Tampilkan postingan dengan label Sejarah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sejarah. Tampilkan semua postingan

Selasa, 01 September 2026

Kucel, Bukit Kecil di Jalan Bobotsari–Purbalingga: Jejak Pertempuran dalam Mempertahankan Kemerdekaan

 

Pertempuran di Kucel, Mangunegara - Toto Endargo - Foto AI

Kucel, Bukit Kecil di Jalan Bobotsari–Purbalingga: Jejak Pertempuran dalam Mempertahankan Kemerdekaan

 Oleh: Toto Endargo

Ada sebuah tempat yang barangkali nyaris tidak dikenal dalam peta sejarah perjuangan mempertahankan kemerdekaan di Purbalingga. Namanya Kucel, sebuah bukit kecil di wilayah Mangunegara, di sebelah selatan Jembatan Sungai Pingen, yang mengapit jalan raya Bobotsari–Purbalingga.

Kini tempat itu mungkin hanya dipandang sebagai bagian dari bentang jalan biasa. Namun dahulu Kucel merupakan kawasan yang sangat berbeda. Di kanan dan kiri jalan terdapat tebing dengan ketinggian sekitar sepuluh meter. Pepohonan tumbuh sangat rimbun, menyerupai hutan kecil. Jalan yang melintas di antara dua tebing itu menciptakan sebuah celah strategis—tempat yang sangat memungkinkan digunakan untuk menghadang pergerakan pasukan yang melintas.

Dari penuturan sejumlah pelaku dan tokoh masyarakat, Kucel bahkan beberapa kali menjadi tempat penghadangan terhadap pasukan Belanda.

Selasa, 28 Juli 2026

Matahari Hijau dari Tjitrakusuma: Jejak Pandu Hizbul Wathan Tahun 1955

 

Matahari Hijau dari Tjitrakusuma: Jejak Pandu Hizbul Wathan Tahun 1955

Oleh: Toto Endargo 

Sebuah foto hitam putih yang telah berusia lebih dari tujuh puluh tahun masih tersimpan dengan baik (direstorasi dengan AI menjadi berwarna). Foto itu diambil pada tahun 1955 di Desa Tjitrakusuma, sebuah desa yang kini telah menjadi bagian dari Desa Mangunegara, Kecamatan Mrebet, Kabupaten Purbalingga.

Di dalam foto tampak barisan Pandu Hizbul Wathan (HW) yang berdiri dengan gagah. Seragam yang rapi, syal bergambar matahari hijau, bendera, serta genderang menjadi pemandangan yang istimewa pada zamannya. Bagi masyarakat pedesaan pada dekade 1950-an, perlengkapan semacam itu bukanlah sesuatu yang mudah dimiliki.

Mayoritas anak-anak dan pemuda yang tampak dalam foto tersebut berasal dari keluarga besar Arsa Wijaya, seorang lurah Tjitrakusuma pada masanya. Mereka tumbuh dalam lingkungan yang menjunjung pendidikan, pengabdian, dan kehidupan bermasyarakat.

Pandu Hizbul Wathan menjadi salah satu ruang belajar yang penting. Di sanalah anak-anak desa dikenalkan pada kedisiplinan, kepemimpinan, kerja sama, dan kecintaan kepada tanah air. Kehadiran Hizbul Wathan juga menunjukkan bahwa denyut gerakan Muhammadiyah telah menjangkau pelosok Purbalingga - Banyumas tidak lama setelah Indonesia merdeka.

Menariknya, para pemimpin pasukan dalam foto itu bukanlah tokoh-tokoh besar yang namanya tercatat dalam buku sejarah. Mereka adalah pelajar, sebagian telah berkeluarga, yang di sela-sela kesibukan menempuh pendidikan tetap meluangkan waktu untuk membina generasi yang lebih muda.

Kini, banyak wajah dalam foto tersebut telah berpulang. Desa Tjitrakusuma pun tak lagi berdiri sebagai satuan pemerintahan tersendiri. Namun, foto ini membuktikan bahwa sebuah desa kecil pernah memiliki mimpi yang besar.

Barangkali, sejarah memang tidak selalu hadir dalam gedung-gedung megah atau peristiwa-peristiwa besar. Kadang ia hadir dalam sebuah foto yang mulai memudar—tentang anak-anak desa yang berdiri tegak dengan syal bermatahari hijau di leher mereka.

Dan selama foto itu masih disimpan serta kisahnya terus diceritakan, Tjitrakusuma sesungguhnya tidak pernah hilang.

Rabu, 24 Juni 2026

Dari SLIS ke Bendung Slinga

 

Dari SLIS ke Bendung Slinga

Ketika Sungai Klawing Berubah dan Irigasi Harus Beradaptasi

Oleh: Toto Endargo

Selama lebih dari tujuh puluh tahun (1916 – 1992), SLIS menjadi penopang pertanian di wilayah Slinga dan sekitarnya. Namun seperti halnya alam yang terus berubah, Sungai Klawing pun mengalami proses yang tidak dapat dihentikan.

Sejarah Awal SLIS dan Kecerdasan Irigasi di Slinga

 


Sejarah Awal SLIS dan Kecerdasan Irigasi di Slinga

Ketika Air Klawing Menghidupi Sawah:

 Oleh: Toto Endargo

Di tengah kemegahan Bendung Slinga yang kini berdiri di tepi Sungai Klawing, tidak banyak yang mengetahui bahwa sejarah irigasi di wilayah ini sesungguhnya telah dimulai lebih dari satu abad yang lalu. Jauh sebelum bendung modern dibangun, para insinyur kolonial Belanda telah merancang sebuah sistem pengairan sederhana tetapi cerdas yang dikenal masyarakat sebagai SLIS.

Jumat, 29 Mei 2026

Jejak Jayengresmi dalam Babad Cahyana

 


Jejak Jayengresmi dalam Babad Cahyana

Membaca Kemiripan Kisah Serat Centhini dan Tradisi Syekh Jambukarang

Oleh: Toto Endargo

Dalam khazanah sastra Jawa, sering kali sebuah cerita tidak benar-benar lahir dari peristiwa yang sesungguhnya. Sebuah babad kadang tumbuh dari cerita yang lebih tua, lalu mengalami penyesuaian sesuai kebutuhan zaman, wilayah, maupun corak keyakinan masyarakat pendukungnya. Nama tokohnya berubah, tempatnya berganti, tetapi pola ceritanya tetap meninggalkan jejak.

Kemungkinan seperti itulah yang menarik ketika membaca kisah Raden Jayengresmi dalam Serat Centhini dan membandingkannya dengan kisah Pangeran Jambu Karang dalam Babad Cahyana. Dua cerita ini memiliki kemiripan yang terlalu rinci untuk sekadar disebut kebetulan biasa.

Bukan hanya sama-sama bercerita tentang tokoh sakti dan proses Islamisasi, tetapi bahkan urutan adegan, bentuk adu kesaktian, hingga simbol-simbol yang digunakan tampak hampir serupa.

Kamis, 17 Oktober 2019

BLATER DHUWUR

BLATER DHUWUR
Toto Endargo

   Blater adalah nama sebuah Desa di Kecamatan Kalimanah, Kabupaten Purbalingga. Desa subur yang dialiri oleh dua buah sungai yaitu Sungai Jompo dan Sungai Ponggawa. Blater adalah nama yang baik karena dalam Bahasa Jawa kata “blater” berarti “ramah”, juga diterjemahkan sebagai “pandai bergaul”. Jika nama adalah doa maka kata “blater” menjadi sebuah nama dan doa yang baik bagi wilayah dan masyarakat Blater. Sifat keblateran akan membawa masyarakatnya untuk dapat meningkatkan diri di pergaulan yang lebih luas, meningkatkan kemampuan sumber daya manusianya, tentu saja muaranya membawa kemajuan bagi masyarakat Desa Blater.

Selasa, 02 Mei 2017

MANGUNEGARA CITRAKUSUMA BANAWATI


MANGUNEGARA, CITRAKUSUMA, BANAWATI
Toto Endargo
---
Betapapun sederhananya cerita yang tersaji ini, setidaknya akan menjadi bacaan bagi para anak cucu di jaman milenial untuk mengenal asal-usul dirinya dan tanah yang telah melahirkan para nenek moyang mereka, Mangunegara, Citrakusuma dan Banawati.
---
Mangunegara, Citrakusuma, Banawati adalah nama-nama dusun yang berkaitan erat dengan keberadaan nama Desa Onje. Onje kini adalah nama sebuah desa. Desa istimewa karena punya kedudukan khusus dalam rentang perjalanan sejarah berdirinya Kabupaten Purbalingga. Dalam cerita Adipati Onje tersurat pula bahwa ada dua nama putra Adipati Anyakrapati yaitu Raden Mangunjaya dan Raden Cakrakesuma. Ada sebuah nama lagi yang jarang disebut yaitu Rara Banawati. Kini ketiga nama tersebut menjadi nama tiga dukuh, gerumbul dalam suatu wilayah desa.
Mangunjaya menjadi nama dukuh Mangunegara, sedang Cakrakesuma menjadi dukuh Citrakusuma, keduanya menjadi bagian dari Desa Mangunegara. Sedang Rara Banawati menjadi dukuh Banawati bagian dari desa Onje.
Berikut ini adalah cerita yang sempat terceritakan oleh Eyang Putri Dasiyem Wiryodiharjo di sekitar tahun 1966-an. Saya sering diceritani berbagai cerita dari yang berbentuk legenda, horor sampai dengan kisah yang beliau ketahui dan alami sendiri.

Kamis, 27 April 2017

KADIPATEN MESIR DI ONJE

Kadipaten Mesir di Onje
Toto Endargo

   
   Ada peribahasa atau ungkapan dalam bahasa Jawa bahwa  “desa mawa cara, negara mawa tata” yang artinya bahwa setiap desa, setiap negara mempunyai cara dan aturan masing-masing sesuai kondisi setempat. Kondisi suatu wilayah inilah yang menimbulkan cerita yang berbeda antara satu wilayah dengan wilayah yang lain.
Bagian dari cerita yang ada di Kabupaten Purbalingga adalah Desa Onje, Kecamatan Mrebet.  Desa yang menjadi sumber cerita cikal bakal para adipati di Kabupaten Purbalingga. Seperti umumnya sebuah desa tentu terdiri dari beberapa padukuhan. Dukuh atau sekarang secara umum disebut sebagai dusun. Beberapa nama dukuh di Onje adalah Dukuh Onje, Dukuh Pagendolan, Dukuh Mesir, Dukuh Pedhalangan, Dukuh Banawati dan Dukuh Kutabangsa.

Minggu, 04 Desember 2016

JALAN DAN MONUMEN A.W. SOEMARMO

JALAN DAN MONUMEN A.W. SOEMARMO
oleh: Toto Endargo

Jalan dan Monumen A.W. Soemarmo sebagai judul tulisan. Disini akan dibicarakan serba sedikit tentang jalan dan monumen yang mengambil nama A.W. Soemarmo. Semoga tulisan ini dapat menambah pengetahuan tentang salah satu tokoh Purbalingga yang bernama Soemarmo.

Di wilayah Dukuh Sayangan, atau wilayah Dukuh Serang, Kelurahan Purbalingga Lor ada patung knalpot, berdiri di tengah pertigaan. Jalan di depan patung knalpot itu, yang menjulur ke utara, yang menuju ke arah Bobotsari itulah Jalan A.W. Sumarmo.

Panjangnya cukup jauh, yaitu dari Patung Knalpot, wilayah Serang sampai ke batas kota, sekitar Sungai Kajar, menjelang masuk Desa Brobot.

Knalpot adalah salah satu komoditas atau produk potensial sub sektor perindustrian di Purbalingga. Jalan A.W. Soemarmo berada disekitar Kembaran Kulon, Sirongge, dan menjelang Desa Brobot. Siapakah A.W. Soemarmo? Kenapa diberi kehormatan menjadi nama jalan?

Rabu, 03 Agustus 2016

Curug dan Situs di Cipaku

Potensi Tempat Wisata

Wisata Air Terjun dan Situs Sejarah di Desa Cipaku
Toto Endargo

Pada masa liburan kita cenderung ingin berwisata. Ada tempat yang cukup mengesankan untuk mengisi hari libur, khususnya bagi remaja Purbalingga, tempat yang sejuk, teduh, dan berlatar belakang air. Ada beberapa tempat yang memiliki keunikan masing-masing dan berada pada satu jalur. Semua masih berada di wilayah Desa Cipaku, Kecamatan Mrebet, Purbalingga. Berminat?

Pertama.
Curug Nini. Kini air terjun nan sejuk ini disebut dengan sebutan yang keliru Curug Mini, menurut penduduk Cipaku, yang benar adalah “Curug Nini”. Air terjun pada sebuah kolam yang cukup luas, ada mata air besar di dasar tebing, sehingga kolam ini belum pernah kering. Tinggi air terjun hanya sekitar 10 meter, bagian dari hulu sungai Pingen. Air dibendung untuk irigasi. Berada di perbatasan Desa Pagerandong dan Desa Cipaku. Dapat ditempuh dari dua arah. Namun untuk kelancaran wisata selanjutnya sebaiknya ke Curug Nini lewat Pasar Karangnangka ke arah barat, sekitar tiga kilometer. Jika telah sampai di Balai Desa Cipaku, ada dua obyek yang cukup berdekatan. Lewat jalan tanah, kalau ke kanan, berarti ke Curug Nini, hanya sekitar 200 meter. Kolam Curug Nini dikelilingi banyak pohon pandan, dan di apit oleh bukit-bukit yang berpohon rindang. Tiap bukit terdapat jalan setapak yang berliku-liku. Pengunjung dapat bercengkerama di tengah dan di tepian sungai yang permukaannya kering. Bagi anak-anak bisa bermain air yang sejuk dan bening. Anak desa biasa terjun dari tebing curug ke kolam utama.

Senin, 29 Desember 2014

PERTEMPURAN DI BLATER

Pertempuran di Blater
Toto Endargo
Pro - Contra Linggarjati
Wim Schermerhorn - Lord Killear - Sutan Syahrir
   Perjanjian Linggarjati atau Perundingan Linggarjati atau ada yang menyebutnya Persetujuan Linggarjati isinya ternyata telah ditanggapi berbagai pihak dengan berbagai macam tafsiran. 
   Mengenai isi perjanjian tersebut, ada yang setuju dan ada yang tidak setuju. Beberapa partai yang mempunyai lasykar, pasukan pejuang bersenjata menyatakan bahwa perjanjian itu adalah bukti lemahnya pemerintahan Indonesia untuk mempertahankan kedaulatan Negara Indonesia. Sementara pemerintah menginginkan perjanjian ini harus disetujui dan dipatuhi.
Poster: Hindatkanlah Perang Saudara!
   Betapa memprihatinkannya keadaan saat itu hingga ada sebuah poster yang ditempel di Gedung Perundingan Linggarjati. Gedung yang berada di Desa Linggarjati, Kecamatan Cilimus, Kuningan dan terletak di kaki Gunung Ceremai. Bunyinya adalah himbauan agar rakyat Indonesia tetap tenang, tetap damai;  
"Samboetlah Naskah Persetoedjoean Dengan Tenang. Pro atau Contra, Tetap Bersatoe. Hindarkanlah Perang Saudara!"

Terbentuknya Tentara Nasional Indonesia
   Kontroversinya hasil Perundingan Linggarjati menjadikan Presiden RI pada tanggal 5 Mei 1947 membentuk satu panitia yang “untuk dalam waktu sesingkat-singkatnya mempersatukan Tentara Republik Indonesia dan Lasykar-lasykar menjadi satu organisasi tentara”. Beda tafsir terhadap isi Perundingan Linggarjati sangat dikhawatirkan masing-masing pihak akan mbalelo dan berjalan sendiri-sendiri. Bahkan bisa menjadi pemicu timbulnya perang saudara!

Minggu, 28 Desember 2014

JENAR BITHING BINTANG JASA

Jenar Bithing Bintang Jasa
Toto Endargo

   Tulisan ini sekedar catatan dari kisah yang termuat di dalam cerita yang melibatkan Purbalingga. Kadang ditulis dengan penuh kebanggaan karena menceritakan perjuangan bersenjata. 
   Ada tiga cerita yang terangkai dalam judul tulisan ini. Jenar Bithing Bintang Jasa. 
  1. Jenar dari kata Perang Jenar, yaitu perang yang terjadi di sekitar Sungai Bogowonto, Purworejo sekitar tahun 1749 - 1755. 
  2. Bithing dari kata Perang Bithing, perang yang terjadi sekitar tahun 1825-1830. 
  3. Bintang jasa adalah sebutan untuk medali penghargaan yang diberikan oleh Belanda kepada Bupati Purbalingga yang berkuasa tahun 1899- 1925. 

Jumat, 28 November 2014

TUGU PERJUANGAN DI BLATER

TOEGOE JOEANG BLATER
Toto Endargo, S.IP

Toegoe Joeang Blater - 20 September 2010
Toegoe Joeang Blater ini dulunya bersebelahan dengan rel kereta api. 
Stasiun Kandanggampang
 Rel dan kereta api adalah salah satu saksi bisu dahsyatnya perjuangan bangsa mencapai kemerdekaan. Tak terkecuali di Bumi Purbalingga.
Tahun 1980-an kita masih mengenal dan menikmati ujud nyata stasiun Purbalingga. Walau kereta api sudah tidak aktif maksimal namun masih dapat dilihat ujud lokomotifnya. Lokomotif mesin uap yang punya tungku, membawa kayu bakar untuk menjerang air di ketel yang berbentuk silinder.
Proses mesin uap adalah memanfaatkan tenaga dorong dari uap air. Uap air ditampung hingga bertenaga dan mampu mendorong piston atau seher pada mesin. Piston bergerak maju mundur. Gerak piston yang maju-mundur ini digunakan untuk menggerakkan engkel, semacam tungkai yang dapat kita lihat pada setiap lokomotif kuno di sisi kanan-kiri, gerak maju-mundur inilah yang digunakan untuk memutar roda kereta. Jadi hubungan piston dengan roda adalah secara harmonis mengkonversi mekanisme gerak maju-mundur menjadi gerak putar.