Selasa, 09 Oktober 2012

Bukit Berbunga

Cerita Remaja

BUKIT BERBUNGA
Toto Endargo

Ini kisah yang terjadi pada awal tahun 1992.
Kemanjaan anak perempuan kadang membuat repot orang lain. Adalah si Noni, saat sore menjelang senja minta sate ayam. Repot! Uang bukan masalah, masalahnya justru karena penjual sate ayam ada di tengah kota.
“Armand” panggil Pak Supono kepada anaknya yang gantheng, tiru bapaknya.
“Dalem, Pak” jawab Armand sopan. Bapaknya memberinya uang lima ribu rupiah. Armand menerima dengan enggan.
“Mesti disuruh! Disuruh apalagi sore-sore begini?” gerutunya dalam hati.
“Adikmu, Noni, minta sate ayam. Tolong dibelikan! Beli tiga puluh sindik!” perintah bapaknya.
“Nggih Pak!” jawabnya. 
Tapi di hati ia berkata, “Awas, Noni! Gara-gara kamu saya jadi gentayangan, sepedahan ke tengah kota” Gerutunya.
Dengan rasa enggan jam empat seperempat sore dia mengayuh sepeda ke tengah kota.

Nama Lawet


NAMA LAWET

Kali ini berceritera sedikit, berhubungan dengan nama Lawet.
Di sekitar Pendapa Kabupaten Purbalingga ada hal yang menggunakan nama Lawet. Radio Ardi Lawet FM, dengan frekuensi 96.4 MHz. Tepatnya di Jalan Jambu Karang 6, RT 06/04 Purbalingga Lor. Ada pula Gedung Pertemuan Ardi Lawet, letaknya di depan Pendapa Kabupaten. Didesain sedemian rupa, tempat duduk bertingkat, nyaman untuk presentasi, pas untuk sekedar mutar film.

Upacara Khidmat


Upacara Khidmat
Toto Endargo

Tahun 1972-an. Adalah SMP Negeri 2 Purbalingga. Dengan seragam asli warna abu-abu muda, atas putih, mirip seragam anak SLTA sekarang, --(barangkali seragam SLTA sekarang memang meniru seragam SMP Negeri 2 Purbalingga dulu ya) -- dan dasinya hitam. Postur tubuh pelajar di tahun 1972 sudah tinggi atau besar. Maklumlah saat itu untuk masuk SD minimal tujuh tahun. Jadi ketika SMP usianya sekitar umur 14 – 18 tahun. Setara anak SMA jaman sekarang, karena kelas satu SD sekarang kan ada yang baru berumur 5 atau 6 tahun.

Mahesa Jenar

Geloras Mahesa Jenar
Toto Endargo

   Purbalingga memiliki Gelanggang Olahraga dan Seni, dengan nama Mahesa Jenar. Terletak di Jalan Wirasaba No. 4 Purbalingga. Di gedung ini pula Sekretariat Bersama Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) berkantor. Umum mengetahui bahwa Mahesa Jenar adalah julukan untuk kesebelasan PSIS Semarang. Siapa sie Mahesa Jenar? 
   
Ini sedikit ceriteranya.
   Mahesa Jenar adalah sosok khayal yang namanya pernah begitu populer, khususnya di Jawa Tengah dan Yogyakarta. Mahesa Jenar adalah pendekar dalam cerita Nagasasra-Sabuk Inten. Dahulu dibaca oleh segala kalangan. Ceriteranya bernuansa Jawa namun ia menyentuh imajinasi rakyat tak kenal batas. Ketika dijadikan sebagai sandiwara radio maka semakin menyentuh. Siapa saja disentuhnya. Dulu setiap truk akan menuliskan salah satu tokoh cerita pada baknya. Karya ceritera Nagasasra-Sabuk Inten kadang dinilai sebagai karya sastra yang tidak “mutu” namun pencapaiannya ternyata sulit untuk ditandingi oleh novel lain.

Pesan Gesang

Pesan Gesang
Toto Endargo


Ketika kecil saya sudah mendengar lagu Bengawan Solo, ciptaan Gesang, yang berceritera tentang sungai besar yang airnya mengalir sampai jauh, dan akhirnya ke laut. Mengesankan.
Ada satu lagu dari Gesang yang bertema perjuangan yang juga sangat mengesankan. Di samping lagunya, tentu saja liriknya. Walau lagu ini tidak seterkenal Luntur atau Pamitan, namun menurut saya lagu dengan judul Dongengan ini tak kalah bagusnya dengan kedua lagu tersebut. Berirama keroncong Jawa yang lembut, merayu, merasuk dan mendayu. 
Gesang sesungguhnya tidak sekedar mendongeng, tapi benar-benar berceritera. Bahkan kritik yang berbingkai pesan.

Puasa Kecil

Puasa Kecil
Toto Endargo

Ini ceritera tahun 1965-an di saat bulan puasa. Menjadi sangat berkesan karena beberapa hal yang sulit untuk diulang.
Suasana bulan puasa tahun 1965-an dengan tahun 2010 sangat jauh berbeda. 
Tulisan ini dimaksudkan untuk menjadi sekedar catatan kecil suasana bulan ramadhan sekitar 45 tahun yang lalu.

Libur Sekolah
Anak SR atau SD di bulan puasa libur sekitar 40 hari. Bahkan rasanya dulu sekolah itu sering libur. Ada kata-kata catur wulan, barangkali saat itu ada liburan catur wulan juga. Kalau bulan Desember dan bulan Puasa, pasti libur panjang. Libur panjang digunakan untuk bermain-main. Saya kadang sampai bosan karena terlalu lama libur sekolah.

Milik Drona


Milik Drona
Toto Endargo

Akibat kecenderungan wayang Banyumas yang menilai bahwa Pendita Drona adalah tokoh yang kurang baik, situs purba pun diambil sebagai bahan untuk mendiskreditkan tokoh tersebut. Inilah ceriteranya.
Tersebutlah dahulu kala ketika Sungai Serayu dan Sungai Klawing belum berwujud. Tlatah Banyumas masih berupa hutan belantara. Namun demikian saat itu para Pandawa dan Kurawa sudah bermukim, dan kedua kubu setiap kali bersitegang, berebut pengaruh dan kemenangan.

RENANG LAGI

Cerita Remaja
RENANG LAGI
oleh Toto Endargo 
pada 25 Mei 2011 
pukul 10:44


SMP Negeri 2 Purbalingga. Tahun 1987. Pukul 13.30.
Kegiatan renang di Kolam Renang Tirto Asri, Walik, Kutasari.
Berangkatnya dari sekolahan naik colt angkutan penumpang. Kalau sekarang disebut colt cowak. Pintunya satu di belakang. Duduknya berhadap-hadapan. Satu colt bisa mengangkut lima belas sampai dua puluh siswa, berjubel. Baunya khas anak-anak sekolah. Membawa tas isi baju ganti.
Siswa yang rumahnya dekat sebelum berangkat bisa pulang terlebih dahulu. Kali ini Budi walau tergesa-gesa mencoba pulang terlebih dulu. Mengambil pakaian renang.

Ayam Sakti


Ayam Sakti
oleh Toto Endargo pada 9 Juli 2011 pukul 11:33


Dalam beberapa cerita, ada beberapa tokoh yang memiliki ayam sakti, misalnya Cindelaras dan Kamandaka. Keduanya memiliki ayam aduan yang sakti, ayam yang selalu menang dalam kejuaraan di berbagai belahan pulau.
Sesungguhnya bagian manakah yang membuat seekor ayam menjadi sakti? Itulah masalah yang sampai kini belum ada peneliti yang dengan sengaja menelitinya.

Blendos dan Dhogol (4)

Dongeng kecil
Ceritera ini dimaksudkan hanya untuk catatan.

Blendos dan Dhogol (4)
oleh Toto Endargo, 30 April 2011 pukul 7:21


Ketika tanggal sebelas Jawa, bulan bersinar menerangi bumi. Blendos dan Dhogol ada di pojok desa, di bawah pohon Waru. Menikmati sinar bulan yang jatuh di pesawahan. Burung-burung kecil yang tidur di ranting Waru menjatuhkan benda lembek ke kepala Blendos. 
Blendos bersungut-sungut dan mengumpat. Seperti Newton yang kejatuhan buah apel lalu menemukan konsep cemerlang, grafitasi. Blendos pun segera punya ide cemerlang.
“Gol, ko ngerti ora? Umahe Kaji Atang toli kosong?” kata Blendos mulai berencana.
“Kosong kenang apa?” tanya Dhogol sedikit tidak percaya.
“Pak Kaji agi lunga, tilik Mas Hada!”
“Lombo!”
“Loh, temenan qoh!”
“Angger temenan, arep ngapa?”
“Lah jen, qo bodho banget loh!” sungut Blendhos. Sejenak kemudian ia berkata, “Gol, manjuh! Umahe Pak Kaji detiliki, yuh! Mumpung agi suwung, angger nemu dhuwit utawa apa, toli nyong karo qo dadi begja!” ajak Blendhos merayu Dhogol agar mau menjadi ‘tamu tak diundang’. Tujuh menit kemudian, akhirnya Doghol bersedia menemani Blendos ke rumah Pak Haji Atang!