Senin, 23 Februari 2026

Jejak Ki Tepus Rumput dari Ponorogo ke Tegal

 

Jejak Ki Tepus Rumput dari Ponorogo ke Tegal

Oleh: Toto Endargo

“Bhatara Katong: Pendiri Ponorogo dan Warisan Keturunan”

Di tanah Wengker, Ponorogo, dahulu berdiri seorang adipati yang bijaksana bernama Bhatara Katong. Ia dikenal sebagai pendiri kadipaten Ponorogo, menata wilayah, rakyat, dan mengukuhkan hukum adat sekaligus awal penyebaran Islam.

Bhatara Katong memiliki cucu dan cicit yang kelak menjadi penguasa lokal setelahnya. Mereka meneruskan garis keturunan, menjaga hubungan dengan pusat kekuasaan Pajang, dan tetap menjaga stabilitas Ponorogo. Beberapa generasi dari keturunan ini menjadi murid Ki Ageng Kutu, tokoh tasawuf dan penyebar Islam di Ponorogo, sehingga pengaruh spiritual berjalan beriringan dengan legitimasi politik.

Di tengah generasi ini muncul seorang cucu yang menonjol: Ki Tepus Rumput, yang kelak menjadi tokoh penting dalam Babad Tegal dan Babad Onje. Ia mewarisi darah Bhatara Katong dan dididik oleh Ki Ageng Kutu dalam tasawuf dan kepemimpinan spiritual. Dari tradisi makam dan babad, ia dikenal bijak, saleh, dan memiliki kesadaran tinggi akan tanggung jawab sebagai pemimpin.

---

“Ki Tepus Rumput: Murid Ki Ageng Kutu, Sayembara Pajang, dan Pengabdian Politik”

Setelah menekuni ilmu tasawuf dari Ki Ageng Kutu, Ki Tepus Rumput menempuh ujian besar: mengikuti sayembara yang diselenggarakan Sultan Pajang, Hadiwijaya. Sayembara itu menguji keberanian, kecerdikan, dan kesalehan spiritual. Berhasil menunaikan tugas yang tidak mampu dilakukan abdi kerajaan lain, ia dianugerahi hadiah: tanah kekuasaan, gelar kehormatan, dan seorang istri bangsawan, yaitu putri Adipati Menoreh, yang saat itu sedang mengandung anak Sultan.

Melalui pernikahan ini, secara resmi putri Menoreh menjadi istri Ki Tepus Rumput setelah lahirnya Putra Hadiwijaya, menggabungkan legitimasi politik Pajang dan keturunan Bhatara Katong. Dari perkawinan itu lahirlah Raden Sebayu, yang kemudian menjadi penguasa baru di Tegal, meneruskan garis keturunan Ponorogo sekaligus aliran tasawuf dari Ki Ageng Kutu.

Raden Sebayu membuka wilayah baru, membangun masyarakat, dan menata pemerintahan lokal, sehingga lahirlah kota yang kelak dikenal sebagai Tegal, sebagai perpanjangan dari pengaruh Ponorogo dan garis spiritual Ki Ageng Kutu.

---

“Dari Wengker ke Pajang, dari Onje ke Tegal”

Orang-orang tua di Ponorogo dahulu berkisah: Di tanah Wengker, setelah masa Bathara Katong, garis keturunan adipati tidak pernah putus. Darah bangsawan mengalir bersama tanggung jawab menjaga negeri. Tetapi para leluhur tahu, kekuasaan saja tidak cukup. Maka anak-cucu mereka pun berguru kepada seorang ahli laku batin, seorang yang alim dan teguh dalam jalan sunyi: Ki Ageng Kutu.

Di padepokan yang teduh, di antara desir angin dan bau tanah basah, Ki Ageng Kutu mengajarkan zikir, sabar, dan laku tapa.

“Pemimpin,” katanya, “bukan hanya kuat pedangnya, tapi bening hatinya.”

Dari garis itulah lahir seorang yang kelak dikenal sebagai Ki Tepus Rumput. Ia masih cucu-cicit Bhatara Katong, tetapi lebih dikenal karena ketekunan semedinya. Rambutnya terurai tak terurus, pakaiannya sederhana, namun sorot matanya tajam dan tenang.

---

Pada masa itu, di Pajang, berkuasalah Hadiwijaya. Keraton tengah diliputi kegelisahan. Sebuah cincin pusaka penting kerajaan hilang di sumur tua yang dalam. Sultan mengumumkan sayembara: siapa yang mampu mengambil pusaka itu akan mendapat ganjaran besar.

Banyak prajurit mundur. Sumur itu gelap, berair dalam, dan diyakini berpenunggu. Ki Tepus Rumput datang dari timur, dari tanah yang jauh. Ia tidak datang membawa pasukan, hanya keyakinan dan doa. Ketika ditanya apa senjatanya, ia menjawab, “Zikir dan tawakal.”

Ia tidak turun ke dalam sumur. Orang-orang menahan napas. Hening. Ternyata Ia menggali sumur di sebelah jumbleng. Dibuatlah lubang penghubung dasar jumbleng dengan dasar sumurnya. Ketika lumpur meluncur ke sumur buatannya. Cincin pusaka di tangannya. Tak lama, ia muncul kembali dengan pusaka di tangan. Tidak basah kuyup seperti orang tenggelam, tidak gemetar seperti orang ketakutan. Ia menyerahkan cincin pusaka itu kepada Sultan dengan kepala menunduk. Sultan Pajang terdiam lama. Ia tahu, orang ini bukan sekadar pemberani. Ia memiliki laku bati dan lahir yang mumpuni.

Sebagai ganjaran, Sultan memberinya tanah dan gelar Ki Ageng Ore-ore. Lebih dari itu, Sultan menyerahkan seorang bangsawan perempuan: Putri Adipati Menoreh, yang saat itu sedang mengandung benih Sultan sendiri.

Namun Sultan berpesan: “Jagalah ia. Anak yang dikandungnya adalah darahku. Setelah lahir, ia menjadi tanggung jawabmu.” Ki Tepus Rumput menerima dengan takzim.

---

Di tanah Onje, di lereng Gunung Slamet, lahirlah seorang bayi lelaki. Anak itu dibesarkan dalam asuhan Ki Tepus Rumput, bukan sebagai anak rahasia, tetapi sebagai titipan kehormatan. Ketika dewasa, anak itu menghadap Sultan dan diberi pengakuan sebagai adipati. Dalam tradisi tutur, kelak ia dikenal sebagai Adipati Anyakrapati. Dari ayah asuhnya, ia mewarisi keteguhan batin dan ajaran tasawuf. Dari ibunya, ia membawa darah bangsawan. Dari garis Sultan, ia menerima legitimasi kepemimpinan.

---

Tahun berikutnya dari rahim Putri Menoreh di gerumbul Pagendholan, lahir bayi laki-laki, putra resmi Ki Tepus Rumput, diberi nama Sebayu. Orang-orang berkata, Sebayu tidak betah diam. Ia melihat ke utara, ke dataran luas yang dipenuhi padang rumput dan aliran sungai. Tanah itu subur, tetapi belum tertata. Ia membuka ladang. Ia membangun pemukiman. Ia menyatukan orang-orang dari berbagai penjuru. Tanah itu disebut Tetegual, tempat tegalan luas. Kelak orang menyebutnya: Tegal.

Di sana, Sebayu memimpin bukan dengan ketakutan, tetapi dengan kebijaksanaan. Ia memadukan tata pemerintahan warisan Ponorogo, legitimasi Pajang, dan laku spiritual yang ditanamkan Ki Tepus Rumput. Tegal dan Onje dalam waktu yang sama memiliki panutan yang sama Ki Tepus rumput dan Putri Menoreh.

---

Maka begitulah tutur orang tua:

·        Dari Ponorogo berdiri warisan Bhatara Katong.

·        Dari tasawuf Ki Ageng Kutu tumbuh kedalaman batin.

·        Dari sayembara Pajang lahir legitimasi politik.

·        Dari Putri menoreh lahirlah Anyakrapati Adipati Onje

·        Dari Onje tumbuh kadipaten baru.

·        Dan dari tangan Sebayu, berdirilah Tegal.

Bukan sekadar perpindahan tempat, melainkan perjalanan darah, doa, dan takdir.

---

“Sebayu di Tengah Runtuhnya Pajang dan Bangkitnya Mataram”

Waktu terus berjalan. Masa kejayaan Hadiwijaya di Pajang perlahan meredup. Setelah wafatnya Sultan, tanah Jawa kembali bergejolak. Para adipati saling menimbang kekuatan. Di barat, di pedalaman, bangkit kekuatan baru dari Mataram di bawah Sutawijaya.

Di utara, di tanah tegalan yang telah dibuka dan ditata, berdirilah pemerintahan yang dirintis oleh Ki Gede Sebayu. Sebayu bukan hanya pewaris darah bangsawan Menoreh dan garis Ponorogo. Ia adalah hasil tempaan zaman: dididik dalam spiritualitas Ki Tepus Rumput, mengerti tata kekuasaan warisan Pajang, dan memahami bahwa politik Jawa selalu bergerak seperti ombak.

---

Orang-orang bertanya kepadanya:

“Ke mana Tegal akan berpihak? Pajang yang melemah, atau Mataram yang sedang tumbuh?”

Sebayu tidak tergesa menjawab. Ia tahu, kekuasaan bukan sekadar soal kesetiaan, tetapi soal kelangsungan rakyat. Ia memilih langkah yang sering diambil para adipati bijak Jawa: menjaga stabilitas, menahan diri, dan membaca arah angin sejarah.

Dalam tradisi tutur, Sebayu digambarkan tidak terlibat langsung dalam perang besar. Ia menjaga Tegal tetap aman, ladang tetap ditanami, pelabuhan kecil tetap hidup oleh perdagangan pesisir. Ketika Mataram semakin kuat dan Pajang runtuh, Tegal tidak hancur, ia bertransformasi. Dan di situlah kebesaran Sebayu terlihat. Ia bukan penakluk wilayah. Ia bukan panglima perang besar. Ia adalah penjaga kesinambungan.

---

Sementara itu, di tanah barat daya, Onje dan sekitarnya, nama Ki Tepus Rumput tetap dikenang sebagai pertapa dan Anyakrapati yang menjadi penguasa tanpa kehilangan laku spiritualnya. Di Ponorogo, garis Bathara Katong tetap disebut sebagai akar.

Maka dalam satu garis panjang sejarah tutur, orang Jawa melihat jalinan ini:

·        Bhatara Katong menjadi fondasi Ponorogo

·        Ki Ageng Kutu memberikan kedalaman spiritual

·        Ki Tepus Rumput menjadi jembatan Pajang dan timur Jawa

·        Anyakrapti menjadi penguasa Kadipaten Onje

·        Sebayu menjadi pendiri dan penata Tegal

Peralihan dari Pajang ke Mataram bagian dari ujian politik generasi penerus

---

Pada akhirnya, kisah ini bukan hanya tentang berdirinya Tegal. Ia adalah cerita tentang bagaimana kekuasaan diwariskan bukan hanya lewat darah, tetapi lewat laku dan kebijaksanaan. Dari Wengker ke Onje, dari Pajang ke pesisir utara, mengalir satu pesan yang sering diulang para sesepuh:

“Negeri bisa berganti raja, tapi pemimpin sejati menjaga rakyatnya, apa pun zaman yang datang.”

Dan di situlah serial ini berakhir, bukan dengan perang besar, melainkan dengan kesinambungan.

Tamat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar