![]() |
| Lesmana Mandrakumara - Toto Endargo - AI |
Oleh: Toto Endargo
Wayang adalah dunia yang menarik. Ia
lahir dari cerita masa lampau, tetapi hampir selalu menemukan jalan untuk
berbicara kepada manusia pada zaman sekarang.
Tokoh-tokohnya bukan hanya sekadar nama dalam pakeliran. Di balik perang, percintaan, perebutan kekuasaan, dan perjalanan para kesatria, terdapat gambaran tentang watak manusia. Ada yang dapat dijadikan teladan, ada pula yang justru menarik untuk direnungkan karena kekurangannya.
Salah satunya adalah Lesmana
Mandrakumara. Ia adalah putra Prabu Suyudana, raja Astina. Sebagai anak
raja, Lesmana tentu berada di lingkungan yang sangat istimewa. Ia hidup di
pusat kekuasaan dan berada dekat dengan tokoh-tokoh besar seperti Resi Bisma
dan Begawan Drona.
Dalam garis keturunan, ia mempunyai
modal yang luar biasa. Bahkan ia dipandang sebagai calon penerus kerajaan
Astina. Tetapi apakah darah bangsawan dan kedekatan dengan pusat kekuasaan
sudah cukup untuk menjadikan seseorang pemimpin? Di sinilah kisah Lesmana
menjadi menarik.
Trah Memberikan Nama, Tetapi Ilmu
Memberikan Bekal
Dalam kebudayaan Jawa, trah mempunyai
arti penting. Dari mana seseorang berasal, siapa orang tuanya, dan dari
keluarga mana ia dilahirkan merupakan bagian dari identitas sosial.
Namun, kebudayaan Jawa juga mengenal
ungkapan “ajining diri saka lathi, ajining raga saka busana.” Harga
diri seseorang antara lain tercermin dari tutur kata dan perilakunya. Artinya, asal-usul
bukanlah satu-satunya ukuran.
Dalam cerita pewayangan, Lesmana
Mandrakumara memang memiliki trah yang sangat kuat. Ia adalah anak raja. Tetapi
kisah tentang dirinya tidak banyak memperlihatkan perjalanan keilmuan dan
kepemimpinan sebagaimana yang tampak pada tokoh-tokoh kesatria lainnya. Siapa
guru utamanya? Ilmu apa yang benar-benar menjadi keunggulannya? Apa senjata
andalannya? Dalam kisah-kisah yang populer, hal-hal tersebut tidak menonjol.
Hal ini menjadi menarik apabila
dikaitkan dengan persoalan kepemimpinan. Seorang pemimpin tidak cukup hanya
memiliki nama besar. Ia membutuhkan ilmu untuk memahami persoalan, pengalaman
untuk menghadapi kenyataan, serta kebijaksanaan untuk menentukan sikap.
Dekat dengan Guru, Belum Tentu
Menjadi Murid yang Utama
Lesmana berada dalam lingkungan yang
sangat dekat dengan tokoh-tokoh besar. Ada Begawan Drona, guru para kesatria.
Ada Resi Bisma, sesepuh Astina yang dihormati oleh banyak pihak. Tetapi
kedekatan dengan orang berilmu tidak otomatis menjadikan seseorang berilmu
tinggi.
Ada perbedaan antara berada dekat
dengan sumber ilmu dan sungguh-sungguh menimba ilmu. Seseorang dapat hidup di
lingkungan pendidikan yang baik, tetapi belum tentu memiliki kedalaman
pengetahuan. Seseorang dapat berada di dekat orang-orang bijaksana, tetapi
belum tentu menyerap kebijaksanaan mereka.
Ilmu harus dicari, dipelajari,
dilatih, dan dibuktikan dalam kehidupan. Di sinilah kisah Lesmana memberikan
bahan renungan yang menarik.
Ketika Kedudukan Tidak Menjamin
Keberhasilan
Dalam beberapa kisah pewayangan,
Lesmana Mandrakumara juga diceritakan sebagai pelamar putri-putri tertentu,
terutama putri dari keluarga Arjuna. Namun, berkali-kali ia harus menghadapi
kenyataan bahwa dirinya kalah bersaing dengan pelamar lain.
Ada ironi di sana. Seorang putra
mahkota ternyata tidak selalu menjadi pilihan utama. Kedudukan ternyata tidak
otomatis mendatangkan keberhasilan. Hal tersebut sebenarnya sangat dekat dengan
kehidupan manusia. Jabatan, kekayaan, nama keluarga, dan kedudukan sosial dapat
membuka kesempatan. Tetapi semua itu tidak selalu cukup untuk memperoleh
penghargaan dan kepercayaan.
Kepercayaan harus dibangun. Penghormatan
harus diperoleh. Dan kemampuan harus dibuktikan.
Bharatayuda: Ketika Kesombongan atau
Kelengahan Menjadi Petaka
Perjalanan Lesmana berakhir dalam
perang Bharatayuda. Dalam salah satu kisah yang dikenal dalam pewayangan,
Lesmana dan para kurawa berhadapan dengan Abimanyu. Ketika melihat Abimanyu
sudah dalam keadaan sangat terdesak, Lesmana mengira lawannya telah tidak
berdaya.
Ia mendekat dengan maksud mengakhiri
hidup Abimanyu. Namun ternyata keadaan tidak seperti yang diperkirakan. Abimanyu,
meskipun berada dalam keadaan kritis dan setengah sadar, masih mampu melakukan
perlawanan. Senjatanya justru lebih dahulu mengenai Lesmana Mandrakumara. Putra
raja Astina itu akhirnya gugur.
Adegan tersebut dapat dibaca sebagai
sebuah pitutur: jangan menganggap lawan sudah kalah sebelum benar-benar
mengetahui keadaan. Dalam kehidupan, kelengahan sering kali datang bukan
ketika seseorang merasa lemah, melainkan ketika ia merasa sudah berada di atas.
Karena itu, seorang pemimpin
membutuhkan kewaspadaan. Bukan kewaspadaan yang lahir dari rasa takut, tetapi
kewaspadaan yang lahir dari kesadaran bahwa keadaan dapat berubah setiap saat.
Pemimpin Tidak Hanya Diwariskan
Di sinilah kisah Lesmana Mandrakumara
terasa relevan dengan kehidupan modern. Kerajaan pada zaman pewayangan mengenal
pewarisan kekuasaan berdasarkan garis keturunan.
Politik modern memiliki sistem yang
berbeda. Kepemimpinan pemerintahan pada prinsipnya berkaitan dengan mekanisme
politik, hukum, pendidikan, pengalaman, organisasi, serta kepercayaan
masyarakat.
Namun persoalan dasarnya tetap
menarik untuk direnungkan: Apakah seseorang siap memimpin hanya karena ia
berasal dari keluarga pemimpin? Jawabannya tentu tidak sekedar ya atau tidak!
Keturunan dapat menjadi bagian dari
perjalanan seseorang, tetapi bukan pengganti pendidikan. Nama keluarga dapat
membuka pintu, tetapi bukan jaminan bahwa seseorang mampu menjalankan amanah di
balik pintu tersebut.
Seorang pemimpin perlu belajar
memahami masyarakat. Ia perlu mengetahui bagaimana pemerintahan bekerja. Ia perlu
memiliki pengalaman menghadapi persoalan. Ia juga perlu belajar menerima kritik
dan memahami bahwa keputusan yang dibuatnya dapat memengaruhi kehidupan banyak
orang.
Karena itu, kepemimpinan seharusnya
tidak berhenti pada persoalan “anak siapa?”, tetapi juga menyangkut pertanyaan
“telah belajar apa, berpengalaman apa, dan mampu berbuat apa?”
Wayang dan Falsafah Kehidupan
Mungkin inilah salah satu kekuatan
wayang. Cerita yang berasal dari masa lampau ternyata tidak pernah benar-benar
menjadi tua.
Bentuk pemerintahannya mungkin sudah
berbeda. Senjatanya sudah tidak digunakan. Kerajaan Astina dan Amarta hidup
dalam dunia pewayangan. Tetapi persoalan manusia tetap sama: ambisi,
kekuasaan, persaingan, keluarga, kehormatan, kesalahan, dan akibat dari setiap
keputusan.
Lesmana Mandrakumara tidak harus
dipandang hanya sebagai tokoh yang kalah atau tokoh yang gagal. Ia justru dapat
menjadi bahan perenungan. Dari dirinya kita dapat melihat bahwa trah
bukanlah ilmu, kedudukan bukanlah kemampuan, dan kesempatan menjadi pemimpin
bukanlah bukti bahwa seseorang telah siap memimpin.
Dalam pandangan Jawa, ada perbedaan
antara sekadar memiliki kedudukan dan mampu mengemban amanah. Kekuasaan dapat
diwariskan. Tetapi kebijaksanaan tidak dapat diwariskan begitu saja. Nama besar
dapat diberikan oleh orang tua. Tetapi nama baik harus dibangun sendiri.
Dan jabatan mungkin dapat diperoleh
melalui sebuah proses politik, tetapi penghormatan masyarakat pada akhirnya
tumbuh dari bagaimana seseorang menggunakan jabatan tersebut.
Karena itulah wayang masih layak
dibaca. Ia bukan sekadar cerita untuk mengisi malam dengan gamelan, suluk, dan
dialog para tokoh. Wayang adalah salah satu cara leluhur kita berbicara
kepada generasi sesudahnya.
Kadang melalui seorang kesatria yang
menang. Kadang melalui seorang tokoh yang kalah. Dan kadang melalui seorang
putra raja, seperti Lesmana Mandrakumara, yang mengingatkan kita bahwa menjadi
pewaris kekuasaan tidak sama dengan menjadi pemimpin yang telah siap memikul
kekuasaan.
Pada akhirnya, barangkali itulah
pitutur yang paling sederhana: darah dapat menentukan dari mana seseorang
berasal, tetapi ilmu, pengalaman, watak, dan perbuatanlah yang menunjukkan
siapa dirinya. ===

Tidak ada komentar:
Posting Komentar