Sabtu, 01 Agustus 2026

Sebelum Menjadi SMP Negeri 2 Purbalingga



Sebelum Menjadi SMP Negeri 2 Purbalingga

Oleh: Toto Endargo

Kisah Pembelian Rumah dan Tanah Tahun 1957–1958

"Sebuah sekolah tidak lahir begitu saja. Sebelum terdengar bunyi bel pertama, sebelum ruang kelas dipenuhi murid, selalu ada cerita panjang yang mendahuluinya. Di Purbalingga, cerita itu tersimpan dalam dua lembar surat yang diketik dengan mesin tik hampir tujuh puluh tahun silam."

Di antara tumpukan arsip lama, terselip dua dokumen sederhana bertanggal 28 Juli 1957 dan 28 Juli 1958, tanggal sama beda tahun. Kertasnya telah menguning, tintanya mulai memudar, bahkan sebagian huruf nyaris tak terbaca. Namun justru dari lembaran-lembaran inilah tersingkap sebuah kisah penting: bagaimana lahan dan bangunan yang kelak menjadi SMP Negeri 2 Purbalingga diperoleh.

Selasa, 28 Juli 2026

Matahari Hijau dari Tjitrakusuma: Jejak Pandu Hizbul Wathan Tahun 1955

 

Matahari Hijau dari Tjitrakusuma: Jejak Pandu Hizbul Wathan Tahun 1955

Oleh: Toto Endargo 

Sebuah foto hitam putih yang telah berusia lebih dari tujuh puluh tahun masih tersimpan dengan baik (direstorasi dengan AI menjadi berwarna). Foto itu diambil pada tahun 1955 di Desa Tjitrakusuma, sebuah desa yang kini telah menjadi bagian dari Desa Mangunegara, Kecamatan Mrebet, Kabupaten Purbalingga.

Di dalam foto tampak barisan Pandu Hizbul Wathan (HW) yang berdiri dengan gagah. Seragam yang rapi, syal bergambar matahari hijau, bendera, umbul-umbul, serta genderang menjadi pemandangan yang istimewa pada zamannya. Bagi masyarakat pedesaan pada dekade 1950-an, perlengkapan semacam itu bukanlah sesuatu yang mudah dimiliki.

Mayoritas anak-anak dan pemuda yang tampak dalam foto tersebut berasal dari keluarga besar Arsa Wijaya, seorang lurah Tjitrakusuma pada masanya. Mereka tumbuh dalam lingkungan yang menjunjung pendidikan, pengabdian, dan kehidupan bermasyarakat.

Pandu Hizbul Wathan menjadi salah satu ruang belajar yang penting. Di sanalah anak-anak desa dikenalkan pada kedisiplinan, kepemimpinan, kerja sama, dan kecintaan kepada tanah air. Kehadiran Hizbul Wathan juga menunjukkan bahwa denyut gerakan Muhammadiyah telah menjangkau pelosok Purbalingga - Banyumas tidak lama setelah Indonesia merdeka.

Menariknya, para pemimpin pasukan dalam foto itu bukanlah tokoh-tokoh besar yang namanya tercatat dalam buku sejarah. Mereka adalah pelajar, sebagian telah berkeluarga, yang di sela-sela kesibukan menempuh pendidikan tetap meluangkan waktu untuk membina generasi yang lebih muda.

Kini, banyak wajah dalam foto tersebut telah berpulang. Desa Tjitrakusuma pun tak lagi berdiri sebagai satuan pemerintahan tersendiri. Namun, foto ini membuktikan bahwa sebuah desa kecil pernah memiliki mimpi yang besar.

Barangkali, sejarah memang tidak selalu hadir dalam gedung-gedung megah atau peristiwa-peristiwa besar. Kadang ia hadir dalam sebuah foto yang mulai memudar—tentang anak-anak desa yang berdiri tegak dengan syal bermatahari hijau di leher mereka.

Dan selama foto itu masih disimpan serta kisahnya terus diceritakan, Tjitrakusuma sesungguhnya tidak pernah hilang.

SK yang Melahirkan Tiga SMP Negeri di Purbalingga

 

Surat Keputusan ini berlaku mulai pada tanggal 1 Agustus 1964

SK yang Melahirkan Tiga SMP Negeri di Purbalingga 

Oleh: Toto Endargo 

bahwa sebuah sekolah bukan hanya dibangun oleh tembok dan ruang kelas, tetapi juga oleh sebuah keputusan yang ditulis dengan mesin tik, dibubuhi stempel negara, dan diwariskan antar lintas generasi. 

Selasa, 30 Juni 2026

Syeh Jambukarang, Surawana dan Desa Temon dalam Serat Centhini

 Syeh Jambukarang, Surawana dan Desa Temon dalam Serat Centhini 

 Oleh Toto Endargo 

Serat Centhini - Tambangraras-Amongraga (1846 M) telah menceriterakan tentang Syeh Jambukarang, Surawana dan Desa Temon. Berikut kutipan langsung dari Serat Centhini - Tambangraras-Amongraga - Jilid II, halaman 1 sampai dengan halaman 7, kisah sepintas saat Mas Cebolang berada di wilayah Purbalingga.

Rabu, 24 Juni 2026

Bendung yang Mengubah Wajah Klawing

 


Bendung yang Mengubah Wajah Klawing

Seratus Tahun Perubahan Teknologi Irigasi di Sungai Klawing

Oleh: Toto Endargo

Apabila kita berdiri di atas Bendung Slinga hari ini, sulit membayangkan bahwa tidak jauh dari lokasi yang sama pernah berdiri sebuah bangunan irigasi yang jauh lebih sederhana. Padahal, sejarah pengairan di tempat tersebut telah berlangsung lebih dari satu abad.

Bangunan lama itu dikenal masyarakat sebagai SLIS, sebutan lokal untuk sistem irigasi yang dibangun pemerintah kolonial Belanda pada tahun 1916. Sementara itu, Bendung Slinga yang sekarang mulai dibangun pada tahun 2010 sebagai pengganti sistem lama yang telah berhenti berfungsi sejak 1992.

Dari SLIS ke Bendung Slinga

 

Dari SLIS ke Bendung Slinga

Ketika Sungai Klawing Berubah dan Irigasi Harus Beradaptasi

Oleh: Toto Endargo

Selama lebih dari tujuh puluh tahun (1916 – 1992), SLIS menjadi penopang pertanian di wilayah Slinga dan sekitarnya. Namun seperti halnya alam yang terus berubah, Sungai Klawing pun mengalami proses yang tidak dapat dihentikan.

Sejarah Awal SLIS dan Kecerdasan Irigasi di Slinga

 


Sejarah Awal SLIS dan Kecerdasan Irigasi di Slinga

Ketika Air Klawing Menghidupi Sawah:

 Oleh: Toto Endargo

Di tengah kemegahan Bendung Slinga yang kini berdiri di tepi Sungai Klawing, tidak banyak yang mengetahui bahwa sejarah irigasi di wilayah ini sesungguhnya telah dimulai lebih dari satu abad yang lalu. Jauh sebelum bendung modern dibangun, para insinyur kolonial Belanda telah merancang sebuah sistem pengairan sederhana tetapi cerdas yang dikenal masyarakat sebagai SLIS.

Jumat, 29 Mei 2026

Jejak Jayengresmi dalam Babad Cahyana

 


Jejak Jayengresmi dalam Babad Cahyana

Membaca Kemiripan Kisah Serat Centhini dan Tradisi Syekh Jambukarang

Oleh: Toto Endargo

Dalam khazanah sastra Jawa, sering kali sebuah cerita tidak benar-benar lahir dari peristiwa yang sesungguhnya. Sebuah babad kadang tumbuh dari cerita yang lebih tua, lalu mengalami penyesuaian sesuai kebutuhan zaman, wilayah, maupun corak keyakinan masyarakat pendukungnya. Nama tokohnya berubah, tempatnya berganti, tetapi pola ceritanya tetap meninggalkan jejak.

Kemungkinan seperti itulah yang menarik ketika membaca kisah Raden Jayengresmi dalam Serat Centhini dan membandingkannya dengan kisah Pangeran Jambu Karang dalam Babad Cahyana. Dua cerita ini memiliki kemiripan yang terlalu rinci untuk sekadar disebut kebetulan biasa.

Bukan hanya sama-sama bercerita tentang tokoh sakti dan proses Islamisasi, tetapi bahkan urutan adegan, bentuk adu kesaktian, hingga simbol-simbol yang digunakan tampak hampir serupa.

Selasa, 05 Mei 2026

Arif, Pertemuan yang Tak Terduga

 


 Cerita Pendek

Arif, Pertemuan yang Tak Terduga

Barangkali setiap orang punya satu nama yang tidak pernah benar-benar hilang dari ingatan. Bukan karena ia paling penting, bukan juga karena pernah menjadi siapa-siapa—melainkan karena ia selalu muncul di waktu yang tak terduga, seperti halaman yang berkali-kali terbuka sendiri.

Bagiku, nama itu adalah Arif. Kami sebenarnya sudah saling mengenal sejak SMP. Ia kakak kelas—kelas tiga, sementara aku masih kelas satu. Kami tidak dekat. Tidak pernah benar-benar berbincang lama. Tapi aku mengenalnya sebagai salah satu wajah yang akrab di koridor sekolah—yang kadang lewat, kadang menyapa seperlunya, lalu hilang di antara keramaian.

Senin, 23 Februari 2026

Jejak Ki Tepus Rumput dari Ponorogo ke Tegal

 


Jejak Ki Tepus Rumput dari Ponorogo ke Tegal

Oleh: Toto Endargo

“Bhatara Katong: Pendiri Ponorogo dan Warisan Keturunan”

Di tanah Wengker, Ponorogo, dahulu berdiri seorang adipati yang bijaksana bernama Bhatara Katong. Ia dikenal sebagai pendiri kadipaten Ponorogo, menata wilayah, rakyat, dan mengukuhkan hukum adat sekaligus awal penyebaran Islam.

Bhatara Katong memiliki cucu dan cicit yang kelak menjadi penguasa lokal setelahnya. Mereka meneruskan garis keturunan, menjaga hubungan dengan pusat kekuasaan Pajang, dan tetap menjaga stabilitas Ponorogo. Beberapa generasi dari keturunan ini menjadi murid Ki Ageng Kutu, tokoh tasawuf dan penyebar Islam di Ponorogo, sehingga pengaruh spiritual berjalan beriringan dengan legitimasi politik.

Jumat, 09 Januari 2026

Wujud Teks Babad Onje

 


Wujud Teks Babad Onje

Wujud Teks Babad Onje ini disalin dari Cerita Adipati Onje Dalam Naskah-Naskah Babad, skripsi yang diajukan dalam rangka penyelesaian Studi Strata I untuk mencapai gelar Sarjana Sastra oleh Diana Wisnandari, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Semarang, 2007.

Skripsi ini telah dipertahankan di hadapan sidang Panitia Ujian Skripsi Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Semarang pada hari: Selasa tanggal: 30 Januari 2007

.

Wujud Teks Babad Onje (I)

Halaman 1 - 63

.

/1/, /2/, /3/ kosong.

/4/tidak dapat ditafsirkan karena isinya tidak jelas.

/5/punika dunga wicara ba’da adan allahumma rabbahadihi da’watittamah wasshalatu alqaimatahu ati Sayidina muhammadi alwasilata wab’aftshu makoma mahmudalladzi waattah innakaltuh lifud mi’ad

/6/ s.d /12/kosong.

/13/alhamduliladzi wa’adz tahu ya arhamarahimina inakaltuh lifulmi’awalu rabbi a’idzini min kulaika lamun.......adzab Allahi. Punika dunga wicara ing antarane .....allahumma nauwir qulubana Allahu akriwalmura tibati walayina qulubana bi taufik wallatif walhamdullillah al khabir walhidayah.

/14/ kosong.

/15/, /16/merupakan sebuah doa yang tidak lengkap jadi tidak disunting disini.

/17/ s.d /20/ kosong.

/21/Punika serat sejarah Babad Onje. Ingkang mertapa ing Onje nami Kiyai Tepus Rumput, sampuning mertapa lajeng suwita dhateng Kanjeng Sultan Pajang. boten antawis lami wonten dhawuh undhang: ”Sapa sira bocah ingsun kang bisa anjuput ali-aliningsun, Socaludira wasiyat, saiki kalebu aneng sumur jumbleng. Ingkang abdi boten wonten ingkang saguh mendhet, amung Kiyai Tepus Rumput 

Senin, 17 November 2025

Persetujuan dengan Bung Karno: Puisi dan Politik yang Saling Menyapa

 

Chairil Anwar: Persetujuan dengan Bung Karno

Persetujuan dengan Bung Karno: Puisi dan Politik yang Saling Menyapa

Oleh: Toto Endargo

1. Dua Api dari Satu Zaman

Ayo! Bung Karno kasi tangan mari kita bikin janji...

Bait pembuka itu bukan sekadar panggilan dari seorang penyair kepada presiden. Ia adalah sapaan sejarah, perjumpaan dua nyala yang berasal dari bara yang sama: kata dan perbuatan, bisikan dan teriakan, puisi dan politik.

Chairil Anwar dan Soekarno adalah dua sosok yang dilahirkan oleh zaman yang membara.
Bung Karno memekikkan kemerdekaan di podium,
Chairil membisikkan keberanian di lembaran kertas.
Yang satu menggetarkan alun-alun,
yang satu mengguncangkan batin bangsa.
Namun keduanya menyalakan nyala yang sama — api kemerdekaan jiwa manusia Indonesia.

Komando Kesatuan Gerilya di Purwokerto

 

Pembakaran Gudang di Kembaran - ChatGPT

Komando Kesatuan Gerilya di Purwokerto

Bagaimanapun juga Belanda berusaha untuk mendirikan Pemerintahan Sipil di tempat yang mereka duduki, namun hal ini selalu mengalami kegagalan karena rakyat Indonesih pada umumnya sudah benar bertekat bulat untuk merdeka dan tidak mau dijajah lagi.

Kadatangan Belanda tidak mendapat sambutan yang baik dan bahkan hampir semua penjabat pemerintah sipil RI, meninggalkan tempat dan jabatan mereka, untuk selanjutnya masuk dalam daerah kekuasaan RI.

Perlawanan kita, TNI dan rakyat, terhadap Belanda dilakukan dengan gigih dan yang sangat menguntungkan kita ialah serangan gerilya dan pencegatan konvoi. Dalam menghadapi perlawanan kita itu Belanda merasa kewalahan, karena serangan itu dilakukan oleh gerilyawan kita yang terdiri dari para pemuda, dengan sponsor TNI kita, yang berasal dan bertempat tinggal di daerah yang diduduki Belanda.

Mereka ini merupakan musuh dalam selimut Belanda, dan mereka inipun adalah informan-informan TNI untuk sewaktu араbila ada hal yang perlu, segera menyampaikan kepada, pos-pos TNI yang terdekat. Dengan demikian gerak-gerik Belanda, selalu diketahui oleh TNI, bahkan serangan Belanda, selalu dapat digagalkan, karena mereka sudah terlebih dahulu diketahui oleh TNI.

Gerilyawan kita adalah gerilyawan-gerilyawan yang diatur dengan baik, mereka ini tidak merupakan perilyawan liar yang tanpa Komando dari pimpinan TNI. Begitulah, gerilyawan kita menjadi satuan gerilya yang makin lama makin menjadi kuat dan besar dengan persenjataan yang dapat mereka rebut dari Belanda musuhnya.

Pasukan gerilya yang beroperasi di daerah Divisi Sunan Gunungjati, khususnya yang beroperasi di daerah Banyumas adalah pasukan gerilya yang dipimpin oleh Letda PTR Soepeno, sebagai hasil keputusan sidang yang diadakan oleh tokoh pimpinan di daerah Purwokerto, pada saat Purwokerto sedang dalam serangan Belanda.

Sidarng tersebut diadakan di desa Ketenger sebelah utara Purwokerto pada tanggal 1 Agus-tus 1947, 3 hari sebelum anjuran Dewan Keamanan PBB untuk menghentikan tembak menembak antara Belanda dan Indonesia dikeluarkan. Dan selanjutnya pertikaian diselesaikan dengan jalan damai.

Susunan lengkap komando kesatuan gerilya di Purwokerto adalah sebagi berikut:

1.      Pucuk Pimpinan                  :  Letda P.T.R. Soepeno

2.      Wakil I Pucuk Pimpinan     : Kapten P.T.R. Soewagijo

3.      Wakil II Pucuk Pimpinan    : Budihardjo.

4.      Staf terdiri dari:

a.      Let Kol. TNI Masjarakat Sutedjo.

b.      Let Kol. TNI Masjarakat Agus

c.       Suwarto SH – Wakil Residen

d.      Gatot SH – Kepala Pangadilan Negeri.

e.      Kapten Wirjosendjojo.

f.        Herman SH – Kementerian Dalam Negeri,

g.      Ir Utji – D.Κ.Α.  

h.      Roni Sulaiman

i.        Sukosampurno.

Kesatuan Pasukan Gerilya Pancakoa

Dengan masuknya tentara Belanda ke Purwokerto, maka Batalyon yang dipimpin Mayor Brotosiswoyo diperintahkan untuk kembali ke Kutaliman, sebuah desa yang terletak di sebelah utara Purwokerto termasuk kompleks Gunung Slamet untuk bergerak, beroperasi di daerah sekitar Purwokerto.

Dengan kedatangan Batalyon Brotosiswojo itu, maka diadakanlah perundingan antara Mayor Sujoto untuk dapatnya dibentuk satu kesatuan Komando. Setelah selesai pertemuan itu, kesatuan barisan gerilya diserahkan kepada Mayor Brotosiswojo. Letda P.T.R. Soepeno kemudian berhasil membentuk pertahanan rakyat dengan nama Kesatuan Pasukan Gerilya "PANCAKOA".

Ini terjadi pada tanggal 17 Agustus 1947 dengan pucuk pimpinan Letda P.T.R. Soepeno sendiri sedangkan sebagai wakilnya adalah H. Mashuri alias Matkartam. Sebagai markasnya dipilih desa Jipang. Setiap malam "Pancakoa" mengadakan serangan terus-menerus, bahkan sekali waktu sampai masuk ke tengah kota Purwokerto. Pada tgl. 30 Agustus 1947, gudang peluru milik Belanda yang disimpan didesa Kembaran, Purwokerto dapat dibakar, sehingga menggemparkan seluruh penduduk Purwokerto dan sekitarnya, yang mau tidak mau membesarkan hati, jiwa dan semangat juang rakyat.

Pada bulan September 1947 Belanda menempatkan pos di Patikraja, Rawalo, Jatilawang dan Wangon. Untuk menghadapi pos Belanda inı pasukan pasukan gerilya Pancakoa menyusup ke daerah itu dan membentuk Posko di desa Kaliputih yang terletak di sebelah utara Djatilawang. Dari Kaliputih inilah dilantjarkan serangan terhadap pos-pos Belanda dengan hasil baik.

Beberapa pucuk senjata dapat dirampas a. l.:

·         Dari pos Karangluwas 3 pucuk L. F.,

·         Pos Patikraja 3 pucuk Brengun,

·         dari pos Rawalo 95 pucuk senapan dan

·         dari Pos Jatilawang 1 pucuk pistol.

Keadaan yang demikian bukan hanya sekedar menguntungkan secara materieel saja, melainkan membawa pengaruh moril yang besar terhadap rakyat setempat.

Selain serangan secara fisik yang dilakukan oleh pasukan gerilya Pancakoa ini, mereka juga membentuk pemerintahan sipil (pamong praja) guna melantjarkan jalannya pemerintahan Republik Indonesia serta mengadakan kampanye anti Belanda yang terang-terang ingin menjajah kembali dan merobek-robek kemerdekaan Indonesia. Aktifitas pasukan gerilya Pancakoa berjalan terus, sehingga kesempatan istirahat bagi fihak lawan tidak ada.

Demikianlah pada tanggal 10 Oktober 1947 pasukan gerilya mengadakan serangan atas Jatilawang dan Wangon sehingga rakyat Jatilawang, Wangon dan sekitarnya benar-benar menaruh kepercayaan terhadap Republik Indonesia, dan rasa benci mereka kepada Belanda benar-benar tertanam dalam kalbunya.

Dari keadaan ini rakyat sudah dapat dipercaja untuk mengusir penjajah Belanda dari daerahnya. Selanjutnja pasukan gerilya Pancakoa bergerak terus menuju ke tempat lain yaitu ke Paningkaban, sebuah desa yang terletak di sebelah utara Lumbir. Setelah seminggu berada disitu pasukan gerilya Pancakoa meneruskan gerakannya ke Kawunganten, dan memilih desa Jurangmangu sebagai Poskonya. Dari sini dilancar-kan serangan ke Kawunganten, Kubangkangkung, Gandrungmangu dan Sidaredja dengan tujuan a.l:

·         Menghadang pasukan Belanda yang sedang mengadakan penangkapan terhadap rakyat di desa Sarwadadi, dan dalam pertempuran ini pasukan gerilya Pancakoa berhasil melepaskan tawanan-tawanan tersebut.

·         Menyerang pos Belanda di Kubangkangkung dan membakar perumahan milik perkebunan karet.

·         Menyerang Gandrungmangu dan membakar padi yang berdekatan dengan pasar.

Demikianlah kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh pasukan gerilya Pancakoa dalam slagorde Divisi Gunungjati.

Pasukan gerilya yang ada dalam slagorde Divisi III Pangeran Diponegoro, maupun Divisi IV Panembahan Senapati juga tidak tercela dan selalu mengadakan serangan-serangan yang terus-menerus terhadap Belanda.

Pasukan-pasukan gerilya yang terkenal dalam daerah di luar DivISI ii Gunungjati adalah antara lain:

1.      Pasukan Kyai Biru dengan daerah operasinya Sektor utara Div. III yang dipimpin oleh Letkol Sarbini.

2.      Pimpinan Gerilya Rakyat (P. G. R.).

3.      Markas Pertahanan Rakyat (M. P. R.).

4.      Pasukan B. A. T. U. (Barisan Tahan Uji ) - Pasukan Merbabu.

5.      Pasukan Markas Kuda Besi / Sabotase Service (M.B.K / S.S.).

===