Kamis, 05 Juni 2025

Politik Dalam Pewayangan (12): Presiden – Semar Mbarang Jantur

Politik Dalam Pewayangan (12): Presiden – Semar Mbarang Jantur

Politik Dalam Pewayangan dan Kehidupan Nyata

Semar Mbarang Jantur

Semar adalah tokoh bijak dalam pewayangan yang mengasuh dan membimbing Arjuna layaknya anak kandungnya sendiri. Dalam suatu perjalanan, Arjuna terlibat pertarungan sengit dengan seorang raksasa hingga ia jatuh terkapar kelelahan. Untuk melanjutkan perjalanannya, Arjuna membutuhkan energi yang cukup, termasuk makanan sebagai penguat.

Politik Dalam Pewayangan (14): Dana Aspirasi – Aswatama Gasir

 Politik Dalam Pewayangan (13): Dana Aspirasi – Aswatama Gasir

Politik Dalam Pewayangan dan Kehidupan Nyata

Aswatama, di penghujung Perang Bharatayuda, menemui Duryudana yang dalam kondisi sekarat. Dalam keadaan kritis itu, Duryudana mengangkat Aswatama sebagai senapati perang yang baru. Dengan amarah membara dan dendam mendalam terhadap Drestajumena yang membunuh ayahnya, serta terhadap anak-anak Pandawa, Aswatama mencari cara membalas dendam tanpa harus menghadapi mereka secara langsung di medan perang. Dengan sumber daya terbatas dan hanya didampingi dua orang sekutu, ia memilih strategi yang tidak lazim.

Politik Dalam Pewayangan (14): Terbidik Lemah – Begawan Sempani Tewas

 

Politik Dalam Pewayangan (14): Terbidik Lemah – Begawan Sempani Tewas

Politik Dalam Pewayangan dan Kehidupan Nyata

Cerita Pewayangan

Begawan Sempani adalah seorang pertapa sakti yang memiliki kesaktian luar biasa. Ia mampu menghidupkan kembali anak angkatnya, Jayajatra, meskipun dalam kondisi telah tewas. Dengan kesaktiannya, Jayajatra yang telah mati tetap dapat bergerak seperti robot, kedua tangannya menggenggam keris dan pedang, menebas puluhan prajurit Pandawa.

Politik Dalam Pewayangan (15): Kebohongan dan Kepalsuan – Wisanggeni

 Politik Dalam Pewayangan (15): Kebohongan dan Kepalsuan – Wisanggeni

Politik Dalam Pewayangan dan Kehidupan Nyata

Cerita Pewayangan

Wisanggeni adalah tokoh pewayangan yang dikenal sebagai putra Arjuna dan Dewi Dresanala, putri Batara Brama. Sejak lahir, Wisanggeni sudah menunjukkan kecerdikan dan kesaktiannya yang luar biasa. Hal ini membuatnya sering disebut sebagai "dewa terakhir," karena bahkan para dewa di Kahyangan merasa segan terhadap kebijaksanaan dan kekuatannya.