Jejak Jayengresmi dalam Babad Cahyana
Membaca Kemiripan Kisah Serat Centhini dan Tradisi Syekh Jambukarang
Oleh: Toto Endargo
Dalam khazanah sastra Jawa, sering kali sebuah cerita tidak benar-benar lahir dari peristiwa yang sesungguhnya. Sebuah babad kadang tumbuh dari cerita yang lebih tua, lalu mengalami penyesuaian sesuai kebutuhan zaman, wilayah, maupun corak keyakinan masyarakat pendukungnya. Nama tokohnya berubah, tempatnya berganti, tetapi pola ceritanya tetap meninggalkan jejak.
Kemungkinan seperti itulah yang menarik ketika membaca kisah Raden Jayengresmi dalam Serat Centhini dan membandingkannya dengan kisah Pangeran Jambu Karang dalam Babad Cahyana. Dua cerita ini memiliki kemiripan yang terlalu rinci untuk sekadar disebut kebetulan biasa.
Bukan hanya sama-sama bercerita tentang tokoh sakti dan proses Islamisasi, tetapi bahkan urutan adegan, bentuk adu kesaktian, hingga simbol-simbol yang digunakan tampak hampir serupa.
Cerita Pertama: Jayengresmi dan Wasi Narawita
Dalam Serat Centhini jilid pertama dikisahkan bahwa Raden Jayengresmi memperoleh wejangan dari Seh Sekar Dahlima agar melanjutkan pengembaraannya ke Gunung Sawal. Di sana tinggal seorang maharesi bernama Wasi Narawita, seorang pertapa sakti yang masih mempertahankan ajaran lama dan belum bersedia memeluk Islam.
Jayengresmi kemudian mendaki gunung seorang diri. Kehadirannya rupanya telah diketahui oleh Wasi Narawita. Sang resi menyambut tamunya dengan melontarkan batu-batu besar. Namun Jayengresmi tetap bertahan sambil berserah diri kepada Allah.
Pertemuan itu lalu berubah menjadi duel kesaktian. Wasi Narawita menantang Jayengresmi melalui berbagai ujian linuwih. Telur-telur disusun bertingkat hingga menggantung di udara. Jayengresmi diminta mengambilnya satu per satu dari bawah tanpa menjatuhkan telur di atasnya.
Setelah itu muncul cupu emas berisi air yang digantung di udara. Jayengresmi berhasil memecahkan wadahnya, tetapi airnya tetap tidak tumpah. Adu kesaktian berlanjut ketika peci Wasi Narawita diterbangkan ke angkasa. Jayengresmi melempar bajunya, dan baju itu mampu menindih peci sang resi.
Belum berhenti di situ, Wasi Narawita membakar pertapaannya sendiri, menghancurkan isi gunung, hingga menyembunyikan diri di dalam genta emas. Namun Jayengresmi selalu dapat mengunggulinya.
Pada akhirnya Wasi Narawita mengajukan syarat terakhir: bila Jayengresmi mampu menghidupkan orang mati, ia bersedia masuk Islam. Jayengresmi kemudian memohon kepada Allah, dan mayat-mayat itu hidup kembali. Wasi Narawita pun menyerah, mengucapkan syahadat, lalu menggaib dengan meninggalkan cahaya terang yang menyinari gunung.
Kisah itu bukan sekadar cerita adu kesaktian. Ia sebenarnya menggambarkan perjumpaan dua dunia: tradisi lama pegunungan dengan spiritualitas Islam yang sedang berkembang dalam sastra Jawa.
Cerita Kedua: Pangeran Jambu Karang dan Pangeran Atas Angin
Kisah kedua muncul dalam Babad Cahyana yang diteliti oleh Anasfia Lulu Wilujeng dari Universitas Islam Negeri Prof. K.H. Saifuddin Zuhri. Cerita ini mengisahkan perjalanan Pangeran Jambu Karang mencari cahaya gaib hingga sampai di sebuah tempat yang kemudian dinamai Giri Cahyana.
Dalam pengembaraannya, Jambu Karang melewati berbagai desa, mengganti nama tempat-tempat yang disinggahinya, hingga akhirnya menemukan tanah bercahaya di sebuah bukit. Tempat itu kemudian dihormati dan dijaganya.
Pada saat yang sama, seorang tokoh lain bernama Pangeran Atas Angin dari negeri Arab melihat cahaya yang memancar ke langit. Cahaya itu dikejarnya sampai akhirnya ia tiba di Gunung Cahyana dan bertemu dengan Pangeran Jambu Karang.
Pertemuan keduanya segera berubah menjadi adu kesaktian. Pangeran Atas Angin mula-mula mengira Jambu Karang belum beragama Islam. Jambu Karang lalu menunjukkan kesaktiannya dengan menerbangkan kethu atau kopiahnya ke udara. Pangeran Atas Angin mengimbangi dengan menerbangkan bajunya. Ketika jatuh kembali, baju itu menindih kethu milik Jambu Karang.
Adu linuwih kemudian berlanjut dengan penyusunan telur yang menggantung di udara. Pangeran Atas Angin berhasil mengambil telur satu demi satu dari bawah tanpa menjatuhkan telur di atasnya. Setelah itu kendi berisi air digantung di udara dan dipecahkan, tetapi airnya tetap menggantung tanpa tumpah.
Merasa kalah kesaktian dan malu, Pangeran Jambu Karang akhirnya menghilang. Setelah ditemukan kembali melalui semadi Pangeran Atas Angin, ia menerima kekalahannya dan dibaiat masuk Islam.
Kemiripan yang Sulit Disebut Kebetulan
Jika kedua cerita itu dibaca sepintas, orang mungkin hanya melihat kisah umum tentang Islamisasi tokoh sakti Jawa. Namun bila diperhatikan lebih teliti, kemiripannya ternyata sangat rinci.
Dalam kedua cerita:
- tokoh utama datang ke gunung,
- bertemu tokoh sakti penjaga tradisi lama,
- terjadi adu kesaktian,
- peci atau kethu diterbangkan,
- baju dilempar dan menindih peci,
- telur disusun menggantung di udara,
- telur diambil satu demi satu dari bawah,
- wadah air digantung di udara,
- air tetap menggantung meski wadahnya pecah,
- tokoh lama akhirnya kalah lalu masuk Islam.
Kemiripan seperti ini terlalu spesifik bila dianggap muncul secara kebetulan sepenuhnya. Sangat mungkin terdapat hubungan naratif antara keduanya.
Meski demikian, hubungan itu tidak harus dipahami sebagai “meniru” secara langsung. Bisa jadi yang terjadi adalah pewarisan motif cerita dalam tradisi sastra Jawa. Kisah-kisah pengembaraan spiritual, adu kasekten, dan islamisasi pertapa gunung tampaknya telah menjadi pola yang hidup lama dalam dunia sastra dan tutur Jawa.
Babad Cahyana kemungkinan menyerap pola yang sebelumnya telah dikenal dalam tradisi seperti Serat Centhini, lalu menyesuaikannya dengan konteks lokal Cahyana dan tokoh Syekh Jambukarang.
Islamisasi yang Tidak Menghina Tradisi Lama
Yang menarik, baik Wasi Narawita maupun Pangeran Jambu Karang tidak digambarkan sebagai tokoh jahat. Mereka justru sakti, dihormati, dan memiliki kedudukan spiritual tinggi. Kekalahan mereka bukan karena kebodohan, melainkan karena datangnya ajaran baru yang dianggap lebih tinggi.
Di sinilah sastra Jawa memperlihatkan wataknya yang khas. Islamisasi tidak selalu digambarkan sebagai penghancuran total terhadap tradisi lama, tetapi lebih sebagai proses penyerapan dan transformasi.
Tokoh lama tidak dibinasakan secara hina. Wasi Narawita bahkan menggaib menjadi cahaya. Jambu Karang pun tetap dikenang sebagai tokoh penting dalam asal-usul wilayah Cahyana.
Karena itu, kedua kisah ini tampaknya bukan sekadar cerita kesaktian, melainkan simbol peralihan peradaban Jawa dari dunia pertapaan lama menuju dunia Islam Jawa yang baru.
Penusupan dan Gunung Lawet: Titik Temu yang Menarik
Dalam Serat Centhini jilid kedua juga muncul kisah perjalanan Mas Cebolang ke wilayah Penusupan (Nusupan) Gunung Lawet, kawasan yang dalam tradisi Babad Cahyana berkaitan dengan Syekh Jambu Karang. Kemunculan nama wilayah yang sama ini menarik perhatian, sebab memperlihatkan bahwa tradisi Centhini tampaknya mengenal lanskap budaya yang juga hidup dalam babad lokal Banyumas – Purbalingga.
Karena itu, kemiripan antara kisah Jayengresmi dan Jambu Karang tidak hanya terletak pada pola adu kesaktian, tetapi juga pada kedekatan ruang budaya tempat cerita itu bergerak. Dan mungkin, di balik kisah Syekh Jambukarang yang hidup dalam babad lokal itu, masih tersimpan gema pengembaraan Jayengresmi dari Serat Centhini.
Karena kalau Serat Centhini tidak hanya memiliki pola cerita yang mirip, tetapi juga benar-benar menyebut:
· Gunung Lawet,
· Penusupan/Nusupan,
· wilayah yang berkaitan dengan tradisi Syekh Jambu Karang,
maka hubungan keduanya menjadi jauh lebih serius untuk dibahas.
Artinya: kemungkinan keterhubungan itu tidak lagi hanya berbasis motif cerita, tetapi juga berbasis ruang naratif yang sama. Ini penting sekali untuk memperkuat argumentasi bahwa: tradisi Cahyana dan tradisi Centhini tampaknya bergerak dalam lanskap budaya yang saling bersinggungan.
Bukan mustahil penyusun Centhini:
- mengenal tradisi lokal tersebut,
- mendengar cerita tutur yang berkembang,
- atau justru mengambil unsur-unsur dari wilayah itu.
Sebaliknya juga mungkin: tradisi lokal Cahyana kemudian menyerap ulang pola yang telah dipopulerkan oleh Centhini. Karena arah pengaruhnya sulit dipastikan, maka lebih ideal bila kita tidak memaksakan sebuah kesimpulan tunggal.
Yang menarik, Penusupan dan Gunung Lawet bukan nama sembarangan dalam jalur budaya Banyumas – Purbalingga. Dalam banyak tradisi tutur, wilayah pegunungan seperti itu memang sering menjadi:
· ruang pertapaan,
· lokasi cahaya gaib,
· tempat peralihan agama,
· dan titik munculnya tokoh spiritual.
Karena itu, kemunculan wilayah yang sama dalam dua tradisi berbeda bisa dibaca sebagai: adanya memori budaya bersama yang hidup lama di kawasan Gunung Cahyana.
Namun demikian tentu menjadi wajar jika ada yang berpendapat: “Wah, ini bukan kebetulan biasa.” atau bahkan hanya berkata “Ceritanya mirip”!
===
Toto Endargo, 27 Mei 2026

Tidak ada komentar:
Posting Komentar