Catatan sejarah ini ditulis oleh Bapak Soeparno Penilik Kebudayaan Kantor Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Kecamatan Kalimanah, Tahun 1988, dan diberi judul “MENGENAL TUGU JUANG DI DESA BLATER”
Catatan sejarah ini ditulis oleh Bapak Soeparno Penilik Kebudayaan Kantor Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Kecamatan Kalimanah, Tahun 1988, dan diberi judul “MENGENAL TUGU JUANG DI DESA BLATER”
Benteng Missier dan Pager Banawaty: Dua Lapisan Pertahanan di Onje (1681)
Pada akhir abad ke‑17, wilayah barat daya Banyumas menjadi salah satu titik strategis dalam perebutan pengaruh antara VOC dan kekuatan‑kekuatan lokal Jawa. Kawasan Onje, yang terletak di tepi Sungai Klawing, dikenal masyarakat setempat sebagai pusat Kadipaten dengan sistem pertahanan tradisional yang disebut Pager Banawaty. Struktur ini berupa benteng bumi dengan parit melingkar dan dinding tanah yang mengelilingi permukiman inti kadipaten, khas pertahanan lokal Jawa pada masa itu.
Stop Bullying Sekolah: Saatnya Kita Bela Institusi Pendidikan
Oleh: Toto Endargo
Kita semua sepakat: bullying itu berbahaya. Itulah mengapa kampanye Stop Bullying digalakkan di sekolah-sekolah — demi melindungi siswa dari kekerasan psikologis dan sosial.
Tapi, ada satu bentuk bullying yang kerap diabaikan: bullying terhadap sekolah itu sendiri.
Di era digital, sebuah unggahan sepihak bisa meluluhlantakkan nama baik sebuah sekolah. Tanpa klarifikasi, tanpa data, hanya berdasarkan narasi personal yang kemudian diviralkan. Komentar netizen pun datang berbondong-bondong, menekan, menghujat, bahkan menuntut sanksi — tanpa proses, tanpa tabayyun.
Kisah Jataka: Cerita-Cerita Moral dan Spiritual Menggambarkan Kehidupan Sang Buddha
Jataka Tales atau Kisah Jataka adalah cerita-cerita moral dan spiritual yang menggambarkan kehidupan Sang Buddha dalam berbagai reinkarnasi — bisa sebagai manusia, hewan, atau makhluk lain.
Terdapat 547 hingga 550 kisah Jataka dalam tradisi Theravada (Pali Canon), dan masing-masing mengandung pesan moral atau nilai kebajikan seperti kemurahan hati, kebijaksanaan, dan pengorbanan.
RUNTUHNYA RAJA NAMRUD DARI SALINGA
Sebuah cerita yang diambil dari kisah perselisihan antara Pangeran Puger di Pleret dengan Amangkurat II di Kartasura hingga runtuhnya Benteng Mesir dan tewasnya Raja Namrud dari Salinga (Slinga), sebuah wilayah di sekitar Desa Onje, Mrebet, Purbalingga.
Perselisihan Pleret - Kartasura
Pangeran Puger adalah penguasa di Keraton Pleret, telah berselisih dengan kakaknya yang bernama Raden Mas Rahmat, raja di Kerajaan Kartasura. Raden Mas Rahmat bergelar Amangkurat II, dikenal juga dengan nama Sunan Amral karena suka memakai pakaian model Admiral (Laksamana) Belanda.
Diskriminasi dalam Undangan Hajatan di Masyarakat
Sudah menjadi kenyataan bahwa dalam budaya hajatan, khususnya dalam peristiwa khitanan, terjadi diskriminasi dalam penyebaran undangan di masyarakat.
Undangan Tasyakuran
Inspirasi tulisan ini datang saat mencermati sebuah undangan tasyakuran khitanan yang mengundang kerabat untuk hadir dan memberikan doa restu. Pada halaman utama undangan tersebut, tercantum hadis:
"Rasulullah SAW bersabda: Sunnah kesucian/kebersihan ada lima yaitu; (1) berkhitan, (2) memotong kuku, (3) merapikan kumis, (4) mencabut bulu ketiak, dan (5) mencukur bulu kemaluan” (HR. Bukhari dan Muslim).
Khitanan Menjadi Prioritas
Dari kelima sunnah yang disebutkan dalam hadis tersebut, hanya khitan yang menjadi budaya untuk dirayakan dengan hajatan dan mengundang kehadiran kolega serta kerabat. Sedangkan untuk empat sunnah lainnya, belum pernah terdengar adanya undangan tasyakuran.
Mengapa Hanya Khitan?
Beberapa alasan yang mungkin menjadi penyebab fenomena ini:
Diskriminasi dalam Pelaksanaan Sunnah
Jika dipandang bahwa kelima sunnah tersebut memiliki kedudukan yang sama, maka masyarakat sesungguhnya melakukan diskriminasi dalam pelaksanaannya. Hajatan dengan undangan doa restu hanya dilakukan untuk khitanan, sementara sunnah lainnya diabaikan dalam konteks perayaan atau hajatan.
Beruntung atau Ironis?
Di satu sisi, diskriminasi ini bisa dianggap menguntungkan. Bayangkan jika setiap sunnah dalam hadis tersebut dirayakan dengan hajatan dan undangan. Pasti akan sering datang undangan untuk menghadiri acara seperti tasyakuran potong kuku, merapikan kumis, atau mencabut bulu ketiak!
Namun, fenomena ini sekaligus menunjukkan bagaimana masyarakat menafsirkan dan memprioritaskan ajaran agama secara selektif, sesuai dengan norma budaya yang berkembang.
Kesimpulan
Budaya undangan hajatan di masyarakat telah menunjukkan adanya diskriminasi dalam penerapan sunnah yang disebutkan dalam hadis kesucian/kebersihan. Tasyakuran hanya diadakan untuk khitanan, sedangkan empat sunnah lainnya tidak diundangkan sama sekali.
Bagaimanapun juga, hal ini menggambarkan dinamika sosial dan budaya dalam menafsirkan serta menerapkan ajaran agama.
Semoga bermanfaat.
Toto Endargo
Semar adalah tokoh bijak dalam pewayangan yang mengasuh dan membimbing Arjuna layaknya anak kandungnya sendiri. Dalam suatu perjalanan, Arjuna terlibat pertarungan sengit dengan seorang raksasa hingga ia jatuh terkapar kelelahan. Untuk melanjutkan perjalanannya, Arjuna membutuhkan energi yang cukup, termasuk makanan sebagai penguat.
Politik Dalam Pewayangan (13): Dana Aspirasi – Aswatama Gasir
Politik
Dalam Pewayangan dan Kehidupan Nyata
Aswatama, di penghujung Perang Bharatayuda, menemui Duryudana yang dalam kondisi sekarat. Dalam keadaan kritis itu, Duryudana mengangkat Aswatama sebagai senapati perang yang baru. Dengan amarah membara dan dendam mendalam terhadap Drestajumena yang membunuh ayahnya, serta terhadap anak-anak Pandawa, Aswatama mencari cara membalas dendam tanpa harus menghadapi mereka secara langsung di medan perang. Dengan sumber daya terbatas dan hanya didampingi dua orang sekutu, ia memilih strategi yang tidak lazim.
Begawan Sempani adalah seorang pertapa sakti yang memiliki kesaktian luar biasa. Ia mampu menghidupkan kembali anak angkatnya, Jayajatra, meskipun dalam kondisi telah tewas. Dengan kesaktiannya, Jayajatra yang telah mati tetap dapat bergerak seperti robot, kedua tangannya menggenggam keris dan pedang, menebas puluhan prajurit Pandawa.
Politik Dalam Pewayangan (15): Kebohongan dan Kepalsuan – Wisanggeni
Wisanggeni adalah tokoh pewayangan yang dikenal sebagai putra Arjuna dan Dewi Dresanala, putri Batara Brama. Sejak lahir, Wisanggeni sudah menunjukkan kecerdikan dan kesaktiannya yang luar biasa. Hal ini membuatnya sering disebut sebagai "dewa terakhir," karena bahkan para dewa di Kahyangan merasa segan terhadap kebijaksanaan dan kekuatannya.