjawab bersama: "Desa Menur, sedangkan mata air yang terlihat itu adalah mata air Surawana."

Setelah mendapat jawaban, Ki Santri segera kembali. Mas Cebolang pergi sambil mengerling tersenyum, kemudian meneruskan perjalanan. Para gadis yang sedang mengambil air di tempat itupun tinggal merasakan kesedihan karena rasa birahinya (89: 15-17).

Demikianlah perjalanan Mas Cebolang bersama keempat orang santrinya.

1.3 Ki Dati di Desa Temon

Pada waktu matahari hampir tenggelam, di depan terlihat bianglala menukik ke tanah minum air. Segeralah didekati tempat itu. Mereka heran, ternyata itu adalah mata air muncar yang sangat tinggi, sekitar lebih dari 6 depa 'rentangan dua tangan' tingginya. Airnya pun jatuh bagaikan hujan (89: 18-19).

Ki Santri berkata heran, "Aih, saya kira bianglala, ternyata air muncar (umbul) yang tingginya mencapai langit. Tuhan Allah apabila membuat keanehan (?) (piduwung) tidaklah mungkin dapat diperkirakan!" (89: 20).

Mas Cebolang telah mengutus dua orang santrinya masuk ke desa untuk mencari penginapan jika waktu malam tiba. Mereka berdua telah bertemu dengan kapalang 'kepala desa' (89: 21).

Matahari telah terbenam, Mas Cebolang masuk desa bertemu dengan kapalang 'kepala desa yang bernama Ki Dati. Ki Dati menjemput mereka di luar pintu, bersalamanlah mereka berganti-gantian. Setelah mereka bersalam-salaman terus masuk rumah dan tamunya dipersilakan duduk di balai-balai. Ki Dati bertanya, "Siapakah nama Ananda yang berkenan singgah, serta dari mana asalnya?" (89: 22-23).

Mas Cebolang berkata perlahan, menjelaskan nama serta asalnya dan juga keinginannya untuk menginap pada malam itu.

Ki Dati merasa senang mendengar hal itu, dan berkata, "Ananda yang tampan, janganlah khawatir. Jangankan hanya semalam, meskipun lama (pendhak) saya senang juga."

Mas Cebolang tersenyum dan berkata manis, "Terima kasih dan desa manakah ini?" (89: 24-25).

Pemilik rumah menjawab, "Desa Temon. Adapun saya bernama Ki Dati, kepala desa Temon ini."

Para tamu duduk hormat. Kemudian Ki Dati segera memerintahkan untuk menjamu para tamunya dengan menyuguhkan minum, rokok, sirih, nasi dan lauk ikan. Semuanya telah lengkap tersedia di depan mereka (89: 26-27).

Pemilik rumah pun mempersilakan para tamunya untuk menikmati jamuannya. Mereka pun makan bersama dengan lahap. Setelah itu, mereka berbincang-bincang sejenak dan beristirahat (89: 28).

Pada waktu subuh Mas Cebolang beserta keempat santrinya mohon diri, berjabat tangan dengan pemilik rumah, kemudian pergi dengan tujuan yang tidak jelas. Jika malam hari tiba mereka singgah menginap di desa (89: 29).

Demikianlah kutipan perjalanan Mas Cebolang dalam Serat Centhini saat berada di wilayah Purbalingga. Tentu ada yang menarik dari cerita ini, antara lain:

1.      Syeh Jambukarang dalam cerita ini adalah putra raja Majapahit yang bertempat tinggal pertama kali di Gunung Lawet. Setelah itu, datanglah Seh Maulana Makhribi yang mengajarnya ilmu Kangjeng Rasul. Setelah tamat, sang petapa putra Majapahit itu diberi gelar Kanjeng Pangeran Seh Jambukarang di Gunung Lawet.

2.      Nama Surawarna. Mata air yang airnya mancur sebesar bambu ori, airnya sangat jernih, air mengalir ke arah sungai besar itu adalah mata air Surawana berada di Desa Menur. Kini nama mata air Surawana ada di Kelurahan Purbalingga Lor.

3.      Mata air muncar yang sangat tinggi, sekitar lebih dari 6 depa 'rentangan dua tangan' tingginya. Airnya pun jatuh bagaikan hujan, ternyata air muncar (umbul) yang tingginya seakan menggapai langit itu ada di Desa Temon. Mungkin yang dimaksud umbul besar itu adalah Tuk Cipawon, Tuk Cikupel, atau Tuk Cidandang, dulu berada di Desa Temon (Patemon?). Kini sumber air jernih itu sekarang menjadi sumber air OWABONG di Desa Bojongsari dekat Desa Patemon.

Semoga bermanfaat.

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar