Tampilkan postingan dengan label Bi-Caraku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Bi-Caraku. Tampilkan semua postingan

Rabu, 02 September 2026

Burisrawa dan Politik Pewarisan: Ketika Darah Tidak Otomatis Menjadi Takhta

 


Burisrawa dan Politik Pewarisan: Ketika Darah Tidak Otomatis Menjadi Takhta

Oleh: Toto Endargo 

Di dalam dunia wayang, rupa tidak pernah netral. Ia bukan sekadar bentuk tubuh, tetapi bahasa takdir. Tubuh besar, wajah keras, sorot mata menyala—semuanya adalah pesan tentang batin dan peran sosial. Maka ketika kita membaca kisah Burisrawa, kita sesungguhnya sedang membaca simbol tentang warisan dan batas kekuasaan.

Burisrawa adalah putra Prabu Salya dari Mandaraka. Namun dari garis ibu, ia membawa darah raksasa. Ibunya, Dewi Setyawati, adalah putri dari Bagaspati, seorang raksasa. Dari beberapa anak Prabu Salya, hanya Burisrawa yang mewarisi wujud raksasa itu. Saudara-saudaranya tidak.

Di sinilah lakon menjadi menarik.

Mengapa hanya satu yang berwujud raksasa? Mengapa bukan semuanya? Dalam logika biologis biasa, ini mungkin pertanyaan genetika. Tetapi dalam kosmologi Jawa, rupa bukan semata urusan darah. Ia adalah cermin kecenderungan batin dan garis fungsi.

Wayang mengajarkan bahwa keturunan bisa mewarisi “energi” tertentu dari leluhurnya. Energi itu tidak selalu tampak pada semua anak. Ia bisa muncul pada satu sosok yang secara batin paling selaras dengan sifat leluhur tersebut. Maka ketika Burisrawa tampil dengan tubuh raksasa, itu bukan sekadar warisan fisik, tetapi penegasan karakter: keras, agresif, penuh ambisi.

Ia bukan pewaris utama takhta Mandaraka. Ia bukan simbol stabilitas. Ia hadir sebagai energi gejolak.

Dalam dramaturgi wayang, setiap rupa memiliki fungsi politik. Raja berwajah halus melambangkan keseimbangan. Ksatria bertubuh ramping menandakan keluhuran. Raksasa adalah simbol kekuatan mentah, tekanan, bahkan ancaman. Ia diperlukan agar cerita bergerak.

Burisrawa sering digambarkan keras dan mudah tersulut. Ia berani, tetapi juga penuh dorongan kuasa. Dalam banyak lakon, ia berdiri berseberangan dengan para ksatria Pandawa dan Kresna. Tubuh raksasanya mempertegas posisi itu. Ia tidak dibangun sebagai pusat legitimasi, melainkan sebagai penguji legitimasi.

Di sinilah kita menemukan refleksi politik yang relevan.

Dalam kehidupan modern, pewarisan kekuasaan sering menjadi perbincangan. Nama keluarga bisa menjadi modal awal. Garis darah bisa membuka pintu. Lingkungan kekuasaan bisa membentuk temperamen. Namun, sebagaimana dalam lakon Burisrawa, warisan tidak otomatis menjadi takhta.

Burisrawa memiliki garis darah kuat: cucu raksasa, putra raja. Tetapi ia bukan simbol masa depan kerajaan. Ia tidak menjadi figur yang menerima wahyu kepemimpinan. Ia lebih sering hadir sebagai kekuatan yang menguji dan mengguncang.

Wayang seperti hendak berkata: darah memberi potensi, tetapi legitimasi menentukan arah.

Tidak semua yang lahir dari garis kuat akan memegang mahkota. Sebagian hadir sebagai energi konflik. Sebagian menjadi figur yang memperjelas siapa yang benar-benar ditakdirkan memimpin.

Menariknya, dalam keluarga Prabu Salya, hanya Burisrawa yang mewarisi wujud raksasa. Ini menunjukkan bahwa pewarisan dalam wayang tidak bersifat mekanis. Ia selektif, simbolik, bahkan dramatik. Satu anak bisa memikul energi leluhur, sementara yang lain berjalan dalam rupa berbeda.

Dalam politik modern, pola ini pun sering terlihat. Ada figur yang membawa temperamen kuat dari lingkungan keluarganya—keras, dominan, konfrontatif. Ada pula yang tumbuh lebih halus, lebih diplomatis, meski berasal dari rumah yang sama. Lingkungan membentuk, tetapi individu tetap menentukan pilihan.

Wayang tidak pernah mengajarkan determinisme mutlak. Bahkan tokoh dengan darah raksasa pun tetap memiliki ruang untuk memilih lakunya. Namun ketika ambisi lebih besar daripada kebijaksanaan, rupa raksasa menjadi metafora yang tepat.

Burisrawa bukan sekadar antagonis. Ia adalah simbol bahwa kekuasaan membutuhkan keseimbangan antara energi dan legitimasi. Energi tanpa legitimasi akan menjadi tekanan. Legitimasi tanpa energi akan menjadi lemah. Tetapi untuk menjadi pemimpin, seseorang membutuhkan keduanya dalam takaran yang tepat.

Dalam konteks itu, Burisrawa mengajarkan sesuatu yang halus: pewarisan adalah pintu masuk, bukan jaminan. Garis darah adalah bekal, bukan keputusan akhir. Sejarah keluarga bisa memberi nama, tetapi mandat lahir dari penerimaan dan kebijaksanaan.

Dan wahyu kepemimpinan, dalam bahasa wayang, tidak turun hanya karena silsilah.

Maka ketika kita membaca lakon Burisrawa, kita tidak sedang membaca kisah seorang raksasa semata. Kita sedang membaca refleksi tentang bagaimana warisan bekerja dalam politik dan budaya. Kita sedang diingatkan bahwa tidak semua pewaris ditakdirkan menjadi raja.

Sebagian memang hadir untuk mengguncang.
Sebagian untuk menguji.
Dan hanya sedikit yang benar-benar memegang arah.

Dalam dunia pewayangan maupun kehidupan modern, darah mungkin memberi bentuk.
Tetapi hanya kemapanan perilaku yang memberi legitimasi. ===

Sabtu, 01 Agustus 2026

Sebelum Menjadi SMP Negeri 2 Purbalingga



Sebelum Menjadi SMP Negeri 2 Purbalingga

Oleh: Toto Endargo

Kisah Pembelian Rumah dan Tanah Tahun 1957–1958

"Sebuah sekolah tidak lahir begitu saja. Sebelum terdengar bunyi bel pertama, sebelum ruang kelas dipenuhi murid, selalu ada cerita panjang yang mendahuluinya. Di Purbalingga, cerita itu tersimpan dalam dua lembar surat yang diketik dengan mesin tik hampir tujuh puluh tahun silam."

Di antara tumpukan arsip lama, terselip dua dokumen sederhana bertanggal 28 Juli 1957 dan 28 Juli 1958, tanggal sama beda tahun. Kertasnya telah menguning, tintanya mulai memudar, bahkan sebagian huruf nyaris tak terbaca. Namun justru dari lembaran-lembaran inilah tersingkap sebuah kisah penting: bagaimana lahan dan bangunan yang kelak menjadi SMP Negeri 2 Purbalingga diperoleh.

Selasa, 28 Juli 2026

Matahari Hijau dari Tjitrakusuma: Jejak Pandu Hizbul Wathan Tahun 1955

 

Matahari Hijau dari Tjitrakusuma: Jejak Pandu Hizbul Wathan Tahun 1955

Oleh: Toto Endargo 

Sebuah foto hitam putih yang telah berusia lebih dari tujuh puluh tahun masih tersimpan dengan baik (direstorasi dengan AI menjadi berwarna). Foto itu diambil pada tahun 1955 di Desa Tjitrakusuma, sebuah desa yang kini telah menjadi bagian dari Desa Mangunegara, Kecamatan Mrebet, Kabupaten Purbalingga.

Di dalam foto tampak barisan Pandu Hizbul Wathan (HW) yang berdiri dengan gagah. Seragam yang rapi, syal bergambar matahari hijau, bendera, serta genderang menjadi pemandangan yang istimewa pada zamannya. Bagi masyarakat pedesaan pada dekade 1950-an, perlengkapan semacam itu bukanlah sesuatu yang mudah dimiliki.

Mayoritas anak-anak dan pemuda yang tampak dalam foto tersebut berasal dari keluarga besar Arsa Wijaya, seorang lurah Tjitrakusuma pada masanya. Mereka tumbuh dalam lingkungan yang menjunjung pendidikan, pengabdian, dan kehidupan bermasyarakat.

Pandu Hizbul Wathan menjadi salah satu ruang belajar yang penting. Di sanalah anak-anak desa dikenalkan pada kedisiplinan, kepemimpinan, kerja sama, dan kecintaan kepada tanah air. Kehadiran Hizbul Wathan juga menunjukkan bahwa denyut gerakan Muhammadiyah telah menjangkau pelosok Purbalingga - Banyumas tidak lama setelah Indonesia merdeka.

Menariknya, para pemimpin pasukan dalam foto itu bukanlah tokoh-tokoh besar yang namanya tercatat dalam buku sejarah. Mereka adalah pelajar, sebagian telah berkeluarga, yang di sela-sela kesibukan menempuh pendidikan tetap meluangkan waktu untuk membina generasi yang lebih muda.

Kini, banyak wajah dalam foto tersebut telah berpulang. Desa Tjitrakusuma pun tak lagi berdiri sebagai satuan pemerintahan tersendiri. Namun, foto ini membuktikan bahwa sebuah desa kecil pernah memiliki mimpi yang besar.

Barangkali, sejarah memang tidak selalu hadir dalam gedung-gedung megah atau peristiwa-peristiwa besar. Kadang ia hadir dalam sebuah foto yang mulai memudar—tentang anak-anak desa yang berdiri tegak dengan syal bermatahari hijau di leher mereka.

Dan selama foto itu masih disimpan serta kisahnya terus diceritakan, Tjitrakusuma sesungguhnya tidak pernah hilang.

SK yang Melahirkan Tiga SMP Negeri di Purbalingga

 

Surat Keputusan ini berlaku mulai pada tanggal 1 Agustus 1964

- 

SK yang Melahirkan Tiga SMP Negeri di Purbalingga 

Oleh: Toto Endargo 

bahwa sebuah sekolah bukan hanya dibangun oleh tembok dan ruang kelas, tetapi juga oleh sebuah keputusan yang ditulis dengan mesin tik, dibubuhi stempel negara, dan diwariskan antar lintas generasi. 

Minggu, 13 Desember 2020

SEKILAS MITIGASI BENCANA

SEKILAS MITIGASI BENCANA
Toto Endargo, S.IP

Pelajaran dari Sekar Gambuh

Sekar gambuh ping catur
Kang cinatur polah kang kalantur
Tanpa tutur katula-tula katali
Kadaluwarsa katutur
Kapatuh pan dadi awon

   Bencana diibaratkan sebagai “polah kang kalantur”, polah yang keterlaluan, bencana dapat mengakibatkan banyak kerugian. Jika kita tidak segera membicarakannya, "tanpa tutur", maka kita akan “katula-tula katali”, berkepanjangan dalam penderitaan. Jika sampai kadaluwarsa atau terlambat mengurusnya maka pasti dapat berdampak buruk, sulit diperbaiki walaupun kita telah berupaya, "kapatuh pan dadi awon"! 

Rabu, 19 Februari 2020

DHANDHANGGULA – SEMUT IRENG

DHANDHANGGULA – SEMUT IRENG
Toto Endargo

Dinamika perilaku politikus saat bersaing berebut kekuasaan, akibat dan nasib pejabat jika sampai lupa diri dan mabuk kekuasaan.
===


Tembang Dhandhanggula – Semut Ireng adalah sebuah tembang yang memiliki lirik sangat memikat, membicarakan dunia politik praktis.
Penulis mengenal tembang ini saat kelas lima Sekolah Rakyat tahun 1967. Pak Gedhe Ayat Notohardjono sering melagukannya, dengan demikian saya bisa menirukan lagu dan hafal liriknya. Sebenarnya dalam hal nada dan lagu di lingkup macapat, seperti cengkok lagu Dhandhanggula ini, sudah ada pakemnya, seperti yang setiap kali diperdengarkan oleh Paklik Suwondo dengan lirik “Yogyanira”.
Rupanya Paklik Suwondo suka nembang dengan lirik tersebut karena di dalamnya ada nama Suwondo. Sebagai prajurit teladan. Liriknya sebagai berikut: